'manusia hidup bukan dari roti saja…'

Tabut Allah dibuat pada jaman Musa dengan penuh ketepatan dan ketaatan pada Tuhan,

Tabut Allah di jaman Iman Eli diiringi oleh Hofni dan Pinehas yang hidup dalam kubangan dosa keserakahan dan perzinahan, menganggap Tabut Allah sebagai jimat yang sakti, mereka salah total, sekalipun Tabut Allah didatangkan mereka tetap kalah melawan Filistin, karna tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk menolong, tetapi dosa menjadi penghalang.

Orang Filistin menaruh Tabut Allah di kuil Dagon, mereka mencoba menyamakan Tabut Allah yang adalah lambang dari kehadiran Allah sendiri, ya tidak heranlah kalau di keesokan harinya mereka melihat patung dagon jatuh termutilasi, ha ha ha, Tabut Perjanjian itu ternyata tidak bisa disejajarkan degan dewa-dewa buatan tangan manusia. Tabut Allah akhirnya berpindah tangan dari satu daerah di Filistin ke daerah lain. Mereka pikir, jimat miliki orang Israel yang sangat terkenal di peristiwa Yordan dan Yerikho di zaman Yoshua itu kini menjadi jimat mereka, dan mereka salah, yang benar adalah Tabut Allah itu bukan jimat. Alhasil tangan Tuhan dengan kuat menekan mereka, dengan sakit penyakit atas bangsa Filistin.

Daripada mempertahankan pikiran mereka yang ternyata salah itu, akhirnya Tabut Allah itu pun dikembalikan ke orang Israel, menggunakan kereta yang ditarik lembu, dengan ajaib lembu itu tidak menyimpang. Demi melihat Tabut Allah itu orang-orang Bet Semes bersukacita. Tapi orang-orang Israel yang di Bet Semes itu sembrono, memperlakukan Tabut Allah sebagai ‘mainan’, dengan sembrono mereka membuka tutupnya dan melihat-lihat dengan penuh penasaran , apa yang ada di dalamnya, alhasil banyak dari penduduk itu yang mati…Orang-orang Bet Semes terlalu girang sampai-sampai kehilangan kesopanan mereka terhadap lambang daripada Hadirat Tuhan itu sendiri.

Tabut Allah pun dipindahkan ke rumah Abinadab dan lama sekali tabut Allah ada di sana, setidaknya 20 tahun.

Saul menjadi raja dan tidak memperdulikan kehadiran Tabut Allah itu di negri Israel. Tidak ada yang istimewa apa-apa yang terjadi atas Saul dan Israel. Begitulah kalau kita acuh-tak acuh terhadap hadirat Tuhan, tidak akan alami apa-apa.

Tabut Allah akhirnya dipindahkan oleh Daud ke Yerusalem, dengan cara dinaikkan ke kereta yang baru, karna para lembu tergelincir, Uza mengulurkan tangannya menyentuh tabut itu, Tuhan menyambar Uza dan Uza pun mati di samping tabut Allah itu. Uza anak Abinadab sudah terbiasa dengan tabut Allah yang setidaknya sudah ada di rumahnya selama 20 tahun. Saking biasanya dia melihat kehadiran Tabut Allah itu, dia melupakan kekudusan hadirat Tuhan di tengah-tengah umat-Nya.

Daud serta merta menjadi trauma…wah ternyata untuk membawa tabut Allah tidak bisa sembarangan. Daud pun mengurungkan niatnya untuk membawa tabut Allah ke Yerusalem, dan dia pun menyimpangkan Tabut Allah itu ke rumah Obed Edom.

Obed Edom pribadi yang cinta hadirat Tuhan, memperlakukan tabut Allah itu dengan tepat, dan hadirat Tuhan di rumahnya mendatangkan berkat yang luar biasa untuk keluarganya dan untuk seisi rumahnya. Berita berkat itu sampai ke telinga Daud. Daud pun mengalami yang namanya ‘kecemburuan ilahi’. Waaaah wah wah…ternyata Tabut Allah itu bisa mendatangkan berkat ..ow ow..karna Tabut Allah itu membawa kehadiran Allah sendiri.

Daud pun koreksi diri, ia sadar cara-caranya dulu adalah cara yang kafir, pakai kereta, pakai lembu, padahal Tabut Allah itu harusnya diusung dengan tangan manusia, yaitu para Lewi dan Imam yang telah menguduskan diri. Hadirat Allah itu bukannya bisa dihadirkan dengan alat, semisal keyboard, soundsystem, LCD, alat musik canggih, oh oh oh sama sekali bukan, hadirat Allah itu harus kita USUNG, harus manusia yang mengusungnya di atas bahunya.  Yaitu hati yang menyembah, hati yang rendah hati, hati yang bersyukur, hati yang dikuduskan, hati yang dibenarkan, hati yang dipersembahkan …

Daud pun bersiap diri, kini dia pakai cara yang tepat, dia mempersiapkan imam dan Lewi yang telah menguduskan diri untuk pelayanan ini, bahkan dia sendiri melepas baju kebesarannya sebagai seorang raja dan menggantinya dengan baju Efod dan lenan halus…tentunya Daud pun turut menguduskan diri, dia pun mempersiapkan persembahan yang gia-gilaan, yaitu setiap enam langkah tabut itu berjalan, akan disembelih lembu dan anak lembu gemukan. Pengorbanan yang besar-besaran, dan Daud pun menari-nari seperti yang terjadi pada pengangkutan tabut Allah yang sebelumnya…dikatakan menari-nari dengan sekuat tenaga. Itulah penyembahan yang Tuhan mau, dengan korban, dan dengan sekuat tenaga, all out untuk Tuhan, the best yang untuk Tuhan, dan dengan cara yang Tuhan mau. Jangan ikut cara kafir/ Filistin yang mengandalkan kereta mereka.

Daud pun mempersiapkan tenda/kemah Daud yang khusus dipersiapkan untuk kehadiran tabut Allah itu. Itulah tanah hati kita, seperti kemah tempat kediaman Hadirat Tuhan atas hidup kita. Kemah Daud itu benar-benar beda dengan Kemah tabernakel Musa. Saat jaman Musa, hanya imam besar yang boleh masuk ke ruang maha Kudus untuk berada di ruangan yang ada tabut Allah-nya, tetapi di kemah Daud, siapa saja boleh masuk dan mempersembahkan pujian penyembahan sebagai korban syukur, bahkan ada petugas ibadah yang 24 jam memuji Tuhan di kemah yang tidak terbagi-bagi ruangannya itu. Itulah perlambang dari pengorbanan Yesus di kayu salib yang menghapuskan dari hidup kita acara potong domba, karna Dialah Domba yang disembelih itu sehingga tabir bait Allah pun terbelah saat Dia disalibkan.

Bagaimana dengan kita, apakah Tabut Allah akan kita perlakukan seperti:

-Musa yang selalu setia dalam segenap rumah-Nya?

-Hofni dan Pinehas yang hidup dalam kemunafikan?

-Orang Filistin yang memperlakukan Tabut Allah itu tak beda dengan dewa mereka?

-Orang Bet Semes yang kegirangan tapi juga kelewatan?

-Saul yang acuh tak acuh terhadap Tabut Allah itu?

-Uza yang memperlakukan Tabut Allah itu sebagai yang terlalu biasa?

-Obed Edom yang mencintai Hadirat Tuhan itu dalam hidupnya?

-Daud yang memakai ‘alat’ dan menganggap itu adalah cara yang paling tepat?

-Daud yang menyadari kesalahannya dan memperbaharui cara-cara ibadahnya dengan cara yang Tuhan mau?

-Daud yang menempatkan tabut Allah itu di Yerusalem, di pusat pemerintahannya, di dekat istananya bahkan menyiapkan tempat khusus di sebuah kemah Daud?

– Daud yang mengatur sehingga 24 jam akan ada terus puji-pujian sebagai korban syukur yang tiada henti di hadapan tabut Allah itu?

– Rhema saat mempersiapan materi sekolah minggu. Thanks GOD!!

NB; anda bisa jadikan materi ini sebagai renungan pada para pemusik, anggota paduan suara, WL dan singer.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: