'manusia hidup bukan dari roti saja…'

ADA APA DENGAN BAGIAN PAHA

PADA KORBAN KESELAMATAN?

 

Imamat 7: 28-38

Paha kanannya harus kamu serahkan kepada imam sebagai persembahan khusus dari segala korban keselamatanmu.

Paha kanan di sini adalah paha dari Lembu Jantan atau Lembu Betina, Kambing Domba jantan atau betina ( korban keselamatan= Imamat 7: 29, 3: 1, 6, 12)

Sebenarnya ada dua hal di sini yang ingin kita bahas, yaitu BAGIAN DADA SEBAGAI PERSEMBAHAN UNJUKAN, dan BAGIAN PAHA SEBAGAI PERSEMBAHAN KHUSUS dari KORBAN KESELAMATAN ini.

Tetapi mengingat waktu saya untuk menyelidiki cukup terbatas, jadi kita hanya bahas BAGIAN PAHA SEBAGAI PERSEMBAHAN KHUSUS dari KORBAN KESELAMATAN ini, sedangkan bagian dada sebagai persembahan unjukan  kita bahas lain kali.

( saat ini pembahasan tentang BAGIAN DADA telah selesai saya selidiki, dapat anda buka pada tautan ini:

RAHASIA DI BALIK BATU PERMATA PADA TUTUP DADA BAJU EFOD

HANCUR LULUH DI DALAM DADAKU   )

 

Mengapa harus bagian PAHA? Paha lembu, paha kambing, paha domba?

Dan mengapa dari Korban keselamatan itu, bagian PAHA ini dikatakan sebagai BAGIAN KHUSUS?

Inilah yang menggelitik hati saya dan inilah hasil penyelidikan kita bersama:

(untuk itu saya dorong anda memastikan Alkitab ada di depan anda dan buka setiap ayat pendukungnya, sehingga dapat dikatakan KITA menyelidiki BERSAMA- terkadang penomoran ayat di Alkitab kita berbeda dengan nara sumber saya Alkitab Sabda- karna penyesuaian dengan penomoran dari Alkitab Bhs Inggris- harap membaca ayat sebelum atau sesudah)

Pangkal paha melambangkan kekuatan seseorang

  1. Untuk mengalahkan Yakub, dalam pergulatan antara Yakub dan Tuhan, Tuhan memukul sendi pangkal paha Yakub- LAMBANG KEKUATAN SESEORANG ( Kejadian 32: 25), dalam peristiwa ini, nama Yakub ( si penipu) diganti menjadi Israel ( Allah Menang, Pangeran Allah)

Kemenangan yang diperoleh dengan cara menipu, kini diganti dengan kemenangan yang diperoleh dengan cara mengandalkan Tuhan. Sejak peristiwa itu Yakub berjalan dengan pincang, dan sejak saat itu bangsa Israel tidak memakan daging yang menutupi sendi pangkal paha.

Hal ini memberi kita kesimpulan, bahwa dengan memukul sendi pangkal paha Yakub, Tuhan ingin MEMATAHKAN sifat Yakub yang sering mengandalkan kecerdikannya sendiri, akalnya sendiri,kelicikannya sendiri,  kekuatannya sendiri, dan Tuhan ingin Yakub memulai era Israel, dimana dia mulai mengandalkan kemenangan yang dari Allah.

2. Oleh karna itu saat Raja Belsyazar diliputi ketakutan saat melihat jari tangan manusia menulis pada kapur dinding istana, dikatakan di Alkitab dalam Daniel 5: 6, raja menjadi PUCAT, DAN PIKIRAN-PIKIRANNYA MENGGELISAHKAN DIA, SENDI-SENDI PANGKAL PAHANYA MENJADI LEMAS, LUTUTNYA BERANTUKAN.

Hal ini menyimpulkan, bahwa saat kekuatan seseorang hilang, kecemasan dan ketakutan melanda seseorang, yang terjadi adalah mempengaruhi kekuatan fisiknya pada SENDI-SENDI PANGKAL PAHA, sehingga orang yang ketakutan, akan mengalami lutut yang bergemetaran.

 3.       Kekuatan kuda Nil juga ditunjukkan dengan otot otot pahanya yang berjalin jalinan ( Ayub 40: 10-14, 18. Kuda Nil adalah yang pertama dibuat Allah (Ayub 40: 14), dan paha yang kuat ini menyebabkan Kuda Nil tidak gentar saat arus sungai sangat kuat, ia tetap tenang saat ada banjir (Ayub 40: 18)

MAKNA ROHANI DARI PAHA SEBAGAI LAMBANG KEKUATAN

Perhatikan di sini:  (baca : Yohanes 19: 32, 33) bahwa saat Yesus di salib, tulang kaki-Nya  tidak dipatahkan seperti penjahat yang disalibkan di sebelah  kanan-Nya dan di kiri-Nya.

( tentunya tulang yang dipatahkan di sini bukan tulang pergelangan kaki, apalagi tulang jari kaki, tetapi tentunya tulang yang di lutut/ tulang PANGKAL PAHA)

Mengapa hal ini terjadi? Karna kedua penjahat lainnya itu belum mati, sehingga kaki mereka harus dipatahkan, sedangkan Yesus sudah mati, jadi mereka tidak perlu lagi mematahkan kaki-Nya.

Yesus mati BUKAN DENGAN CARA DIPATAHKAN KAKI-NYA ( kaki sebagai lambang kekuatan), jadi bukan cara – dihancurkan kekuatan-Nya

tetapi dengan cara MENYERAHKAN NYAWANYA (Matius 27:50) , yaitu dengan cara Dia merelakan diri-Nya untuk mati.

Dia menyerahkan nyawa-Nya bukan karna kekuatan-Nya habis atau kekuatan-Nya dirampas dari-Nya, tetapi karna Dia menyerahkan nyawa-Nya.

Peristiwa tidak patahnya tulang-Nya saat penyalipan ini memang sudah dinubuatkan oleh Daud, dan ditulis di Mazmur 34:21 serta dikutib ulang oleh penulis kitab Yohanes dalam Yohanes 19:36

Hal ini diteguhkan dengan PERAYAAN PASKAH, keluarnya bangsa Israel dari tanah Mesir, di mana dalam tata cara Paskah, bangsa Israel tidak boleh mematahkan satu pun dari tulang-tulang daripada kambing atau domba paskah itu (Keluaran 12:46, Bilangan 9:12)

Oleh karna tulang PANGKAL PAHA-NYA tidak dipatahkan, kematian Yesus di kayu salib, dan -kebangkitan-Nya justru menjadi sebuah KEKUATAN untuk mengalahkan MAUT ( I Korintus 15: 55-57)

Mazmur 60:14 dan Mazmur 108: 14

Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita.

Tentunya kegiatan menginjak-injak hanya dapat dilakukan oleh kaki yang tulang pangkal pahanya tidak patah, melainkan utuh.

MAKNA ROHANI DARI PAHA SEBAGAI LAMBANG KEMENANGAN

PAHA KANAN juga menyimpan sejarah kemenangan EHUD

4. Ehud adalah seorang hakim Israel , dia adalah seorang yang kidal. Saat itu Israel dijajah oleh Eglon, raja Moab. Ehud membunuh Eglon, raja Moab, dengan menyembunyikan PEDANG BERMATA DUA pada pangkal paha kanannya. Panjang pedang itu hampir sehasta ( hampir 45 cm), bisa diperkirakan hampir 45 cm adalah 40 cm, dan itu pas dengan ukuran panjang paha orang dewasa.

Dan kuasa kemenangan-Nya  ( Mazmur 60:14, dan Mazmur 108:14)

itu diberikan-Nya kepada kita,  orang percaya:

Lukas 10:19

Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular  dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu.

Tentunya kegiatan menginjak-injak hanya dapat dilakukan oleh kaki yang tulang pangkal pahanya tidak patah, melainkan utuh.

Paha juga merupakan Lambang Sumpah/ Nazar

5. PAHA YANG MENGEMPIS dan perut yang mengembung menjadi salah satu TANDA KUTUK atas perempuan yang berzinah, setelah perempuan itu melakukan SUMPAH KUTUK. Bilangan 5:11-31

6. Meletakkan tangan di bawah PANGKAL PAHA  juga merupakan simbol SUMPAH

Hal ini dilakukan oleh Abraham, saat ia menyuruh hambanya yang paling tua untuk meletakkan tangan di bawah PANGKAL PAHA-nya untuk mengambil sumpah dari hamba itu. ( Kej 24: 2-3, 9)

Yakub juga melakukan hal ini, ia meminta Yusuf meletakkan tangannya di BAWAH PANGKAL PAHANYA, untuk bersumpah mengenai penguburan dirinya. (Kejadian 47: 29)

7. Paha depan domba jantan, juga harus diletakkan di atas telapak tangan orang NAZIR, sehingga dia boleh menckur rambut kenazirannya, dan setelah imam mengunjukkan ke hadapan Tuhan sebagai persembahan unjukan, si orang nazir itu baru boleh minum anggur lagi.

MAKNA ROHANI DARI PAHA SEBAGAI LAMBANG SUMPAH/NAZAR

Apa yang menjadi nazar Yesus kepada Bapa?

Mazmur 40:7-9

Engkau tidak berkenan kepada korban sembelihan dan korban sajian,

tetapi Engkau telah membuka telingaku;

korban bakaran dan korban penghapus dosa tidak Engkau tuntut.

Lalu aku berkata:

Sungguh, aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang aku;

aku suka melakukan kehendak-Mu ,ya Allahku;Taurat-Mu ada dalam dadaku.”

 

Dalam bahasa aslinya, kata SUNGGUH, mengandung arti juga INGATLAH

Dan kata AKU DATANG, mengandung arti PASTI AKAN DATANG, DIGENAPI, PASTI TERJADI

Pengorbanan Yesus di kayu salib, adalah nazar Yesus kepada Bapa.

Oleh karna itu, ditulis di dua ayat ini, apa yang menjadi penggenapan janji Yesus pada Bapa.

Matius 20: 28 Sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang

Dan Yohanes 10: 30 Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia; “SUDAH SELESAI.” Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan MENYERAHKAN NYAWANYA.

MAKNA ROHANI DARI PAHA SEBAGAI LAMBANG

PERSEMBAHAN YANG TIDAK BERCACAT.

Oleh karna PANGKAL PAHA –NYA tidak dipatahkan, Dia menjadi kan Diri-Nya korban persembahan yang tidak bercacat, korban persembahan yang sempurna, karna dalam PL binatang yang dipersembahkan tidak boleh yang bercacat, salah satu karakteristik daripada cacad adalah ; patah tulang (Imamat 22:22)

KESIMPULAN DARI SEMUANYA ITU ADALAH:

Mengapa bagian PAHA dari korban keselamatan disebut sebagai PERSEMBAHAN KHUSUS?

Jawabannya, adalah karna bagian paha itu menunjuk pada:

1. Kekuatan kemenangan Kristus di atas kayu salib mengalahkan SENGAT MAUT.

I Korintus 15: 54-57

“Maut telah ditelan dalam kemenangan,

Hai maut di manakah kemenanganmu?

Hai maut, di manakah sengatmu?

Sengat maut ialah dosa dan kuasa dosa ialah hukum Taurat.

Tetapi syukur kepada Allah ,

yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”

2. Kemenangan orang percaya, yang menginjak ular dan kalajengking serta menahan kekuatan musuh (Lukas 10: 19)

3. Kekuatan kemenangan Kristus dan kemenangan orang percaya itu bisa ada karna Yesus sudah menggenapkan janji dan nazar-Nya pada Bapa

4. Dan karna Dia memberikan Diri-Nya sebagai persembahan yang tak bercacat

Sehingga oleh KETAATAN dan KERELAAN-NYA itulah Filipi 2: 9-11 menulis:

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi dan segala lidah mengaku :”Yesus Kristus adalah Tuhan.” Bagi kemuliaan Allah, Bapa !

Dan yang paling menarik dari semuanya ini adalah, nama di atas segala nama itu dituliskan di PAHA YESUS selain pada jubah-NYA

WAHYU 19: 16

Dan pada jubah-Nya dan paha-Nya tertulis suatu nama, yaitu:

“Raja segala raja dan Tuhan di atas segala tuan,”

Inilah yang menggiring kita pada kesimpulan klikmaks yang  ke 5;

5. Bagian paha itu menunjuk pada KEKUASAN YESUS SEBAGAI RAJA SEGALA raja DAN TUHAN DI ATAS SEGALA tuan.

Thanks God for this RHEMA

19 Sebtember 2013. Kendari

LAMPIRAN TENTANG PEMATAHAN KAKI INI ,saya temukan justru setelah tulisan di atas selesai, tetapi setelah saya tahu ini berkaitan, ini saya tambahkan. silahkan di baca sebagai referensi, namun tulisan ini sebenarnya lebih panjang – tidak hanya membahas mengenai pematahan kaki saya- jika anda ingin membaca lebih lengkap dapat melihat di sumber aslinya:

http://www.golgothaministry.org/yohanes/yohanes-19_31-37.htm

 

Eksposisi Injil Yohanes

oleh: Pdt. Budi Asali MDiv.


YOHANES 19:31-37

I) Pematahan kaki (ay 31-33,36).

1)   Dalam tradisi penyaliban orang Romawi, mereka membiarkan begitu saja orang yang disalib itu sampai mati. Ini bisa memakan waktu berhari-hari. Setelah orang itu mati, kadang-kadang mereka membiarkan mayat itu begitu saja pada salibnya sebagai peringatan bagi semua orang, dan kadang-kadang mereka menurunkannya dan membiarkan mayat itu dimakan burung pemakan bangkai atau anjing.

Leon Morris (NICNT): “The Roman custom was to leave the bodies of crucified criminals on their crosses as a warning to others. It was therefore necessary to obtain permission before removing a body” (= Kebiasaan Romawi adalah membiarkan mayat-mayat dari orang-orang kriminil yang disalib itu pada salib mereka sebagai suatu peringatan bagi yang lain. Karena itu perlu mendapatkan ijin sebelum menurunkan suatu mayat / tubuh) – hal 817.

William Barclay: “When the Romans carried out crucifixion under their own customs, the victim was simply left to die on the cross. He might hang for days in the heat of the midday sun and the cold of the night, tortured by thirst and tortured also by the gnats and the flies crawling in the weals on his torn back. Often men died raving mad on their crosses. Nor did the Romans bury the bodies of crucified criminals. They simply took them down and let the vultures and the crows and the dogs feed upon them” (= Pada waktu orang Romawi melakukan penyaliban dalam tradisi mereka, korban dibiarkan begitu saja untuk mati pada salib. Ia bisa tergantung selama berhari-hari dalam panasnya matahari pada tengah hari dan dinginnya malam, disiksa oleh kehausan dan disiksa juga oleh serangga dan lalat yang merayap pada punggungnya yang sudah tercabik-cabik. Seringkali orang-orang mati pada salib mereka sambil ngoceh tak karuan seperti orang gila. Juga orang Romawi tidak mengubur mayat-mayat dari penjahat-penjahat yang disalib. Mereka hanya menurunkan mereka dan membiarkan burung pemakan bangkai dan gagak dan anjing memakan mereka) – hal 260.

2)   Orang-orang (tokoh-tokoh) Yahudi meminta dilakukannya pematahan kaki dan penurunan mayat dari kayu salib (ay 31). Mengapa?

a)   Karena mereka harus mempersiapkan diri untuk masuk hari Sabat (ay 31).

Persiapan Sabat dimulai Jum’at pukul 3 siang.

b)   ‘Sabat itu adalah hari yang besar’ (ay 31).

Maksudnya hari itu adalah hari Sabat yang istimewa, karena menjelang / bertepatan dengan Paskah / Passover.

Pulpit Commentary: “on that particular year the weekly sabbath would coincide with the 15th of Nissan, which had a sabbath value of its own” (= pada tahun itu sabbat mingguan bertepatan dengan tanggal 15 dari bulan Nissan, yang mempunyai nilai sabbat sendiri) – hal 436.

Catatan: Paskah di sini bukan ‘Easter’ (= Paskah Perjanjian Baru, yang menunjuk pada hari Kebangkitan Yesus; ini sebetulnya tidak pernah ada dalam Kitab Suci), tetapi ‘Passover’ (= Paskah Perjanjian Lama, yaitu hari peringatan keluarnya orang Israel dari Mesir).

c)   Mereka tidak mau bahwa pada hari Sabat yang istimewa itu, tanah mereka dinajiskan oleh adanya mayat / orang yang tergantung pada salib.

Bdk. Ul 21:22-23 – “‘Apabila seseorang berbuat dosa yang sepadan dengan hukuman mati, lalu ia dihukum mati, kemudian kaugantung dia pada sebuah tiang, maka janganlah mayatnya dibiarkan semalam-malaman pada tiang itu, tetapi haruslah engkau menguburkan dia pada hari itu juga, sebab seorang yang digantung terkutuk oleh Allah; janganlah engkau menajiskan tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu menjadi milik pusakamu.’”.

Tentang hukum dalam Ul 21:22-23 ini, perlu diketahui bahwa pada jaman Perjanjian Lama salib belum dikenal. Karena itu Ul 21:22-23 sebetulnya menunjuk pada hukuman gantung dimana orangnya langsung mati, atau menunjuk kepada orang yang setelah dihukum mati, lalu mayatnya digantung.

Tetapi pada jaman Yesus, hukum ini diterapkan pada penyaliban yang bisa berlangsung berhari-hari. Bahwa orang yang disalib bisa bertahan berhari-hari, terlihat dari kutipan-kutipan di bawah ini:

  • ‘The International Standard Bible Encyclopedia’ dalam article berjudul ‘Cross’ berkata sebagai berikut:

“The length of this agony was wholly determined by the constitution of the victim and the extent of the prior flogging, but death was rarely seen before 36 hours had passed (= Lamanya / panjangnya penderitaan ini sepenuhnya ditentukan oleh keberadaan korban itu secara fisik dan mental dan tingkat pencambukan yang mendahuluinya, tetapi kematian jarang terlihat sebelum 36 jam berlalu).

  • Thomas Whitelaw: “When violence was not used, the crucified often lived 24 or 36 hours, sometimes three days and nights (= Kalau kekerasan tidak digunakan, orang yang disalib sering hidup selama 24 atau 36 jam, kadang-kadang 3 hari 3 malam) – hal 410.
  • William Barclay dalam komentarnya tentang Luk 23:32-38 berkata sebagai berikut:

“Many a criminal was known to have hung for a week upon his cross until he died raving mad” (= Banyak penjahat diketahui tergantung selama seminggu pada salibnya sampai ia mati sambil mengoceh tidak karuan seperti orang gila).

  • ‘Unger’s Bible Dictionary’ dalam artikel berjudul ‘Crucifixion’ berkata sebagai berikut:

“Instances are on record of persons surviving nine days (= Ada contoh-contoh / kejadian-kejadian yang tercatat dari orang-orang yang bertahan sampai 9 hari).

Bdk. Mark 15:44 – “Pilatus heran waktu mendengar bahwa Yesus sudah mati. Maka ia memanggil kepala pasukan dan bertanya kepadanya apakah Yesus sudah mati”.

Pilatus merasa heran karena Yesus mati dengan begitu cepat, dan ini menunjukkan bahwa biasanya penyaliban membutuhkan waktu lebih lama untuk membunuh korbannya.

d)   Kalau orang hukuman itu diturunkan dari salib dalam keadaan masih hidup, maka itu berarti bahwa ia tidak jadi dihukum mati. Karena itulah mereka meminta dilakukan pematahan kaki lebih dulu, supaya orang hukuman itu cepat mati. Setelah orangnya mati, barulah mayatnya diturunkan.

Dari semua ini terlihat bahwa orang-orang Yahudi ini berusaha mentaati peraturan kecil (yaitu Ul 21:22-23), tetapi melanggar peraturan besar, yaitu membunuh Yesus yang tak bersalah. Bandingkan dengan kecaman Yesus terhadap mereka dalam Mat 23:23-24 – “Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan”.

Charles Haddon Spurgeon: “Their consciences were not wounded by the murder of Jesus, but they were greatly moved by the fear of ceremonial pollution. Religious scruples may live in a dead conscience” (= Hati nurani mereka tidak terluka oleh pembunuhan terhadap Yesus, tetapi mereka sangat tergerak oleh rasa takut akan pencemaran yang bersifat upacara. Keberatan agamawi yang kecil-kecil bisa hidup dalam hati nurani yang mati) ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord’, vol VI – ‘The Passion and Death of Our Lord’,  hal 665.

3)   Tentang pematahan kaki.

Para penafsir mengatakan bahwa pematahan kaki orang yang disalib ini dilakukan pada bagian di antara lutut dan pergelangan kaki, dan ini dilakukan dengan menggunakan besi atau martil yang berat. Ini tentu merupakan suatu tindakan yang sangat kejam, karena menimbulkan rasa sakit yang luar biasa, tetapi pematahan kaki ini ‘mengandung kebaikan’ karena hal ini mempercepat kematian.

Pulpit Commentary: “Though a cruel act, it was designed to shorten the sufferings of the crucified” (= Sekalipun merupakan tindakan yang kejam, tindakan ini bertujuan untuk memperpendek penderitaan orang yang disalib) – hal 439.

Pulpit Commentary: “ …  a brutal custom, which added to the cruel shame and torment, even though it hastened the end” (= … kebiasaan / tradisi yang brutal, yang ditambahkan pada rasa malu dan penyiksaan yang kejam, sekalipun ini mempercepat kematian) – hal 432.

Ada 2 pandangan mengapa pematahan kaki bisa mempercepat kematian:

a)   Karena sesak nafas.

F. F. Bruce: “The common view today seems to be that the breaking of the legs hastened death by asphyxiation. The weight of the body fixed the thoracic cage so that the lungs could not expel the air which was breathed in, but breathing by diaphragmatic action could continue for a long time so long as the legs, fastened to the cross, provided a point of leverage. When the legs were broken this leverage was no longer available and total asphyxia followed rapidly” (= Kelihatannya pandangan yang umum pada jaman ini  adalah bahwa pematahan kaki mempercepat kematian oleh sesak nafas. Berat badan menyebabkan ruang dada tidak bisa dikempiskan sehingga paru-paru tidak dapat mengeluarkan udara yang dihisap, tetapi bernafas dengan menggunakan diafragma bisa dilakukan untuk waktu yang lama selama kaki, yang dipakukan pada salib, memberikan tekanan ke atas. Pada waktu kaki-kaki dipatahkan pengangkatan ke atas ini tidak ada lagi, dan sesak nafas total akan menyusul) – hal 375.

b)   Adanya rasa sakit yang luar biasa atau shock / kejutan yang ditimbulkannya, sehingga menyebabkan terjadinya kematian.

Charles Haddon Spurgeon: “… hastening death by the terrible pain which it would cause, and the shock to the system which it would occasion” (= … mempercepat kematian oleh rasa sakit yang luar biasa yang disebabkannya, dan kejutan pada sistim yang ditimbulkannya) ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord’, vol VI – ‘The Passion and Death of Our Lord’,  hal 666.

William Hendriksen: “Such breaking of the bones (crurifragium, as it is called) by means of the heavy blows of a hammer or iron was frightfully inhuman. It caused death, which otherwise might be delayed by several hours or even days. Says Dr. S. Bergsma in an article …: ‘The shock attending such cruel injury to bones can be the coup de grace causing death’” [= Pematahan tulang (disebut dengan istilah crurifragium) dengan cara pemukulan menggunakan martil atau besi merupakan sesuatu yang menakutkan yang tidak manusiawi. Ini menyebabkan kematian, yang sebetulnya bisa ditunda beberapa jam atau bahkan beberapa hari. Kata Dr. S. Bergsma dalam suatu artikel… : ‘Kejutan yang ditimbulkan oleh pelukaan yang kejam pada tulang seperti itu bisa menjadi tindakan yang mengakhiri penderitaan dengan kematian’] – hal 436.

Ada juga yang menggabungkan kedua pandangan di atas.

Leon Morris (NICNT): “The victims of this cruel form of execution could ease slightly the strain on their arms and chests by taking some of their weight on the feet. This helped to prolong their lives somewhat. When the legs were broken this was no longer possible. There was then a greater constriction of the chest, and the death came on more quickly. This was aided also, of course, by the shock attendant on the brutal blows as the legs were broken with a heavy mallet” (= Korban-korban dari hukuman mati yang kejam ini bisa mengurangi sedikit ketegangan pada lengan dan dada mereka dengan memindahkan sebagian berat pada kaki / menekan pada kaki. Ini menolong untuk memperpanjang hidup mereka. Pada saat kaki mereka dipatahkan ini tidak lagi mungkin dilakukan. Karena itu lalu terjadi kesesakan yang lebih besar pada dada, dan kematian datang lebih cepat. Tentu saja ini didukung pula oleh kejutan yang menyertai pukulan-pukulan brutal pada saat kaki-kaki mereka dipatahkan dengan martil yang berat) – hal 817-818.

4)   Para tentara Romawi lalu mematahkan kaki dari 2 penjahat yang disalib bersama Yesus (ay 32).

a)   Sesuatu yang penting diperhatikan dalam bagian ini adalah bahwa penjahat yang bertobat mengalami nasib yang sama dengan penjahat yang tidak bertobat. Tuhan tidak lalu mengadakan ‘rapture’ (= pengangkatan) bagi dia sebelum hal itu dilakukan!

Charles Haddon Spurgeon: “It is a striking fact that the penitent thief, although he was to be in Paradise with the Lord that day, was not, therefore, delivered from the excruciating agony occasioned by the breaking of his legs. We are saved from eternal misery, not from temporary pain. … You must not expect because you are pardoned, even if you have the assurance of it from Christ’s own lips, that, therefore, you shall escape tribulation” (= Adalah merupakan fakta yang menyolok bahwa pencuri / penjahat yang bertobat, sekalipun akan bersama dengan Tuhan di Firdaus pada hari itu, tidak dibebaskan dari penderitaan yang menyakitkan yang ditimbulkan oleh pematahan kakinya. Kita diselamatkan dari kesengsaraan kekal, bukan dari rasa sakit sementara. … Engkau tidak boleh mengharapkan, karena engkau diampuni, bahkan jika engkau mendapatkan keyakinan tentangnya dari bibir Kristus sendiri, bahwa karena itu engkau akan lolos dari kesengsaraan) ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord’, vol VI – ‘The Passion and Death of Our Lord’, hal 666.

Penerapan:

  • Seorang kristen berkata kepada saya bahwa menurut dia 5 orang kristen yang mati dibakar di Situbondo pada beberapa waktu yang lalu itu, pasti tidak merasa sakit. Sebelum mereka merasa sakit, Tuhan sudah ‘mengangkat’ mereka. Saya sama sekali tidak yakin akan kebenaran kata-kata yang tidak mempunyai dasar Kitab Suci ini!
  • Kalau ada gempa bumi, banjir, atau bencana lain apapun juga, jangan heran kalau gereja / orang kristen juga terkena. Tuhan memang bisa menghindarkan hal itu dari gereja / orang kristen, dan kadang-kadang Ia melakukan hal itu, tetapi seringkali Ia membiarkan orang kristen terkena bencana bersama-sama dengan orang kafir!

b)   Sekalipun pematahan kaki ini memberi penderitaan yang luar biasa bagi penjahat yang bertobat itu, tetapi pematahan kaki ini juga dipakai oleh Tuhan untuk memberi berkat kepadanya, karena melalui pematahan kaki ini ia mati pada hari itu juga, sehingga kata-kata / janji Yesus kepadanya dalam Luk 23:43 tergenapi.

Charles Haddon Spurgeon: “Suffering is not averted, but it is turned into a blessing. The penitent thief entered into Paradise that very day, but it was not without suffering; say, rather, that the terrible stroke was the actual means of the prompt fulfilment of his Lord’s promise to him. By that blow he died that day; else might he have lingered long” (= Penderitaan tidak dicegah / dihindarkan, tetapi penderitaan itu diubah menjadi suatu berkat. Pencuri yang bertobat itu masuk ke Firdaus hari itu juga, tetapi itu tidak terjadi tanpa penderitaan; sebaliknya pukulan yang mengerikan itu merupakan jalan / cara yang sebenarnya untuk penggenapan yang tepat dari janji Tuhannya kepadanya. Oleh pukulan itu ia mati pada hari itu; kalau tidak ia mungkin akan tetap hidup lama) ‘A Treasury of Spurgeon on The Life and Work of Our Lord’, vol VI – ‘The Passion and Death of Our Lord’, hal 666.

5)   Yesus sudah mati, sehingga kakiNya tidak dipatahkan (ay 33).

a)   Allah mengatur supaya Yesus mati lebih dulu, supaya tulangNya tidak dipatahkan. Bisa juga dikatakan bahwa Yesus sendiri mengatur supaya Ia mati lebih dulu, sehingga tulangNya tidak dipatahkan. Bahwa Yesusnya sendiri mengatur kematianNya bisa terlihat dari Mat 27:50 dan Luk 23:46 dimana Ia mati karena Ia menyerahkan nyawa / rohNya ke tangan Bapa. Bandingkan ini dengan Yoh 10:17b-18 yang berbunyi: “Aku memberikan nyawaKu untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari padaKu, melainkan Aku memberikannya menurut kehendakKu sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali”.

Calvin: “That they break the legs of the two robbers, and after having done so, find that Christ is already dead, and therefore do not touch his body, appears to be a very extraordinary work of the providence of God. Ungodly men will, no doubt, say that it happens naturally that one man dies sooner than another; but, if we examine carefully the whole course of the narrative, we shall be constrained to ascribe it to the secret purpose of God, that the death of Christ was brought on much more rapidly than men could have at all expected, and that this prevented his legs from being broken” (= Bahwa mereka mematahkan kaki-kaki dari kedua perampok, dan setelah melakukan hal itu, mendapatkan bahwa Kristus sudah mati, dan karena itu tidak menyentuh tubuhNya, kelihatannya merupakan pekerjaan yang sangat luar biasa dari providensia / pengaturan Allah. Orang-orang yang jahat / tidak percaya tidak diragukan lagi akan mengatakan bahwa merupakan sesuatu yang alamiah bahwa satu orang mati lebih cepat dari yang lain; tetapi, jika kita memeriksa dengan seksama seluruh jalan cerita, kita akan terpaksa untuk menganggapnya berasal dari rencana rahasia dari Allah, bahwa kematian Kristus terjadi jauh lebih cepat dari yang bisa diharapkan oleh manusia, dan bahwa hal ini mencegah pematahan kaki-kakiNya) – hal 239.

b)   Ini tidak berarti bahwa Ia tidak memikul seluruh hukuman dosa kita.

Perhatikan ay 28 yang mengatakan bahwa ‘semuanya telah selesai’. Juga ay 30 dimana Yesus berkata ‘Sudah selesai’. Jadi Ia menyerahkan nyawa / rohNya, setelah seluruh penebusan dosa yang dilakukanNya selesai.

Tetapi bagaimana bisa selesai padahal Ia belum mati? Calvin mengatakan bahwa tentu Yesus sudah memperhitungkan kematianNya di dalam kata-kata ‘Sudah selesai’ itu.

c)   Mengapa Allah / Yesus mengatur sehingga kaki Yesus tidak dipatahkan?

Jawabnya ada dalam ay 36: “Sebab hal itu terjadi, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci: ‘Tidak ada tulangNya yang akan dipatahkan.’”. Jadi, kaki / tulang Yesus dijaga supaya tidak dipatahkan, supaya nubuat Kitab Suci / Perjanjian Lama tergenapi. Nubuat yang mana?

  • Ada yang mengatakan bahwa nubuat yang tergenapi adalah Maz 34:21 – “Ia melindungi segala tulangnya, tidak satupun yang patah” (Catatan: dalam bahasa Inggris – Psalm 34:20).

George Hutcheson: “the promise made to all the godly, Psalm 34:20, was eminently accomplished in him” (= janji yang dibuat bagi semua orang saleh, Maz 34:21, secara menyolok tercapai dalam Dia) – hal 407.

Tetapi kebanyakan penafsir menganggap bahwa tidak dipatahkannya kaki Yesus bukan merupakan penggenapan dari Maz 34:21 ini, karena ayat ini tidak berbicara tentang Kristus, tetapi tentang orang benar secara umum. Dan kalau dikatakan tulang orang benar dijaga supaya tidak patah, tentu tidak boleh diartikan secara hurufiah. Maksudnya adalah bahwa Allah akan menjaga kesejahteraannya secara umum.

  • Peraturan tentang domba Paskah dalam:

*        Kel 12:46 – “Paskah itu harus dimakan dalam satu rumah juga; tidak boleh kaubawa sedikitpun dari daging itu keluar rumah; satu tulangpun tidak boleh kamu patahkan.

*        Bil 9:12 – “Janganlah mereka meninggalkan sebagian dari padanya sampai pagi, dan satu tulangpun tidak boleh dipatahkan mereka. Menurut segala ketetapan Paskah haruslah mereka merayakannya”.

Kedua ayat ini memberi peraturan tentang domba Paskah (Passover Lamb), dimana tulangnya tidak boleh dipatahkan, dan domba Paskah ini adalah Type / gambaran dari Kristus.

1Kor 5:7 – “Buanglah ragi yang lama itu, supaya kamu menjadi adonan yang baru, sebab kamu memang tidak beragi. Sebab anak domba Paskah kita juga telah disembelih, yaitu Kristus.

F. F. Bruce: “Whereas in Ps. 34:20 the guarding of the righteous man’s bones means the preservation of his general well-being, the literal sense of the term in John’s narrative consorts better with its literal sense in the prescription regarding the passover lamb” (= Mengingat bahwa dalam Maz 34:21 penjagaan tulang orang benar berarti penjagaan / pemeliharaan kesejahteraan / kesehatannya secara umum, arti hurufiah dari istilah itu dalam cerita Yohanes  lebih cocok dengan arti hurufiahnya dalam petunjuk / ketentuan tentang domba Paskah) – hal 377.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: