'manusia hidup bukan dari roti saja…'

david_as_a_shepherd

Tulisan ini telah saya edit, Juli 2015, pada saat liburan di Magelang, setelah Tuhan tuntun untuk mengerti lebih dalam lagi mengenai ke-Guru-an Daud

 

Rajaku, Tuanku, Ayah Mertuaku, Pemburuku, Pahlawanku (1)

24 Maret 2014 pukul 9:35

 

Rajaku, Tuanku, Ayah Mertuaku, Pemburuku, Pahlawanku

 

 

RAJAKU

24 Maret 2014 pukul 9:35

 

I Sam  pasal 16 – 23

 

Aku anak nomor 8 dari 8 bersaudara.(*1)

Aku seorang gembala

Aku seorang pemusik padang

Aku pernah tidak diundang di sebuah acara keluarga

Tapi akhirnya aku dipanggil juga

Di acara itu tak pernah kuduga, aku diurapi oleh seorang Nabi besar, untuk menjadi raja yang berikutnya, alias raja kedua di Israel ini. Raja pertama masih ada…tapi entahlah..sepertinya Tuhan sudah tidak berkenan padanya.

Sejak itu perjalanan hidupku berubah, karena sejak hari itu berkuasalah Roh Tuhan atas hidupku, hidupku tak kan pernah sama lagi

 

TUANKU

Aku dipanggil ke istana

Pekerjaan utamaku adalah menjadi musikus terapi istana kerajaan

Pasienku adalah raja sendiri

Dia adalah raja pertama Israel yang gagah perkasa namun sering terserang stress

Pekerjaanku berikutnya adalah pembawa senjata raja

Namun saat raja berperang aku tidak diajak, it’s oke buatku, nggak masalah.

Kalau aku tidak diajak raja pergi berperang, yang aku lakukan adalah , aku pulang ke rumah ayahku yang sudah tua. (*2)

Seperti biasa aku kembali menjadi seorang gembala. Aku cinta pekerjaanku sebagai gembala, walaupun suasana penggembalaan itu sama sekali berbeda dengan suasana istana yang sudah pernah aku kecap. Aku tidak pernah mengeluh saat pulang ke rumah dan kembali menekuni tugasku membantu ayah menjaga kambing domba yang hanya berjumlah dua tiga ekor itu. Itu sekolah kerendahan hati buatku. Semua kemewahan istana tidak lantas menjadikan aku seorang boss kecil di rumah. Di rumah Ayah aku tetap Daud yang dulu. Tidak ada yang berubah. Pakaian istana aku gantung di lemari dan aku segera berganti pakaian gembala.  Tidak ada yang aneh buatku. Toh pada saat aku menjadi gembala atau menjadi pemusik istana , hobbyku bernyanyi dan bermusik untuk Tuhan tetap sama-sama bisa jalan.

Entah mengapa suatu saat akulah yang disuruh ayah menengok kakak-kakakku yang sedang ikut wajib militer sembari mengantar perbekalan makanan untuk mereka, padahal masih ada kan kakak nomor 4, 5 , 6, bahkan nomor 7…??? Kenapa aku yang disuruh menengok kakak nomor 1,2 dan 3? Ternyata belakangan aku baru tahu kebetulan ini bukan kebetulan biasa. Ada sebuah Tangan yang tak terlihat di balik penugasanku oleh ayah ini, yaitu Tangan Tuhan sendiri.

Ternyata di sana aku dikejutkan oleh seorang raksasa tak bersunat  yang berani-beraninya menghina barisan Allah Israel

Singkat cerita aku tanpa baju perang yang ditawarkan raja padaku, melainkan hanya memakai baju gembala dan umban di tanganku, serta yang terpenting membawa senjata utamaku yaitu Nama Tuhan Allah Israel, aku berhasil memenggal kepala raksasa itu.

Raja pun penasaran dan bertanya tanya sebenarnya aku ini anak siapa.

Elhoh..??? Bukannya waktu aku dipanggil pertama kali kerja di istana raja bekerja sebagai musikus terapi kerajaan, bukannya raja waktu itu sudah tahu bahwa aku ini anak Pak Isai ? Jangan-jangan pakaian gembala yang aku pakai, yang sangat berbeda dengan pakaian dinas kerajaan, membuat raja tidak mengenali aku ….aku ini ya aku yang biasa membawakan senjatanya, main musik buat dia…apa dia lupa ya..?? Atauuu mungkin juga raja tak percaya kalau aku ini orang yang sama…? Mungkin pikirnya..masa seorang musikus, sekaligus seorang jawara..??? Padahal kan sudah aku jelasin pada raja sebelum aku masuk ke medan laga melawan raksasa sombong itu,  bahwa aku ini seorang gembala yang biasa mengalahkan beruang dan singa demi mempertahankan nyawa kambing domba dua tiga ekor yang aku gembalakan itu. Mungkin juga raja berpikir….’gembala?’ Mungkin juga raja selama ini tak pernah memperhatikan dengan sungguh siapa aku ini, anak siapa, dan lain sebagainya, saat aku bekerja di istana. Atau bisa jadi raja ingin memastikan lagi apa benar aku ini anak Pak Isai, rakyat biasa, apa benar aku tidak punya garis keturunan seorang pahlawan…??

Aneh. Benar-benar aneh. Sudah bekerja sekian lama di istana kog ya sekarang masih dipertanyakan lagi aku ini anak siapa.

Setelah peristiwa menghebohkan itu….

Aku bersahabat dengan anak raja, sebuah persahabatan yang hebat dan tulus iklas.

Kami mengikatkan janji setia persahabatan, dan dia memberi jubahnya baju perangnya, pedang, panah dan ikat pinggangnya, semuanya diberikannya padaku.

Bayangkan saja..aku yang rakyat jelata bersahabat dengan seorang pangeran, seorang putra mahkota kerajaan Israel. Waaauuu

Walau aku pernah diurapi oleh seorang Nabi Israel yang sangat terkenal, namun aku tidak pernah menolak untuk menjalin persahabatan dengan putra mahkota kerajaan, seorang pangeran yang luar biasa baik, tulus dan kami saling berbagi satu sama lain. Soal siapa di antara kami berdua yang jadi raja kedua nantinya bagiku tidak pernah jadi beban pikiran buatku. Berkuasanya Roh Tuhan atas hidupku sejak aku diurapi , itu saja sudah membuat hidupku berbeda dan bahagia, itu bagiku sudah lebih dari cukup, aku tidak pernah berambisi untuk menjadikan diriku ini seorang raja dengan cara-cara dan waktuku sendiri, melainkan aku tahu dengan pasti, janji Tuhan itu pastilah digenapi dalam hidupku, entah kapan itu, dan entah dengan cara-Nya yang bagaimana. Aku tidak perlu merasa terburu-buru mencapai hal itu, ataupun tidak perlu merasa takut terlambat mencapainya.

Sejak kemenanganku melawan raksasa itu, raja sering menyuruhku pergi berperang dan aku selalu berhasil kemana pun aku di utus. Sejak saat itu aku jadi kepala para prajurit, aku naik pangkat.

Suatu saat ketika pulang dari peperangan, para perempuan-perempuan Israel memuji aku berlebih-lebihan, bahkan terkesan membanding-bandingkan diriku dengan raja. Ini sebuah jumpa fans yang tidak terencana dan akibatnya fatal karena sejak saat itu raja berubah muka padaku, ia marah besar dan mendengki padaku.

Padahal apa salahku…??? Perempuan-perempuan itu sendiri yang tergila-gila padaku, sedang aku biasa aja pada mereka…toh lagu karangan dan nyanyian mereka itu bukan lagu karanganku dan tidak termasuk dalam daftar lagu arransementku.

Hari berganti, aku menjalankan tugasku kembali  sebagai  musikus terapis istana kerajaan.

Yah itu memang tugas utamaku jika sedang tidak ada peperangan.

Maklumlah pasienku sang raja terkadang memang kambuh secara mendadak dan tak terelakkan.

Tapi kali ini lain, sejak peristiwa nyanyian-nyanyian dari para fansku itu, raja menyerangku dan tombak itu nyaris saya menancapkanku ke tembok !

Dua kali sudah percobaan pembunuhan ini mengancam nyawaku.

Lagi-lagi aku luput dari tombak melayang itu.

Untung semuanya terluput juga karena Tuhan menyertai aku.

Anehnya aku diberi tugas baru, yaitu mengepalai pasukan seribu, jadi aku selalu ada di barisan depan dalam segala gerakan tentara. Posisi ini sangat berbahaya karena aku akan selalu berhadapan langsung dengan musuh, dan kalau kami kalah, aku pastilah orang pertama yang akan mati duluan.

Karena penyertaan Tuhan, aku selalu berhasil dalam peperangan dan seluruh rakyat Israel makin sayang padaku.

 

AYAH MERTUAKU

Anak perempuan raja yang tertua , akan diberikan padaku menjadi istriku.

Apa? Aku jadi menantu raja???  Apa tidak salah..??? Aku ini rakyat jelata biasa….!!

Hari pernikahan pun tiba, tetapi betapa terkejutnya aku, ternyata pengantin prianya bukan aku !

Harapan di balik rasa tidak pantas itu pun sirna. Terkadang ada rasa terhina dalam diriku, saat hari pernikahan itu, ternyata bukan aku pengantin prianya. Tetapi memang rasa diri hina dan tidak layak jadi menantu raja itu ya sudah sepantasnya melekat dalam diriku, memang aku ini miskin dan rendah, aku dari keluarga sederhana di Israel ini, keluargaku tidak pantas menjadi besan raja.

Tawaran raja datang lagi untuk aku jadi menantu raja, karena anak gadisnya yang kedua jatuh cinta padaku.

Seratus kulit khatan orang Filistin jadi mas kawinnya, akhirnya tidak tanggung tanggung , dua ratus yang aku berikan.

Ini lebih sah bagiku, walau aku tidak bisa membayar mas kawin dengan emas satu ton pada keluarga raja yang terhormat, tetapi 200 kematian musuh buatku sebandinglah, karena aku berjuang untuk mendapatkan cintaku dengan mempertaruhkan nyawaku. Aku setuju..ini fiar.

Sejak saat itu aku menjadi menantu raja.  Mikhal menjadi istriku. Dia seorang putri raja.

Raja adalah ayah mertuaku, dia adalah juga ayahku.

Namun entah roh apa yang  menghinggapi raja.

Ada rapat tertutup yang digelar hanya dihadiri oleh pangeran putra mahkota dengan pegawai kerajaan, saat itu raja mengumumkan pada mereka semua bahwa aku harus dibunuh (*3)

Sahabat baikku  yang kini jadi iparku membujuk raja  agar tidak membunuhku.

Rajapun setuju.

Aku bekerja lagi seperti biasa, menenangkan raja dengan permainan musikku, apalagi saat keresahan menyerang jiwa raja yang rapuh.

Namun kini ada tombak yang ketiga melayang hampir menyasar di dadaku tetapi akhirnya merusak tembok istana kerajaan.

Aku pun lari.

Lari.

Lari dan lari.

 

 

PEMBURUKU

Raja mengirimkan orang-orang suruhannya ke rumahku untuk mengamat-amati aku, dan menurut prediksi kami berdua ( aku dan istriku), bisa saja besok pada waktu pagi aku akan dibunuh oleh orang-orang pembunuh bayaran ini.

Mikhal, istriku, menyuruh aku lari malam itu atau kalau tidak, besok sudah tinggal nama.

Tentu ia sudah bisa menebak kemana arah keputusan ayahnya berikutnya, karena dia adalah putrinya, maka akupun pergi malam itu.

Ya…aku pun lari meluputkan diri …

Luputnya aku dari para pembunuh bayaran ini, menghasilkan satu arransement perenunganku bersama dengan Tuhan

 

MINTA PERLINDUNGAN MELAWAN MUSUH

(Mazm 59)

Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Jangan memusnahkan

Miktam dari Daud, ketika Saul menyuruh orang mengawasi rumahnya untuk membunuh dia.

Lepaskanlah aku dari pada musuhku, ya Allahku;

Bentengilah aku terhadap orang-orang yang bangkit melawan aku.

Lepaskanlah aku dari pada orang-orang yang melakukan kejahatan

Dan selamatkanlah aku dari pada penumpah-penumpah darah,

Sebab sesungguhnya , mereka menghadang nyawaku;

orang-orang perkasa menyerbu aku,

padahal aku tidak melakukan pelanggaran,

aku tidak berdosa, ya TUHAN,

Aku tidak bersalah, merekalah yang lari dan bersiap-siap,

Marilah mendapatkan aku, dan lihatlah !

Engkau TUHAN, Allah semesta alam, adalah Allah Israel.

Bangunlah untuk menghukum segala bangsa;

Janganlah mengasihani mereka yang melakukan kejahatan dengan berkhianat !

S E L A

Pada waktu senja mereka datang kembali,

Mereka melolong seperti anjing dan mengelilingi kota,

Sesungguhnya , mereka menyindir dengan mulutnya,

Cemooh ada di bibir mereka, sebab-siapakah yang mendengarnya?

Tetapi Engkau, TUHAN , menertawakan mereka,

Engkau mengolok-olok segala bangsa

Ya kekuatanku, aku mau berpegang pada-Mu,

Sebab Allah adalah kota bentengku,

Allahku dengan kasih setia-Nya akan menyongsong aku;

Allah akan membuat aku memandang rendah seteru-seteruku.

Janganlah membunuh mereka, supaya bangsaku tidak lupa,

halaulah mereka kian ke mari dengan kuasa-Mu,

dan jatuhkanlah mereka, ya Tuhan, perisai kami!

Karena dosa mulut mereka adalah perkataan bibirnya,

Biarlah mereka tertangkap dalam kecongkakannya,

oleh karena sumpah serapah dan dusta yang mereka ceritakan,

habisilah mereka dalam geram, habisilah,

sehingga mereka tidak ada lagi, supaya mereka sadar

bahwa Allah memerintah di antara keturunan Yakub, sampai ke ujung bumi.

S E L A

Pada waktu senja mereka datang kembali,

mereka melolong seperti anjing dan mengelilingi kota.

Mereka mengembara mencari makan; apabila mereka tidak kenyang,

maka mereka mengaum.

Tetapi aku mau menyanyikan kekuagan-Mu,

pada waktu pagi aku mau bersorak-sorai karena kasih setia-Mu;

sebab Engkau telah menjadi kota bentengku,

tempat pelarianku pada waktu kesesakanku.

Ya kekuatanku, bagi-Mu akau mau bermazmur;

sebab Allah adalah kota bentengku, Allahku dengan kasih setia-Nya.

 

ALLAH adalah kota bentengku ! Aku garisbawahi benar kata-kata mazmurku itu. Aku catat baik-baik menjadi bekal awalku dalam pelarian ini.

 

AKU MELARIKAN DIRI KE RAMA

Kemana ya aku akan pergi…?? Baiklah, lebih baik aku menemui nabi Samuel yang pernah dipakai Tuhan untuk mengurapi aku menjadi raja yang berikutnya. Ceritanya aku akan mencurahkan isi hatiku kepadanya layaknya anak kepada ayah rohaninya. Dia tinggal di Rama.

Aku pun menceritakan pada Nabi Samuel,  semua perlakuan raja padaku.

 

AKU MELARIKAN DIRI KE NAYOT

Nabi Samuel mengajakku pergi melarikan diri  ke daerah Nayot, dekat Rama,  dan aku pun kini bersama dengan Nabi Samuel tinggal di  sana

Di Nayot raja mengirim orang-orang suruhan untuk mengambil aku. Tidak tanggung-tanggung, sampai tiga rombongan ! Bahkan akhirnya raja sendiri yang datang untuk menangkapku di Nayot…tapi tetap aku bisa lolos karena persitiwa-peristiwa ajaib yang Tuhan buat. Hadirat Tuhan yang begitu kuat tidak dapat ditembus bahkan oleh seorang raja sekalipun, apalagi oleh berapapun batalion yang dikirimkannya.

 

AKU MELARIKAN DIRI KEPADA SAHABATKU

Kali ini dalam pelarianku dari Nayot, aku kembali pada sahabatku, sang pangeran putra mahkota kerajaan itu. Bagaimana pun aku percaya padanya,walau ayahnya ingin membunuh aku. Kenyataan di depan mata bahwa ayahnya ingin membunuhku tidak serta merta membuatku juga menjauhi anaknya, yang adalah sahabat karibku. Aku tahu memilah-milah tiap masalah yang tidak selalu harus dijalin bagai rajutan yang saling terkait. Perjanjian persahabatan setia di antara kami berdua tidak dapat digoyahkan bahkan oleh kenyataan bahwa ayah kandungnya membenci aku secara membabi buta. Demikian juga dengan sahabatku, kebencian ayahnya terhadapku tidak serta-merta membuat dia itu menghakimi aku berdasarkan kacamata ayahnya, dia cukup adil untuk mengerti posisiku yang tidak bersalah sama sekali, aku tidak melakukan apa –apa yang pantas untuk mendapatkan hukuman mati.

Aku tidak pernah berambisi menggulingkan pemerintahan ayahnya, kalaupun aku pernah diurapi menjadi raja yang berikutnya oleh Nabi terkenal itu, itu kan bukan mauku, dan toh boleh dibuktikan bahwa tidak ada hal apapun yang aku lakukan untuk menggulingkan pemerintahan ayahnya sebagai raja.

Dan saat kami bertemu, dia setuju untuk mencari tahu situasi hati ayahnya apakah benar-benar ingin membunuhku atau tidak.  Dia berjanji akan memberitahuku apabila situasi hati ayahnya gawat, dan itu artinya dia akan jujur apa adanya dan membiarkan diriku pergi menyelamatkan diri. Itu semua karena di antara kami berdua ada perjanjian kesetiaan dalam persahabatan kami. Sampai-sampai aku katakan padanya, kalau memang aku ada kesalahan nggak perlu juga sih memakai tangan ayahnya untuk membunuhku, langsung aja dia sendiri yang bunuh aku. (*4)

Akan tetapi tidak, sama sekali tidak, dia tetap berjanji untuk menyelamatkan aku dari semua prahara ini. Sahabat setiaku bukan seorang penghianat yang pura-pura baik di depan tetapi sebenarnya mencari kesempatan menusuk aku dari belakang. Sama sekali bukan jenis orang yang seperti itu. Aku sangat beruntung memiliki sahabat yang berkarakter langka seperti dia.

Sahabat setiaku itu meminta aku bersumpah demi kasihku padanya, bahwa aku tidak akan memutuskan kasih setiaku terhadap keturunannya sampai selamanya apabila dia sudah mati.  Dan apabila Tuhan melenyapkan setiap orang dari musuhku dari muka bumi, janganlah nama sahabatku itu terhapus dari keturunanku…ya itu yang dia katakan, itu artinya keturunannya adalah keturunanku juga.  Aku menyetujui janji setia itu, ini adalah perjanjian kami yang kedua, setelah perjanjian yang pertama dulu bahwa kami akan selalu jadi sahabat setia, perjanjian yang kedua ini intinya adalah  bahwa aku tidak akan melenyapkan keturunannya saat dia sudah mati. Bahkan aku bersumpah sampai dua kali dalam perjanjian yang kedua ini. Memang dia itu orangnya butuh diyakinkan sekali. Nggak masalah, aku turuti aja.

Persahabatan kami memang ajaib. Bumbu –bumbu politik tidak dapat merasuki adonan persahabatan kami, saat nanti janji Tuhan digenapi bahwasannya aku akan menjadi raja berikutnya, walau aku tak pernah ambisi mengkondisikan semuanya dengan pemberontakan politik, keturunannya tidak akan aku hapuskan, walaupun di kerajaan manapun pasti berlaku pemusnahan keturunan dari raja sebelumnya jika ingin pemerintahannya kokoh.  Mengapa aku mengiyakan perjanjian kami yang ke dua ini, karena aku tahu bahwasannya seorang yang tadinya gembala biasa seperti aku ini, rakyat biasa dan hina seperti aku ini, tidak mungkin bisa duduk di singgasana kerajaan jika bukan karena TUHAN, oleh karena itu, aku yakin bahwasannya yang akan mengokohkannya juga Tuhan, bukan tanganku sendiri, apalagi dengan cara menumpas keluarga raja sebelumnya, itu bukan cara Tuhan. Sumpahku ini tidak sekedar untuk menyenangkan sahabatku saja, melainkan aku bersungguh-sungguh dengan setiap ucapanku, aku menyadari sepenuhnya dan dalam hatiku yang paling dalam aku setuju dengan itu semua, itu suatu ide yang keren, suatu saat jika aku menjadi raja, aku akan menjadi raja yang berbeda, karena aku raja yang punya Raja di atas segala raja. Soal memberantas musuh-musuhku itu bukan urusanku, melainkan biarlah pembalasan itu menjadi hak Tuhan semata-mata. Dan aku tahu bahwasannya Tuhan itu tahu membedakan mana yang adalah musuhku dan mana yang adalah sahabatku. Tuhan tentu tembang pilih, tidak asal membabibuta memberantas musuh-musuhku begitu saja. Tuhan itu pasti bijaksana. Tuhan mencatat setiap perjanjian kami berdua, bahkan sebelum satu pun dari antara kami memiliki keturunan, bahkan sahabatku belum menikah saat itu. (*5)

Dalam perjanjian kami yang kedua ini, kami membahas bersama bahwa ini adalah perjanjian 3 pihak, yaitu antara aku, dia dan ada Tuhan ditengah-tengah kami berdua. Ini adalah perjanjian segitiga, yaaaa..segitiga.

Benar saja…sahabatku membela perkaraku di depan raja, ayahnya. Raja marah dan bukan saja melontarkan kata-kata kasar terhadapnya, tetapi juga sampai-sampai melemparkan tombaknya untuk membunuh anaknya sendiri…!!

Sempat sih raja berkata bahwa selama aku ini masih hidup, maka sahabatku itu dan kerajaannya tidak akan kokoh.

Kalimat raja yang seperti itulah yang membuat hati sahabatku itu tertusuk.  Bukan kalimat ‘anak sundal yang kurang ajar’ yang dilontarkan ayahnya kepadanya,  yang membuat pribadinya tersinggung berat, sama sekali bukan, tetapi justru kalimat ini..

“Selama dia masih hidup…kerajaanmu tak kan kokoh….!!!”

Kata-kata itu sebenarnya wajar saja keluar dari mulut raja, semua orang akan berpikir hal yang sama, bahwa persahabatannya denganku adalah sebuah kebodohan, karena itu akan merugikan kedudukannya sebagai putra mahkota kerajaan.

Akan tetapi sahabatku punya pemikiran yang berbeda dengan ayahnya, karena dia mengenal siapa aku, dan bagiku dia adalah sesosok orang yang sangat mengagumkan, karena dia mengerti kehendak Tuhan dalam hidupnya dan dalam hidupku sahabatnya,dan dalam kehidupan persahabatan kami sekarang ini. Pandangannya tentang politik sama sekali berbeda dengan pandangan ayahnya, dia itu tahu betul bahwa kepemimpinan kerajaan Israel bukan diturunkan melainkan dari penunjukan Tuhan,   Itu tercermin dari kalimat-kalimatnya yang seperti ini misalnya : TUHAN kiranya menyertai engkau seperti Ia menyertai ayahku dulu.

Sahabatku itu marah dengan kemarahan yang bernyala-nyala,hari itu ia tidak mau makan apa-apa. Tapi anehnya dia bukan marah karena ayahnya melontarkan kata-kata yang tidak pantas terhadapnya bahkan sampai melemparkan tombak untuk  membunuhnya , tetapi kemarahannya yang terus berubah menjadi hati yang susah,  semata-mata karena ayahnya telah menghina aku, sahabatnya ini.

Huuuuaaaaa…????!!!!

Dia sampai tidak memperdulikan sama sekali dirinya, tetapi yang ada di pikirannya hanya aku-aku dan aku , sahabatnya ini.

Esok harinya kami pun bertemu dalam pertemuan penuh rahasia dan penuh air mata. Bisa jadi itulah pertemuanku yang terakhir dengan dia. Aku pun melarikan diri dalam pelarian yang sangat panjang setelah itu.

Dalam pelarian ini aku benar-benar merasa sendiri. Tidak ada lagi sahabat sejatiku. Aku jauh dari rumah ayah di mana ada keluarga besarku. Aku jauh dari prajurit-prajurit bawahanku yang sering pergi berperang denganku.

Lari kepada nabi Samuel sudah aku lakukan. Pada akhirnya aku tidak dapat terus bertahan di sana.

Lari kepada perlindungan sahabatku, yang notabene adalah anak kandung raja, juga sudah aku lakukan. Pada akhirnya aku harus terpisah dengannya. Upayanya dulu untuk membujuk ayahnya untuk tidak perlu berupaya membunuhku cuma berhasil dalam waktu yang sangat singkat, karena setelah beberapa waktu lamanya, saat aku kembali ke istana dan bekerja sebagai musikus istana, aku kembali harus menghindari arah tombak yang melayang ke jantungku.

Lha terus ke mana lagi sekarang ini aku harus berlari…??

Aku harus bersembunyi di sebuah tempat rahasia.

 

AKU MELARIKAN DIRI KE GUA

Aku dikejar-kejar….hu hu hi heh heh heh…aku terengah-engah karena letih terus berlari, dan akhirnya sampailah aku di suatu gua ..

Di gua itu hanya ada antara aku dan Tuhanku. Karena tidak ada orang yang mencari aku. Tentunya sudah sekian hari aku meninggalkan rumah, meninggalkan isteriku, meninggalkan sahabatku, meninggalkan istana, meninggalkan barisan tentara…tetapi tidak ada seorang pun yang mencari aku, mencari tahu aku ada di mana, menenangkan aku dan menghibur diriku. Tidak ada.

Sama sekali tidak a-da.

 

Doa seorang yang dikejar-kejar

(Mazmur 142)(*6)

Nyanyian pengajaran Daud, ketika ia ada di dalam gua:  suatu doa.

Dengan nyaring  aku berseru-seru kepada TUHAN,

dengan nyaring aku memohon  kepada TUHAN.

Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya,

kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya.

Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku,

Engkaulah yang mengetahui jalanku.

Di jalan yang harus kutempuh,

dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku.

Pandanglah ke kanan dan lihatlah, tidak ada seorangpun yang menghiraukan aku;

tempat pelarian bagiku telah hilang,

tidak ada seorangpun yang mencari aku.

Aku berseru-seru kepada-Mu, ya TUHAN, kataku:

“Engkaulah tempat perlindunganku, bagianku di negeri orang-orang hidup!”

Perhatikanlah teriakku, sebab aku telah menjadi sangat lemah.

Lepaskanlah  aku dari pada orang-orang yang mengejar aku,

sebab mereka terlalu kuat bagiku.

Keluarkanlah aku dari dalam penjara  untuk memuji nama-Mu.

Orang-orang benar akan mengelilingi aku, apabila Engkau berbuat baik kepadaku.

 

Setelah beberapa waktu lamanya aku bersembunyi di gua itu….capek berteriak-teriak dalam doaku, capek dan letih dalam jiwaku, semangatku jadi loyo, aku tidak bisa menghadapi raja dengan segenap tentaranya yang mengejar aku. Mereka terlalu kuat bagiku. Aku seperti tinggal dalam penjara ketakutanku sendiri, penjara kekawatiranku sendiri, penjara kesendirianku sendiri. Aku terbelenggu dengan stress ini semua..Ada penjara yang sedang membelenggu aku sehingga aku tidak bisa memuji nama Tuhan. Bukan gua ini yang jadi penjara bagiku. Tentu saja bukan ! Tetapi ada sesuatu yang membelenggu jiwa ini. Sulit sekali aku menjelaskannya dengan gamblang !

(*7) Bagiku sulit dalam keadaan seperti ini untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Apabila saja Tuhan berbuat baik kepadaku…tentu pastinya ada orang-orang benar yang Dia kirimkan untuk mengelilingi aku, setidaknya menemani, menentramkan, menghibur, atau setidaknya menguatkan aku. Tapi mana..?? Mana…???

Aku sendirian. Nyatanya aku sebatang kara. Tidak ada satupun orang yang Dia kirimkan untukku. Keluargaku jauh, sahabatku jauh, dia sudah kembali ke kota, nabi Samuel jauh..isteriku jauh..

Mungkin dengan menemui seorang rohaniawan, aku bisa mendapatkan perbekalan makanan dan persediaan senjata…mungkin saja !

Senjata…??? Apa mungkin seorang rohaniawan bisa memiliki senjata…?? Siapa tahu..??

Aku butuh perbekalan makanan dan persediaan senjata dalam masa-masa genting seperti ini. Percaya penuh pada penjagaan dan perlindungan Tuhan, iya sih iyalah.

Mengingat kembali pertolongan Tuhan yang ajaib saat aku dan Nabi Samuel berada di Nayot memang menari-nari di memory kenanganku. Tuhan bisa melindungi aku dengan cara yang ajaib memang. Saat itu aku juga nggak bawa senjata kog. Tapi hadirat Tuhan sendiri yang membentengi hidupku, menjadi senjata rahasiaku, sehingga berapa banyaknya pun rombongan yang dikirim raja untuk mengambil aku, tidak dapat tembus benteng surgawi yang tak kasat mata itu. Bahkan raja sendiri sampai turun tangan ke lapangan, tetap tidak bisa tembus !! Huiiihh!!

Tapi kita harus tetap realistis, tidak mungkin aku bisa bertahan tanpa adanya roti dan senjata kan..?? Aku memang sudah berdoa di gua itu, tetapi masakan tiba-tiba Tuhan menurunkan roti satu karung dari langit, tambahan pula ada senjata yang tiba-tiba diturunkan dari sorga..?? Huuuiiiihhh, itu sih pikiran konyol !

 

AKU MELARIKAN DIRI KE NOB

Aku memutuskan untuk berlari ke Nob, di sana aku akan menemui Ahimelekh, dia adalah seorang imam. Dalam pelarian ini aku benar-benar sendirian , aku tidak membawa pasukan sama sekali.

Tapi…nanti kalau Imam Ahimelekh bertanya ini itu, bagaimana ya..??  Rasanya aneh juga, masakan seorang Daud kog datang tidak membawa pasukan…dia pasti akan curiga.

Bagaimana kalau imam Ahimelekh nanti tahu bahwa posisiku sekarang bukan lagi sebagai pegawai raja yang dapat dipercaya, bukan lagi yang datang sebagai menantu raja, bukan lagi yang datang sebagai kepala para pengawal yang dihormati di rumah raja..??

Bagaimana kalau dia tahu bahwa aku ini sekarang adalah boronan raja ? Raja ingin membunuhku..??

Bisa-bisa kalau dia curiga, aku gagal mendapatkan apa yang aku butuhkan, yaitu perbekalan makanan dan mana tahu dia memiliki persediaan senjata, bisa-bisa aku gagal mendapatkan semua kemungkinan itu.

Tahu sendiri kan, bahwa seluruh penduduk Israel sudah tahu watak raja, yang bengis.

Awal-awal beliau jadi raja, seluruh daerah Israel mendapatkan layanan pesan singkat, berupa potongan –potongan dari sepasang lembu, dan beliau berpesan, siapa yang tidak maju mengikuti beliau dan mengikuti Nabi Samuel, maka lembu-lembunya akan diperlakukan juga demikian. (*8)

Kalimat ajakan beliau adalah dengan cara mengancam.

Sedangkan Nabi Samuel saja, yang adalah Nabi yang paling disegani di seluruh Israel,  pernah takut dibunuh raja Saul, jika sampai ketahuan bahwa dia mengurapi raja yang baru. Sampai-sampai pengurapan atas diriku itu harus dibungkus dengan acara upacara persembahan korban segala.

Apalagi cuma seorang Imam Ahimelekh, dia pasti ketakutan pada raja Saul. Resiko terberat adalah dibunuh, jika berani terang-terangan berpihak pada musuh raja.

Lho aku memang bukan musuh raja, tetapi rajalah yang memusuhi aku dan menganggap aku ini musuhnya. Nggak perduli, kebengisan raja sudah menjadi momok tersendiri bagi seluruh rakyat.

Begini saja. Lebih baik aku berbohong saja pada imam Ahimelekh. Bilang saja aku membawa misi rahasia dari raja, jadi pasukanku aku suruh pergi ke suatu tempat.  Dengan begitu dia tidak akan curiga.

Supaya dia tidak curiga mengapa aku tidak membawa senjata, nanti kubilang saja kalau perintah misi rahasia ini mendesak, sehingga aku tidak membawa baik pedang maupun senjataku.

Berbohong?

Waaah…itu pasti tidak berkenan di hadapan Tuhan !! Tapi….apa boleh buat !!

Akhirnya sampai juga pelarianku dari gua itu menuju tempat Imam Ahimelekh di Nob.

Detik sandiwara mau tidak mau harus dimulai.

Kulihat Imam Ahimelekh datang padaku dengan gemetaran.

“Mengapa engkau seorang diri dan tidak ada orang bersama-sama dengan engkau?”

Nah lho…benar kan dugaanku, akan muncul kalimat tanya seperti itu?

Aku harus menjawab tanpa gugup, aku harus atur nafas, sehingga semua terlihat natural.

“ Raja menugaskan sesuatu kepadaku, katanya kepadaku: Siapa pun juga tidak boleh mengetahui sesuatu dari hal yang kusuruh kepadamu dan yang kutugaskan kepadamu ini. Sebab itu orang-orangku telah kusuruh pergi ke suatu tempat.”

Kulihat wajahnya yang pucat kini menjadi tenang, dan gemetaran lutut dan tangannya mereda.

“Ooooohhhhh…”  helanya.

“Maka sekarang, apa yang ada padamu? Berikanlah kepadaku lima roti atau apa pun yang ada.”

Kataku mempertegas tujuan kedatanganku yang dibungkus dengan topeng ‘misi rahasia’ dari raja. Sepertinya kebohongan ini berhasil.

“Tidak ada roti biasa padaku, hanya roti kudus yang ada; asal saja orang-orangmu itu menjaga diri terhadap perempuan.” (*9A)

Waaauuu..ini roti yang hanya boleh dimakan oleh para imam. Namun bila Imam Ahimelekh memberikannya kepadaku..? Aku harus bagaimana..?? Masakan aku akan mati kelaparan dan menolak roti sajian ini?? Dia memang benar-benar tidak memiliki roti yang lain selain roti sajian ini. Hmmmmm

“Memang, kami tidak diperbolehkan bergaul dengan perempuan, seperti sediakala apabila aku maju berperang. Tubuh orang-orangku itu tahir, sekalipun pada perjalanan biasa, apalagi pada hari ini, masing-masing mereka tahir tubuhnya.”

Terpaksa aku bohong lagi. Kebohongan yang satu pasti akan berbuntut pada kebohongan yang berikutnya untuk menutupi kebohongan yang sebelumnya. Maka salah satu dari prinsip-prinsip perang pun kukedepankan untuk mempercantik kebohongan ini agar semakin terlihat natural.

Kami para tentara memang tidak dibatasi oleh hukum yang baku bahwa apabila kami berperang kami tidak boleh bersetubuh dengan perempuan. Namun memang ada hukumnya bila seorang tentara baru saja menikah, dia akan mendapat cuti kerja dan cuti perang selama satu tahun. (*10). Tapi hukum itu kan bukan untuk kepentingan perangnya, melainkan untuk kepentingan si pengantin baru itu sendiri, agar pernikahan mereka bisa bahagia tidak terganggu urusan perang.

Walaupun para tentara tidak ada yang pengantin baru, kami mengambil prinsip ketahiran. Pada saat pasangan suami isteri bersetubuh, mereka akan tidak tahir sampai matahari terbenam. (*9B). Kami selalu pastikan para tentara dalam keadaan tahir saat ada dalam peperangan bagi Tuhan. Kami mau vokus dan berkonsentrasi pada saat kami berperang. Karena peperangan kami adalah untuk Tuhan, untuk umat-Nya, untuk biji mata-Nya.

Rupanya prinsip perang yang selama ini kami jalankan, telah cukup terdengar dan dimengerti oleh masyarakat luas, seperti halnya Imam Ahimelekh ini pun saat ini ikut diyakinkan dengan sangat mudah.

Sebenarnya gemetaran juga aku menerima roti sajian itu, tetapi cepat-cepat aku tahan kegugupanku agar kebohongan ini jangan sampai terbongkar. Huih….hidupku bisa tersambung lagi dengan perbekalan roti sajian ini! Memang aku sudah amat sangat lapar. Mikhal isteriku tidak sempat membawakanku bekal apa-apa dalam pelarianku ini. Semuanya serba darurat.

Mata ‘prajurit’ku segera melirik ke tempat jauh. Ada sesosok pribadi yang mengawasi gerak-gerikku dari tadi.  Darah keprajuritanku membawaku pada kepekaan tertentu. Hidung keprajuritanku mencium suatu pengintaian dari orang  yang berpihak pada raja. Di situ ada Doeg, seorang Edom, dia adalah salah seorang pegawai Saul, yang dikhususkan melayani TUHAN, dia adalah pengawas atas gembala-gembala Saul.

Emmmm biar saja. Kita lihat saja nanti apakah kepekaanku sebagai seorang prajurit itu benar.

Lalu…soal senjata…? Gleg. Aku menelan ludah. Harus ada kebohongan ketiga yang harus diucapkan, kalau mau mendapatkan senjata apa saja yang mana tahu dimiliki Imam Ahimelekh ini.

“Tidak adakah padamu di sini tombak atau pedang? Sebab baik pedangku maupun senjataku, tidak dapat kubawa, karena perintah raja itu mendesak.”

Modus yang sama menjadi topeng kebohonganku kali ini. Misi rahasia. Misi rahasia dari raja. Misi itu begitu mendesak, sampai-sampai aku tidak sempat membawa senjata.

Tergelitik geli juga aku dengan kebohongan bodoh ini. Mana ada prajurit ceroboh yang pergi tanpa membawa senjata. Apa boleh buat, persenjataan merupakan hal terpenting untuk pertahanan hidupku saat ini.

“Pedang Goliat, orang Filistin, yang kaupukul kalah di Lembah Terbantin, itulah yang ada di sini, terbungkus dalam kain di belakang efod itu. Jika engkau hendak mengambilnya, ambillan, yang lain tidak ada, hanya ini.”

Mataku terbelalak. Huaaahhh??? Pedang Goliat..?? Di mana lagi aku bisa dapat senjata sehebat dan sefenomenal ini..??

“Tidak ada yang seperti itu; berikanlah itu kepadaku.”

Aku menggenggam pedang yang beralih tangan dari Imam Ahimelekh yang telah mengambil pedang Goliat itu dari belakang baju efod dan memindahtangankan kepadaku.

Sejenak hatiku bergejolak. Aku tidak pernah lupa peristiwa itu. Saat itu perisai, pedang, tombak serta lembing menjadi senjata andalan Goliat. Tetapi saat itu yang menjadi andalanku adalah Nama Tuhan, yaitu Tuhan-nya orang Israel. Dan pedang Goliat itu sendiri yang oleh tanganku memenggal kepalanya sendiri. Ha-ha ha ha ha…

Ta-ta-ta-pi….mengapa sekarang justru pedang Goliat ini yang jadi andalanku..?? Apakah pedang ini nanti dapat saja melayang ke leher raja? Beliau orang Israel, beliau bukan musuh negara…apakah sungguh-sungguh aku memerlukan pedang ini..?? Bukankah ini pedang milik orang Filistin bernama Goliat yang terbukti tidak ada apa-apanya jika diperhadapkan dengan Nama Allah yang hidup, yaitu Allah Israel..??

Kemana nama Tuhan yang selama ini mengatasi pedang ini..?? Kemana kutaruh nama Tuhan yang dahsyat itu..??

Iman.

Iman kepada Tuhan.

Sebuah arti kata yang dalam dan terkadang tampak konyol jika diperhadapkan dengan kenyataan pahit yang aku hadapi sekarang.

Apakah normal kalau aku sekarang ini lari dari raja yang bengis dengan cara pergi kosongan tanpa senjata apapun..?? Apakah perlindungan Tuhan itu nyata??

Ahhh sudahlah !

Hari ini juga aku harus segera lari lagi ke tempat berikutnya.

Hai , si Doeg orang Edom itu memperhatikan lagi gerak-gerikku dari jauh. Walaupun aku tidak membiarkan mataku menatapnya dengan sengaja, lewat ekor mata aku tahu bahwa orang ini membahayakan.

Apa boleh buat. Aku harus segera lari lagi ke tempat yang jangan sampai ada yang tahu. Sebuah tempat yang aman.

Lebih baik aku ke area musuh. Ke daerah orang Filistin. Pedang orang Filistin. Tinggal bersembunyi di area Filistin. Apa boleh buat. Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkan rasa aman. Kesampingkan sementara kehendak Tuhan. Tidak perlu banyak berkonsultasi pada Tuhan. Tuhan tentu tahu kegentingan dan kegentaran yang melanda hatiku yang sedang tidak bersemangat sama sekali. Dia tentu sangat maklum perihal semua kebohongan pada Imam Ahimelekh, dan perihal roti sajian sebagai bekal ini, juga pedang Goliat sebagai senjataku ini, serta..semoga Tuhan buka jalan untuk aku bisa berlindung di daerah musuh.

Aku akan pergi ke Gad, dan raja yang memerintah di kota Gad saat itu adalah Raja Akhis. Kalau aku pergi ke area musuh, bisa jadi aku mendapat perlindungan politik, yang mana raja tidak akan berani mengejar aku sampai ke wilayah musuh.

Hari ini juga…yeah…hari ini juga.

 

AKU MELARIKAN DIRI KE GAT

Aku melanjutkan pelarianku ke Gat, di sana aku bertemu Akhis, raja kota Gat, ….gawat !! Pegawai-pegawai raja Akhis itu mengenali aku….wah ..ternyata nyanyian-nyanyian perempuan-perempuan Israel saat menyambut aku pulang perang, sampai terkenal di luar negri, dan mereka tahu siapa aku !! Aku perhatikan sekali kata-kata mereka, wah gawat ini …..!!!

Mereka menangkap aku dan menyerahkan aku ke hadapan raja mereka..raja Akhis !

Alhasil aku pun berpura-pura jadi orang gila aja, daripada mati konyol di negri orang ! Ini sudah salah satu resiko keterkenalan aku…

Inilah catatan mazmurku sesaat setelah peristiwa konyol itu terjadi, yaitu saat aku berpura-pura jadi orang tak waras di depan raja Akhis atau raja Abimelekh itu, ada dua karya arransementku pada saat itu..

Karyaku yang pertama terkait peristiwa ini adalah yang dibawah ini, ini  adalah karya yang keluar dari kedalaman pengalaman batinku bersama dengan Tuhan, saat aku telah terlepas dari penangkapan orang Gad, dengan cara berpura-pura gila di depan raja.

 

KEPERCAYAAN KEPADA ALLAH DALAM KESUSAHAN

(Mazmur 56)

Untuk pemimpin biduan.

Menurut lagu;Merpati di pohon-pohon terbantin yang jauh.

Miktam dari Daud, ketika orang Filistin menangkap dia di Gat.

 

Kasihanilah aku, ya Allah, sebab orang-orang menginjak-injak aku,

sepanjang hari orang memerangi dan mengimpit aku!

Seteru-seteruku menginjak-injak aku sepanjang hari,

Bahkan banyak orang yang memerangi aku dengan sombong

Waktu aku takut,

Aku ini percaya kepada-Mu;

Kepada Allah, yang firman-Nya kupuji,

Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut,

Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

 

Sepanjang hari mereka mengacaukan perkaraku;

mereka senantiasa bermaksud jahat terhadap aku.

Mereka mau menyerbu, mereka mengintip, mengamat-amati langkahku,

Seperti orang-orang yang ingin mencabut nyawaku.

Apakah mereka dapat luput dengan kejahatan mereka?

Runtuhkanlah bangsa-bangsa dengan murka-Mu, ya Allah !

Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung,

Air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu

Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?

Maka musuhku akan mundur pada waktu aku berseru;

Aku yakin, bahwa Allah memihak kepadaku.

Kepada Allah, firman-Nya kupuji,

Kepada TUHAN, firman-Nya kupuji,

Kepada Allah aku percaya, aku tidak takut.

Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?

Nazarku kepada-Mu ya Allah, akan kulaksanakan,

Dan korban syukur akan kubayar kepada-Mu

Sebab Engkau telah meluputkan aku dari pada maut,

Bahkan menjaga kakiku, sehingga tidak tersandung;

Maka aku boleh berjalan di hadapan Allah

Dalam cayaha kehidupan.

 

Hu ha hu ha hu ha…terengah-engah aku lari dari hadapan raja orang Gad itu. Lebih tepatnya aku diusir…

Sesampainya di tempat aman. Aku menangis tersedu –sedu (*11). Aku laki-laki, tetapi aku menangis. Ada yang tumpah ruah dari hatiku terdalam. Memang aku sendirian. Tidak ada yang melihat aku menangis, hanya Tuhan saja yang tahu. Aku tahu bahwa Dia menyimpan air mataku dalam kirbat-Nya. Setiap air mata kita ada dalam koleksi-Nya. Dan setiap air mata ada namanya, dan air mataku barusan adalah air mata pertobatan. Semua ada daftar nama dari setiap butir air mata, dan daftar nama dari tiap air mata itu ada di tangan-Nya. Semua air mataku telah didaftarkan oleh kasih setia-Nya padaku.

Baru saja aku lolos dari jerat maut di tangan musuh. Di daerah musuh.

Aku pikir tidak mungkin ada yang kenal aku, tetapi ternyata tidak. Semua musuh sudah tahu aku. Tidak dapat ditutup-tutupi wajahku, aku tidak siap dengan penyamaran apa pun.

Untung Tuhan memberi ide dadakan padaku untuk langsung berpura-pura gila di depan raja. Huuuiiiiihhhh!! Hampir saja !!

Hampir saja apa?? Bukan ! Bukan hampir saja aku gila !! Tetapi hampir saja aku tertangkap dan terbunuh musuh !

Aku tahu..bahwa untuk dapat lepas dari belenggu musuh, yaitu orang Gad, dan untuk lepas dari belenggu raja mereka, raja Akhis, itu adalah suatu mujizat.

Terbukti pedang Goliat yang kubawa sebagai titik aman hidupku, ternyata tidak berfungsi sama sekali. Mana bisa aku melawan orang satu kota hanya dengan satu pedang dan hanya diriku seorang diri..??

Sehebat-hebatnya masa laluku sebagai seorang gembala yang mengalahkan singa dan beruang. Sekeren-kerennya pengalamanku memenangkan  duel melawan Goliat, dan sedahsyat-dahsyatnya catatan perangku di masa lalu yang selalu memang, bahkan sebagai kepala prajurit, kemanapun aku pergi berperang, aku selalu menang. Tapi ingat…setelah Goliat kalah, tetap bangsa Israel bersama-sama secara tim mengejar pasukan Filistin itu, juga perlu dicatat, bahwa kemenanganku dalam berperang juga karena kerja tim.

Tapi sekarang ini…aku bisa terluput dari ancaman satu kota dengan satu raja mereka, semata-mata adalah karena TUHAN semata. Tuhanlah yang meluputkan aku dari maut. Bukan pedang Goliat ini, sama sekali bukan.

Aku malu pada Tuhan, karena sempat mengeluh. Saat di pelarian sebelumnya, di gua itu, aku sempat bersungut-sungut dan mengeluh pada Tuhan, mengapa tidak ada orang-orang benar yang Tuhan kirimkan untuk menolong dan menemani aku. Kalau memang Tuhan berbuat baik padaku, mestinya kan Dia kirimkan orang-orang benar mengelilingi aku. Mengapa hal itu tidak terjadi?

Itulah sikap hatiku dulu. Itulah sebabnya aku nekat berbohong pada imam Ahimelekh dan juga meminta roti serta senjata padanya.

Mungkin saja waktu itu aku nekad mau menunjukkan pada Tuhan bahwa tanpa bertanya akan kehendak-Nya pun aku sanggup bertindak sendiri. Aku bisa atasi dengan caraku sendiri semua masalah pelik ini.

Kini setelah terbukti bahwa semua caraku itu salah. Tuhan bisa kog selamatkan aku tanpa pedang Goliat ini dilayangkan. Tuhan ternyata bisa kog selamatkan aku tanpa aku dibela oleh seorang pun, karena aku memang tidak bersama rombongan, aku sebatangkara.  Tuhan ternyata bisa kog memberiku ide mendadak untuk berpura-pura gila. Dan walaupun aku tidak pernah belajar khusus di kelas teater manapun, toh si raja Akhis itu kog bisa percaya bahwa aku gila. Aku tahu ini bukan karena actingku bagus, tetapi semata-mata karena Tuhan sendiri yang mau meluputkan aku dari maut. Oleh karena kasih setia-Nya padaku.

Terkadang aku tidak setia, tetapi Dia tetap setia padaku.

Aku jadi malu dengan semua sikap persungutan dan omelan-omelanku pada-Nya. Sikap hatiku yang salah pada-Nya.

Mulai sekarang aku akan berjanji, bernazar pada Tuhan, untuk membayar kepada Tuhan korban syukur. Korban syukur itu artinya mengandung arti korban. Korban itu menyakitkan, harus disembelih dan dibakar sampai hangus. Artinya di saat-saat sulit mengucap syukur, di saat-saat yang tidak nyaman, di saat itulah justru saat yang tepat untuk menaikkan K-O-R-B-AN ucapan syukur pada Tuhan. Tuhan itu baik pada segala waktu, walaupun terkadang kita tidak dapat memahami cara-Nya yang unik dan luar biasa.

Ampuni aku Tuhan. Aku bernazar dan akan kubayar nazarku untuk terus bersyukur kepada-Mu. (*12)

Aku pun kemudian melarikan diri dari Raja Akhis di Gad itu…..

 

AKU MELARIKAN DIRI KE GUA ADULAM

Berikutnya aku pun bersembunyi di gua Adulam.

Rupanya kini keluargaku terkena imbas daripada semua masalah ini. Tanpa kesalahan apa pun aku kini jadi berstatus  buronan raja, dan keluargaku pun menjadi sasaran pencarian, disangkut-sangkutkan, dan  nyawa mereka pun terancam.

Keluargaku mencariku dan gabung dengan aku, juga semua orang bermasalah datang padaku..semuanya ada kira-kira empat ratus orang.

Gua ini tadinya sepi, cuma aku seorang diri, tetapi sekarang benar-benar ramai.

Apakah ini jawaban Tuhan terhadap jeritan hatiku sejak awal pelarianku yang diselimuti kesendirian dan kesebatangkaraan..??

Tapi kan pada waktu itu aku meminta agar hidupku dikelilingi orang-orang benar…mengapa yang datang ini justru sebaliknya?

Di antara mereka ada keluargaku, kakak-kakakku …

Ada kakakku yang tertua Eliab, dia seorang yang ganteng, perawakannya tinggi.

kakak keduaku Abinadab, serta kakak ketigaku Syama..

Mereka bertiga dulunya adalah tentara Israel, tetapi sekarang status mereka adalah  buronan raja, karena mereka bertalian darah denganku.

Juga termasuk diantaranya kakakku yang keempat, Natanael, kakakku yang kelima Radai, kakakku yang keenam Ozem, dan  kakak tiriku, yang sudah aku anggap sebagai kakakku yang ketujuh, Elihu (*1)

Kasihan mereka, mereka ikut menjadi orang-orang yang dikejar-kejar raja karena mereka bertalian darah dengan aku.

Apalagi Eliab kakak tertuaku. Dia memang ganteng, dan perawakannya memang tinggi. Dia seorang tentara yang maju berperang untuk kepentingan bangsanya. Tidak seperti aku yang imut dan seorang gembala biasa. Anak rumahan yang sekaligus menjaga ayah kami yang sudah tua. Dia menyaksikan nabi Samuel mencurahkan minyak urapan di atas kepalaku sebagai raja yang berikutnya. Namun memang tidak ada perubahan apa-apa yang bisa dilihat oleh orang-orang di sekitarku. Aku keesokan harinya tetap jadi gembala seperti biasanya, dan ketiga kakakku yang paling besar tetap pergi berperang seperti biasanya. Tetapi yang tahu perbedaannya hanya aku dan Tuhan, karena sejak aku diurapi oleh Tuhan, sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh Tuhan atas hidupku. Aku bukan gembala biasa lagi. Aku bukan anak ingusan lagi. Baju boleh tetap baju gembala, tetapi di dalam sini, di dalam dadaku, di dalam hidupku ada sesuatu Roh Tuhan yang berkobar-kobar dan tidak dapat kuceritakan betapa dahsyatnya pengalaman itu. Bukan hari itu saja..pengalaman dahsyat itu, tetapi sampai ‘dan seterusnya’,….sampai hari ini pun pengurapan Roh Tuhan itu masih membara di dalam diriku.

Tak lama sesudah itu memang aku dipanggil oleh raja menjadi pemusik istana sekaligus menjadi pembawa senjata raja. Tidak lebih dari itu.

Tapi kan pada saat peperangan, raja tidak pernah mengajakku kan?? Bagiku tidak masalah untuk kembali ke rumah ayah dan membantu ayah menggembalakan kambing domba yang hanya dua tiga ekor itu. Hatiku tetap bersukacita. Di mana pun aku tetap bisa memuji Tuhan dan bermazmur bagi Dia. Entah di hadapan raja, ataupun saat menggembalakan kambing domba milik keluarga kami.

Pada saat yang tidak terduga itu terjadilah kebetulan ajaib, karena aku tahu pasti Tuhan yang sudah mengaturnya, aku sampai di medan pertempuran.

Tetapi kan motivasiku bukan karena aku ingin melihat-lihat pertempuran seperti yang dituduhkan kak Eliab padaku, murni aku hanya mengantar makanan untuk perbekalan kakak dan teman-teman tentaranya. Itu saja.

Kalau pada akhirnya aku yang dipakai Tuhan untuk mengalahkan Goliat dan seterusnya aku menjadi tentara juga, itu lain soal. Itu diluar rencanaku sama sekali.

Kasihan kak Eliab. Apakah dia masih marah padaku? Gara-gara akulah dia sekarang ikut jadi buronan raja!

Begini saja. Biarlah kak Eliab dan kakak-kakakku lainnya melihat bagaimana perbuatan Tuhan dalam hidupku, sejak aku diurapi menjadi raja yang berikutnya. Memang status buron dan status raja seperti bumi dan langit, tetapi aku mau tunjukkan pada mereka bahwa untuk jadi raja itu mudah, tetapi untuk Tuhan mempersiapkan seorang raja itu butuh waktu untuk membentuk aku si Daud imut ini menjadi aku si Daud yang berkenan di hadapan Tuhan.

Seorang raja yang dipakai Tuhan untuk menggembalakan umat-Nya yang adalah biji mata-Nya, tidak perlu terburu-buru dilantik hari ini, dan itu bukan menjadi tujuan utama hidupku. Aku tidak berambisi untuk itu. Tetapi jika itu adalah panggilan Tuhan dan Tuhan merasa perlu untuk memasukkan aku dalam proses persiapan itu, aku mau taat.

Bisa jadi kakak-kakakku merasa sebal denganku, gara-gara aku mereka jadi ikut menjadi buronan raja. Mana aku tahu kalau semua berujung seperti ini ! Bukankah aku tidak pernah melakukan sesuatu yang pantas untuk menjadi buronan raja? Bukankah ini semua sebenarnya hanya karena jiwa raja yang rapuh dan iri hati secara membabi buta padaku !

Apa boleh buat, kakak-kakakku sekarang ikut termasuk dalam rombongan empat ratus orang yang mengikutiku dan datang ke gua Adulam ini.

Dari berbincang dengan mereka yang lainnya, aku akhirnya tahu, bahwa mereka adalah orang-orang yang berada dalam kesukaran. Ada-ada dan macam-macam saja masalah mereka. Pendeknya, mereka bukan orang yang sukseslah. Ada masalah-masalah yang membuat mereka putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa. Orang-orang model begini yang bergabung denganku saat ini. Sama sekali bukan ciri-ciri orang-orang benar.

Tidak sedikit dari mereka adalah orang-orang yang dikejar-kejar tukang piutang. Mungkin hutang mereka benar-benar bertumpuk-tumpuk, sudah gali lubang dan tutup lubang dan gali lubang lagi. Untuk menutup hutang berikutnya dengan cara membuat hutang yang baru. Kehidupan ekonomi yang awut-awutan, ancur-ancuran, telah melanda ekonomi keluarga mereka, sehingga mereka sudah tidak memiliki jalan keluar lagi. Bisa jadi mereka orang yang boros, ataupun orang yang malas bekerja, ataupun orang yang tidak jujur dan tidak pernah punya itikat baik untuk membayar hutang-hutang mereka, malahan lari bergabung denganku.

Jauh sekali dari ciri-ciri orang benar. Orang-orang seperti ini yang Tuhan kirim bergabung denganku.

Saat mereka mengungkapkan masalah-masalah mereka, terungkap ke permukaan bahwa sebenarnya mereka banyak yang sedang sakit hati, tidak mau mengampuni, dendam, merencanakan pembalasan dendam, trauma masa lalu yang menyakitkan, dan keruwetan hubungan mereka dengan pasangannya, mertuanya, keluarganya, tetangganya, rekan kerjanya, dan pendek kata, pada semua orang. Jenis-jenis orang yang tidak mau berdamai dengan orang lain, sombong, merasa benar sendiri, tidak mau mengalah, tidak mau rendah hati, tidak mau mengejar perdamaian dengan orang lain, suka bertengkar, suka iri serta suka menghasut sana-hasut sini.

Huih !! Ini masalah. Biasanya orang yang pahit hati akan juga menjadikan dirinya pahit buat siapa pun, karena mereka mudah pahit dengan siapa pun.

Huadeuuuuwwwwwhhh. Jauh sekali dengan kriteria orang benar.

Mimpiku dikelilingi orang-orang benar. Tetapi yang Tuhan kirimkan justru orang-orang dengan latar belakang seperti ini.

Baiklah. Bukankah aku sudah berkomitmen, sudah mengambil sebuah ketetapan hati dan nazar di hadapan Tuhan untuk terus menaikkan korban syukur..??

Apa yang harus aku lakukan dengan orang-orang dengan model-model seperti ini Tuhan..??

Malam itu aku merenungkan semuanya.

Kalau memang impianku dikelilingi orang-orang benar, tetapi justru orang-orang gagal yang Tuhan kirimkan, mengapa tidak aku ubah saja hidup mereka dari orang gagal menjadi orang benar..??

Bagaimana caranya ya…??

Ho ho ho ho….baik Tuhan, aku akan laksanakan ide cemerlang dari-Mu.

Yups !

Mereka butuh kasih sayang ayah. Aku akan jadi ayah buat mereka.

Dan mereka tidak hanya butuh itu, tetapi juga butuh pendidikan yang akan mendidik mereka sehingga mereka mengalami perubahan karakter dari si gagal, si brengsek, si ugal-ugalan, si berangasan, menjadi si pemengang, si lebih dari pemenang, si pahlawan, si kesatria !!

Mereka butuh guru yang mengajar dan mengarahkan hidup mereka, dan aku akan jadi guru buat mereka.

Cihuiiii…ide cemerlang Tuhan, terima kasih !!

Baiklah Tuhan. Besok akan aku umumkan apa yang menjadi nama sekolah kami, dan apa yang menjadi kurikulumnya, serta apa yang menjadi ukuran kelulusan dari sekolah ini.

Tapi …mau mulai dari mana ya…??
Oke, aku akan mulai dari kisahku yang sangat luar biasa bersama Tuhan. Aku akan ceritakan pada mereka semua, empat ratus orang itu, bahwa ada sebuah perubahan besar dalam hidupku.

Aku yang dulu dan aku yang sekarang.

Tadinya sih aku mengawali semuanya dengan baik. Saat aku berpisah dari Mikhal isteriku. Hari –hari itu imanku masih berpaut pada perlindungan Allah Israel. Namun ketika bertubi-tubi kejaran raja menteror diriku…aku mulai alami kebocoran tertahanan diri.

Aku dulu sempat loyo, putus asa, dipenjarakan oleh ketakutan, seoalah semuanya suram, menggerutu selalu, menuntut ini itu pada Tuhan dan kalau Tuhan nggak menjawab seperti yang aku mau dan cara-cara yang aku pikirkan, aku marah dan berjalan sendiri tanpa mengandalkan Tuhan. Aku mulai melenceng dengan menaruh iman dan pengharapanku pada pedang musuh, area musuh bahkan aku mulai berbohong untuk mencari titik aman dengan caraku sendiri.

Aku yang sekarang telah bertobat.

Semua itu telah berubah sejak aku berhasil meloloskan diri dari orang-orang Filistin di kota Gad, bahkan dari depan raja Akhis, raja kota Gad itu. Dan ternyata semua cara-caraku mengandalkan pedang musuh tidak berguna sama sekali. Aku bisa terluput semata-mata karena pertolongan Tuhan,

Di situlah titik pertobatanku. Di situlah titik balikku. Aku mau beritahukan pada mereka semua, empat ratus orang ini, bahwa pada segala waktu kita harus memuji Tuhan. Itu wajib ada di mulut kita.  Itu hal pertama. Jangan sampai seperti aku dulu yang kerjanyanya cuma mengeluh dan menggerutu terhadap keadaan.

Hal kedua, jangan pernah andalkan diri sendiri. Jangan pernah andalkan keberhasilan di masa lalu. Jangan pernah andalkan nama besar, rekor keberhasilan, ataupun senjata ampuh. Biarlah hanya TUHAN yang jadi andalan kita. Punya senjata boleh, punya nama besar boleh, punya rekor boleh sih boleh, tetapi tetap akan hancur jika mengandalkan semuanya itu.

Contohnya ada…hidupku sendiri. Apa nama besarku yang akhirnya menyelamatkanku saat di kota Gad itu..?? Huuuuiiiiiihhhh!! Justru gara-gara nama besar, justru gara –gara nyanyian fans yang terkenal sampai ke negri sebranglah- aku nyaris dibunuh oleh musuh dengan sangat mudah dan  sangat konyol. Justru karena aku terlalu mudah dikenali itulah maka aku harus berpura-pura gila untuk bisa lolos dengan cara diusir.

Siapa bilang semua yang tampak ‘wah’ dari luar bisa jadi andalan kita ?? T-i-d-a-k sama sekali !

Cuma Tuhan andalan kita ! Tidak ada yang lain. Jadi percayalah, semua pencapaian itu harus dikembalikan untuk kemuliaan nama-Nya karena semua itu semata-mata hanya oleh karena anugrah-Nya.

Mungkin mereka heran melihat wajahku yang sekarang ini berseri-seri. Lha itu kan sekarang !! Mereka tidak melihat wajahku dulu yang tertindas, wajah yang tertunduk, wajah yang malu, semua karena kegentaran dan kesesakan menjadi penjara yang merengut keimutanku.

Apa rahasianya..??

Gampang toh. Selama kita memandang wajah Tuhan, bukan bervokus pada masalah kita terus-terusan, saat itulah Tuhan membuat wajah kita bisa berseri.

Tetapi kalau kita terus memandangi masalah kita, maka kita akan cepat tua !

Mungkin mereka akan bertanya..lha kita kan tidak punya persediaan senjata..gimana nanti jika kita terus-terusan dikejar-kejar raja yang bengis itu..??

Gampang saja !

Iman.

Iman kepada Allah yang hidup.

Allah yang sanggup mengirimkan pasukan malaikat-Nya untuk mengawal kita di mana pun, apa pun situasinya dan segenting apa pun keadaannya.

Gampang kan ?

Kebaikan Tuhan itu harus mereka lihat dan mereka kecap, seperti aku sudah melihat kebaikan-Nya dan mengecapnya pula.

Kalau nggak seperti itu…huuuuiiiihhh rugi !!

Ini nih yang aku saksikan pada mereka pada sesi pertama pertemuan kami. Sesi satu di pagi hari.

 

DALAM PERLINDUNGAN TUHAN

(Mazmur 34)

Dari Daud, pada waktu ia pura-pura tidak waras pikirannya di depan Abimelekh, sehingga ia diusir, lalu pergi.

Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu;

Puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.

Karena TUHAN jiwaku bermegah;

Biarlah orang-orang yang rendah hati mendengarnya dan bersukacita.

Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku,

Marilah kita bersama-sama memasyurkan nama-Nya!

Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku,

Dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.

Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri,

Dan tidak akan malu tersipu-sipu

Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar;

Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya.

Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia,

Lalu meluputkan mereka.

Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya TUHAN itu !

Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya !

 

Nah setelah kami beristirahat sejenak, aku kumpulkan mereka lagi untuk mendengarkan kurikulum SEKOLAH KARAKTER TAKUT AKAN TUHAN yang aku dirikan. Ini adalah sesi dua di sore hari.

Takutlah akan TUHAN,

Hai orang-orang-Nya yang kudus,

Mulai sekarang , mereka harus mulai terbiasa untuk memiliki panggilan baru. Bukan si begal. Si penipu, si gagal, si pecundang, si sampah masyarakat, si madesu ( masa depan suram), tetapi mulai saat ini aku akan panggil mereka Hai orang-orang-Nya yang kudus. Memang geli mendengarnya…”Apa..?? Kami dipanggil kudus..?” Biar saja ! Mereka akan terbiasa dengan panggilan itu. Karena itu yang jadi Visi Tuhan dalam hidup mereka. Tadi malam Tuhan sudah bawa aku dalam visi ilahi ini. Memang ini project aneh dan tampaknya mustahil, tetapi kalau Tuhan bilang mereka bisa berubah, aku yakin, ini adalah project emas !! Mendulang emas !!

 

Sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!

Singa-singa muda merana kelaparan,

tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik.

 

“Katanya kalian ingin hidup tidak berkekurangan..??”

Aku mulai menantang mereka untuk memiliki imajinasi akan adanya peningkatan taraf hidup yang bisa saja mereka alami, tetapi  ada syaratnya, mereka harus menjadi orang-orang yang mencari TUHAN. Niscaya, mereka tidak akan kekurangan sesuatupun yang baik. Singa-singa muda boleh-boleh saja alami kelaparan, tetapi ingat ! Dalam rombongan ini aku jamin, kita tidak akan mengalami yang namanya kepalaran !

Marilah anak-anak,

Dengarkanlah aku,

Takut akan Tuhan akan kuajarkan kepadamu!

Nah ini dia ! Di sinilah aku sedang umumkan statusku di hadapan mereka semua. Aku tidak sekedar sebagai pemimpin mereka, tetapi aku juga adalah ayah rohani mereka, dan aku adalah guru mereka yang baru. Guru kehidupan. Guru karakter.

Jangan salah…kata-kata ini bukan aku tujukan untuk anak kandungku, karena sampai detik ini  aku belum punya anak satupun dari Mikhal, dan selama dalam pelarian ini aku belum didampingi perempuan mana pun. Aku sama sekali belum terpikir untuk menikah lagi dan punya anak –anak kandung. Nanti sajalah..kapan-kapan kalau waktunya sudah tepat. (*13)

Lalu apa yang jadi kurikulum di SEKOLAH KARAKTER TAKUT AKAN TUHAN ini…??

Ini dia :

Siapakah orang yang menyukai hidup,

yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?

 

Syarat masuk dalam sekolah ini gampang. Yaitu siapa saja yang menyukai hidup dan mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik !

Setelah aku tanya, semuanya mau. Jadi empat ratus orang ini semuanya aku terima menjadi anak-anakku dan murid-muridku.

 

Jagalah lidahmu terhadap yang jahat, dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;

 

Kurikulum pendidikan tingkat dasar : BENAR DALAM PERKATAAN, JUJUR, BERINTEGRITAS.

 

Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang biak,

 

Kurikulum pendidikan tingkat menengah : BENAR DALAM TINDAKAN, BERBUDI LUHUR

 

Carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya !

 

Kurikulum pendidikan tingkat lanjut : HIDUP BERDAMAI DENGAN TUHAN DAN DENGAN ORANG LAIN.

Dan apa ya yang nanti akan mereka dapatkan kalau sudah lulus pendidikan tingkat dasar, menengah dan tingkat lanjut ini..??

 

Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar,

Dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong;

Wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat

untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi.

Apabila orang-orang benar itu berseru-seru , maka TUHAN mendengar,

dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.

TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati,

Dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.

Kemalangan orang benar banyak

Tetapi TUHAN melepaskan dia dari semuanya itu;

Ia melindungi segala tulangnya, tidak satu pun yang patah,

Kemalangan akan mematikan orang fasik,

dan siapa yang membenci orang benar akan menanggung hukuman.

TUHAN membebaskan jiwa hamba-hamba-Nya,

Dan semua orang yang berlindung pada-Nya tidak akan menanggung hukuman.

 

Keesokan harinya aku luncurkan pada para anak-anakku yang sekaligus menjadi murid-muridku, sebuah tantangan, apakah mereka akan memilih terus-terusan menjadi orang bebal ataukah akan memutuskan untuk berbalik dan menjadi orang –orang arif?

Ini adalah sesi tiga. Hari kedua di pagi hari.

Orang-orang Arif adalah orang-orang yang hidupnya mau dipulihkan oleh Tuhan, bersedia dibentuk oleh Tuhan.

Maukah mereka serahkan hidup mereka pada Tuhan untuk Tuhan bisa pakai hidup mereka berguna bagi pemulihan bangsa dan negara kita??

Terang-terangan aku tantang mereka semua!

 

KEBOBROKAN MANUSIA

(Mazmur 53)

Untuk pemimpin biduan.

Menurut lagu: Mahalat.

Nyanyian pengajaran Daud.

 

Orang bebal  berkata dalam hatinya: “Tidak ada Allah! 

Busuk dan jijik kecurangan mereka, tidak ada yang berbuat baik.

Allah memandang ke bawah dari sorga  kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah ada yang berakal budi  dan yang mencari Allah.

Mereka semua telah menyimpang, sekaliannya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik, seorangpun tidak.

Tidak sadarkah orang-orang yang melakukan kejahatan, yang memakan habis umat-Ku seperti memakan roti, dan yang tidak berseru kepada Allah?

Di sanalah mereka ditimpa kekejutan yang besar, padahal tidak ada yang mengejutkan;

sebab Allah menghamburkan tulang-tulang  para pengepungmu;

mereka akan dipermalukan,  sebab Allah telah menolak mereka.

 

Ya, datanglah kiranya dari Sion keselamatan bagi Israel!

Apabila Allah memulihkan keadaan umat-Nya,

maka Yakub akan bersorak-sorak,

Israel akan bersukacita.

 

Syukurlah, kami mencapai kata sepakat untuk bersama-sama bergerak untuk berubah dari gerombolan barisan orang gagal, menjadi pada akhirnya sebuah pasukan para pahlawan Israel.

Memang aku tahu bahwa proses ini tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tetapi perjalanan sekolah ini baru saja dimulai…Haleluya !!

Aku sangat bergairah untuk sekolah yang Tuhan dirikan ini ! Waaauuuu…pelajaran-pelajaran kehidupan seperti apa ya yang Tuhan suguhkan dalam kurikulum sekolah kami ini..??

Kita lihat saja nanti !

Ayahku, Isai dan ibuku ikut memperhatikan pemaparan tiga sesi ini. Dan aku melihat wajah mereka yang sudah tua renta, ikut berseri-seri. Aku tidak mau mereka melihat status keluarga kami sebagai ‘buron’raja, tetapi aku mau mereka melihat status kami semua sebagai orang-orang yang berjalan makin lama makin memperkenan hati Tuhan. Ngeri sih pasti melihat anak-anaknya kog hidupnya dikelilingi orang-orang berangasan seperti ini, orang-orang yang ugal-ugalan dan urakan, lihat saja gaya berpakaian mereka yang awut-awutan dan amburadul. Aku bisa menyelami hati ayah dan ibuku.

Padahal dulu ayahku begitu bangganya akan ketiga anaknya yang paling besar, perawakan mereka gagah, wajah mereka ganteng-ganteng, dan mereka anggota tentara Israel. Tetapi sekarang..??

Syukurlah dengan presentasi tiga sesi ini, aku ajak iman mereka ikut bangkit. Keluarga dari anak-anaknya punya masa depan gemilang, selama kami terus mencari wajah Tuhan. Tenang aja ayah..tenang aja ibu…Tuhan tidak meninggalkan kita !

Nanti akan ada kisah menarik jika semua anak murid rohaniku ini telah lulus dari Sekolah karakter Takut akan Tuhan ini ! Itu sudah pasti !!

Apakah ayah ibu masih cukup sehat untuk menyaksikan wisuda mereka semua..??

 

AKU DAN ANAK MURIDKU ,

KAMI MELARIKAN DIRI KE KUBU-KUBU  GUNUNG

DI DAERAH MIZPA, DI MOAB

Kasihan, ayah dan ibuku sudah tua, mereka bukannya lincah lagi untuk berjalan cepat, berlari ataupun mendaki. Jadi aku titipkan mereka pada Raja negeri Moab, untunglah raja negeri Moab mau membantuku menjaga ayah dan ibuku, sehingga mereka terhindar dari bahaya pemburuan buronan ini.

“Izinkanlah ayahku dan ibuku tinggal padamu, sampai aku tahu, apa yang dilakukan Allah kepadaku.”

Aku tegaskan pada raja negeri Moab, bahwa aku akan cari tahu apa yang jadi kehendak Tuhan buat hidupku dan buat hidup empat ratus orang yang gabung di gua Adulam ini.

Aku benar-benar kapok. Sudah tidak mau lagi berjalan dengan kehendak sendiri. Babak belur kalau aku berjalan tanpa tuntunan Tuhan, ujung-ujungnya cuma berakhir pada berbohong dan diliputi kecemasan.

Sementara ayah dan ibuku aku titipkan di sana, aku tinggal di kubu-kubu gunung di daerah itu.

Sepertinya raja sudah mencium titik pesembunyianku di tempat ini…..

 

AKU DAN ANAK MURIDKU,

KAMI MELARIKAN DIRI KE HUTAN KERET DI TANAH YEHUDA

 

Karena tanda-tanda menunjukkan bahwa raja mengetahui tempatku bersembunyi, atas nasehat nabi Gad, aku pun bersama rombongan bersembunyi di hutan Keret di tanah Yehuda. Bagaimanapun juga aku dari suku Yehuda. Aku memiliki banyak kerabat di Yehuda ini. Jadi saran dari nabi Gad perlu aku dengarkan.

Saat kami bersembunyi di hutan Keret ini, kami mendengar bahwa Raja beserta orang-orangnya ada di Gibea, dan raja memusnahkan Imam Ahimelekh beserta delapan puluh lima orang imam lainnya, bahkan yang lebih keji, ia pun memusnahkan semua penduduk kota Nob, kota imam itu, tak pandang bulu, mulai dari laki-laki, perempuan, anak-anak, anak yang menyusu, sampai lembu keledai dan domba pun dimusnahkan semuanya.

Bener bener nggak main-main ini….satu kota sudah jadi korban kemarahan raja. Mungkin raja lagi kambuh…..tapi apa daya aku sekarang sudah tidak bisa lagi main musik terapi untuk dia, karena situasi berkata lain. Padahal dahulu setiap kali raja kambuh, aku akan mainkan lagu-lagu gembala yang adalah ciptaanku sendiri…hasil perenunganku akan Tuhan Israel yang luar biasa itu..dan setiap kali itulah raja tenang kembali. Tapi sekarang ini…?? Apakah raja memiliki pemetik kecapi yang baru?? Semoga.

Tetapi ada seorang anak dari pada Imam Ahimelekh yang bernama Abyatar melarikan diri dan sekarang ikut dengan ku, aku menghibur dia dan mengatakan padanya bahwa di dekatku dia aman,..tenang saja !

Ternyata benar juga kan naluri keprajuritanku waktu itu ! Doeg si orang Edom itu pasti mengawasi gerak-gerikku untuk kemudian melaporkan pada raja. Dan aku sudah mencium bahwasannya laporannya diputarbalikkan semuanya ! Aku kan yang meminta roti, mengapa dikatakan bahwa Imam Ahimelekh yang memberikan roti padaku..?? Aku kan yang meminta senjata padanya, mengapa dikatakan bahwa Imam Ahimelekhlah yang mempersenjatai aku??

Masakan dikatakannya Imam Ahimelekh menanyakan Tuhan bagiku. Sampai-sampai berita miring itu membuat raja berpikir bahwa Imam Ahimelekh ini memanas-manasi aku sehingga aku menjadi penghadang raja seperti sekarang ini !

Ya ampuuuuunnnn!! Sedangkan aku ini lho berbohong pada saat itu ! Mana imam yang polos ini tahu bahwa aku ini seorang pelarian ??

Dasar pembohong !! Sebentar dia ada di Nob, dan memata-matai kami. Sebentar dia ada di dekat para pegawai raja, untuk melaporkan Imam Ahimelekh dengan segala fitnahannya yang keji !

Aku bisa tahu semuanya ini karena dalam teknik bergerilya, kami selalu memiliki mata-mata yang selalu tahu akan apa yang terjadi di pihak sebrang.

 

Hukuman terhadap orang fasik

(Mazmur 52)

Untuk pemimpin biduan.

Nyanyian pengajaran Daud, ketika Doeg, orang Edom itu, datang memberitahukan kepada Saul, bahwa Daud telah sampai di rumah Ahimelekh.

Mengapa engkau memegahkan  diri dengan kejahatan, hai pahlawan, terhadap orang yang dikasihi Allah sepanjang hari?

Engkau merancangkan penghancuran,  lidahmu seperti pisau cukur  yang diasah, hai engkau, penipu!

Engkau mencintai yang jahat  lebih dari pada yang baik, dan dusta  lebih dari pada perkataan yang benar.

Sela

Engkau mencintai segala perkataan yang mengacaukan, hai lidah penipu!

Tetapi Allah akan merobohkan engkau untuk seterusnya,

Ia akan merebut engkau dan mencabut  engkau dari dalam kemah,

membantun  engkau dari dalam negeri orang-orang hidup.

Sela

Maka orang-orang benar akan melihatnya dan menjadi takut,

dan mereka akan menertawakannya:

“Lihatlah orang itu yang tidak menjadikan Allah tempat pengungsiannya,

yang percaya akan kekayaannya  yang melimpah,

dan berlindung pada tindakan penghancurannya!”

Tetapi aku ini seperti pohon zaitun  yang menghijau di dalam rumah Allah;

aku percaya  akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya.

Aku hendak bersyukur kepada-Mu selama-lamanya,

sebab Engkaulah yang bertindak;

karena nama-Mu baik,

aku hendak memasyhurkannya  di depan orang-orang yang Kaukasihi!

 

Nah, semua anak-anak rohaniku, yang sekaligus menjadi murid-muridku harus bisa menarik kesimpulan dari peristiwa mengerikan ini.

Bayangkan saja, hanya karena sebuah hasutan, perkataan yang salah, finahan, maka terbunuhlah Imam Ahimelekh beserta seluruh keluarganya, bahkan seluruh penduduk kota Nob termasuk delapan puluh lima imam lainnya, ikut menjadi korban keganasan raja.

“Apa yang harus kita lakukan…??”

Tanya murid-murid kepadaku.

Kembali kepada kurikulum. Serahkan orang-orang jahat ini pada hak Tuhan untuk membalas setiap perbuatan baik atau jahat seseorang. Kita tidak perlu membalas kejahatan Doeg dengan ikut-ikutan berbuat jahat kepadanya. Kalau itu kita lakukan, kita main hakim sendiri. Itu melanggar kurikulum tingkat menengah: JAUHI YANG JAHAT DAN LAKUKAN YANG BAIK.

Membalas kejahatan dengan kejahatan adalah jahat.

“Trus…terus..??” mereka masih belum titik rupanya.

Yeah..tugas kita adalah ambil pelajaran berharga ini, dan mulai sekarang stop berdosa dalam dosa perkataan. Itu adalah pelajaran tingkat dasar. Doeg sudah menjadi contoh nyata.

Kita harus menjadi seperti pohon zaitun, yang berakar kuat dan berdiri tegak, menghijau di rumah Allah. Terus bertumbuh ke arah karakter takut akan Tuhan.Terus taruh iman pada kasih setia Allah yang tiada pernah berakhir, serta terus mengucapkan syukur kepada-Nya , walaupun peristiwa tragis kebengisan raja ini membuat hati kami miris.

Itu saja !

Ternyata pelajaran pertama dalam kehidupan telah digelar oleh Tuhan buat rombongan kami, Puji Tuhan !

 

AKU DAN ANAK MURIDKU,

KAMI PERGI BERPERANG DI KEHILA

Kehila diserang orang Filistin. Ini adalah sebuah tantangan baru buatku sebagai pemimpin rombongan empat ratus orang ini.

Ini nggak main-main ! Jangan sampai aku mengulangi kebodohanku dulu bersandar pada cara-caraku sendiri yang berakibat fatal sehingga aku jatuh dalam dosa kebohongan dan seluruh penduduk Nob dibunuh raja.

Aku benar-benar kapok dan nggak mau lagi ulangi kesalahan yang sama lagi !

Kali ini dan seterusnya aku harus bertanya kepada TUHAN sebelum aku maju berperang:

“Apakah  aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu..??”

“Pergilah , kalahkanlah orang Filistin itu dan selamatkanlah Kehila.”

Waaauuu, nyata sekali jawaban Tuhan atas setiap langkah kami.

“Ingatlah, sedangkan di sini di Yehuda kita sudah dalam ketakutan, apalagi kalau kita pergi ke Kehila, melawan barisan perang orang Filistin.” Begini –begitu komentar orang-orang yang jadi anak rohani dan murid-muridku itu.

Sebagai guru, tentu aku tidak akan terlalu pusing memberi jawaban. Langsung saja mengajak mereka pergi berperang, walaupun mereka merasa masih dilanda ketakutan.

Tetapi sebagai ayah buat mereka, apa salahnya aku mencari kehendak kepastian dari Tuhan.

Aku pun pergi lagi mencari wajah Tuhan dan berdoa serta bertanya kepada-Nya

“Apakah  aku akan pergi mengalahkan orang Filistin itu..??”

“Bersiaplah, pergilah ke Kehila, sebab Aku akan menyerahkan  orang Filistin itu ke dalam tanganmu.”

Huhuuuiiii….dalam doa kedua ini Tuhan memberi jaminan kemenangan oleh tangan-Nya yang ajaib. Jika Tuhan sudah bernjanji memberi kemenangan, kita tidak perlu takut ! Siapa takut ??

Kutentramkan hati mereka. Kuberitahukan ini itu yang jadi janji dan rencana Tuhan buat kita.

Maka majulah kami berperang. Beranjak dari cangkang kami di gua Adulam di tanah Yehuda, menuju Kehila yang menjerit membutuhkan kelepasan.

Benar saja, kami maju dan menang !!

Orang-orang Kehila ini berhutang jasa bahkan berhutang nyawa pada rombongan kami yang sekarang telah mencapai kira-kira enam ratus orang banyaknya. Tetapi saat raja ingin mengejar kami, aku bertanya pada Tuhan, mungkinkah orang Kehila ini menyerahkan kami pada raja ataukah mereka akan melindungi kami.  Untunglah ada baju Efod yang dibawa oleh imam Abyatar, sehingga aku dapat selalu meminta petunjuk Tuhan dengan urim dan tumim itu. Atas petunjuk Tuhan, aku tidak mau mempercayakan hidup kami hanya dengan melandaskan hutang nyawa daripada orang-orang Kehila ini, melainkan aku hanya mau mempercayakan hidupku pada pimpinan Tuhan. Siapa yang bisa jamin kalau orang-orang Kehila ini tahu balas budi?? Hanya Tuhan yang bisa jamin nyawaku dan nyawa orang-orang yang bersamaku ini. E-nam ra-tus o-rang bro !! Mereka semua adalah anak-anakku dan murid-murid didikanku.

Dan bisa jadi juga orang-orang Kehila ini takut kota mereka ditumpas seperti  penduduk kota Nob yang pernah satu kota dengan Imam Ahimelekh…ngeri juga memang kalau memiliki raja yang sedang memiliki jiwa yang rapuh dan seharusnya masa terapi musiknya masih harus dilanjutkan dan belum waktunya diberhentikan…dia masih  butuh lagi holy music healing, atau terapi musik rohani.  Semoga saja masih ada musisi lain yang terbeban melayani beliau.

Bisa dimengerti juga sih kegalauan orang-orang Kehila ini, kalau disuruh memilih antara raja mereka dan aku seorang buron raja- yang notabene pernah menyelamatkan nyawa mereka dari orang Filistin, ya jelas mereka memilih raja dong, daripada memihak padaku, bisa-bisa lolos dari Filistin tapi mati di tangan raja sendiri…!  Sudahlah…tidak perlu menantikan balas jasa orang-orang Kehila ini, posisi mereka memang tidak mudah, lebih mudah bagiku untuk mengalah dan pergi dari sini, toh  untuk jadi seorang pelarian yang memimpin rombongan..itu adalah pilihan yang jauh lebih mudah buat kami, daripada memaksa orang-orang Kehila ini melawan raja mereka…. let it go…let it flow…

Jumlah kami sekarang telah bertambah. Peserta didik di SEKOLAH KARAKTER TAKUT AKAN TUHAN kini telah menjadi kira-kira enam ratus orang. Waaauuuuu …kami seperti sekolah yang mendapatkan siswa baru saat tahun ajaran baru tiba.

 

AKU DAN ANAK MURIDKU, KAMI LARI KE PADANG GURUN ZIF

Lari lagi—lari lari dan lari lagi

Kali ini di padang gurun Zif.

Raja bukannya capek mengejar, tetapi malahan selalu mengejar-ngejar buronan tanpa alasan…akulah buronan itu !!

Namun Tuhan tidak pernah menyerahkan kami ke dalam tangan raja. Semua percaturan politik ada di dalam genggaman tangan Tuhan, aku yakini hal itu.

Saat kami dikejar-kejar..tentu anak muridku dilanda ketakutan, sama seperti pada saat pertama kali aku pergi terpisah dari sahabatku dan berada dalam pelarian, sendirian aku di gua menjeritkan doaku pada Tuhan.

Doa yang sama aku ajarkan pada anak muridku semuanya. Ijinkan aku menuliskan kembali nyanyian pengajaranku, satu-satunya nyanyian pengajaranku yang berupa doa …seperti ini:

Doa seorang yang dikejar-kejar

(Mazmur 142)(*6)

Nyanyian pengajaran Daud, ketika ia ada di dalam gua:  suatu doa.

Dengan nyaring  aku berseru-seru kepada TUHAN,

dengan nyaring aku memohon  kepada TUHAN.

Aku mencurahkan keluhanku ke hadapan-Nya,

kesesakanku kuberitahukan ke hadapan-Nya.

Ketika semangatku lemah lesu di dalam diriku,

Engkaulah yang mengetahui jalanku.

Di jalan yang harus kutempuh,

dengan sembunyi mereka memasang jerat terhadap aku.

Pandanglah ke kanan dan lihatlah, tidak ada seorangpun yang menghiraukan aku;

tempat pelarian bagiku telah hilang,

tidak ada seorangpun yang mencari aku.

Aku berseru-seru kepada-Mu, ya TUHAN, kataku:

“Engkaulah tempat perlindunganku, bagianku di negeri orang-orang hidup!”

Perhatikanlah teriakku, sebab aku telah menjadi sangat lemah.

Lepaskanlah  aku dari pada orang-orang yang mengejar aku,

sebab mereka terlalu kuat bagiku.

Keluarkanlah aku dari dalam penjara  untuk memuji nama-Mu.

Orang-orang benar akan mengelilingi aku, apabila Engkau berbuat baik kepadaku.

 

Aku beritahu pada mereka semua, lebih baik kalau galau menyerang jiwa kita, kita curhat saja sama Tuhan, kita curahkan saja isi hati kita kepada Tuhan.

Khusus di bagian terakhir aku jelaskan pada mereka, dulu memang aku bersikap mengeluh tentang mengapa Tuhan tidak mengirimkan orang-orang benar untuk mengelilingi aku, tetapi sekarang aku berkata pada mereka, merekalah orang-orang benar yang Tuhan kirimkan mengelilingi aku.

“Tapi Yah..?? Kami masih sering dendam..bohong dan..dan…!”
“Pssssssssssssssttttttttttt!!” desisku memotong kalimat mereka/

“Aku melihat kalian jauh kedepan. Di masa depan nanti kalian menjadi orang-orang benar seperti yang Tuhan inginkan, kalian adalah orang-orang yang akan disebut sebagai para pahlawan.”

“Tapi…tapi…?”

“Kalian pasti bisa !”

 

AKU DAN ANAK MURIDKU, KAMI LARI KE PADANG GURUN ZIF DI KORESA

Sampailah aku di Koresa.  Saat itu ketakutan menggerogoti diriku. Saul benar-benar keluar dengan satu tujuan dan tekad bulat, yaitu untuk membunuhku.  Saat aku takut seperti inilah, sahabatku itu datang khusus menemuiku di Koresa ini.  Ternyata saat kami dulu berpisah..itu bukan pertemuan kami yang terakhir kalinya.

Dia mengatakan kalimat-kalimat yang menguatkan kepercayaanku pada Tuhan, dia pun berkata bahwa tangan ayahnya tidak akan menangkap aku, dan dia pun terang-terangan berkata bahwa aku akan menjadi raja atas Israel dan dia bersedia menjadi orang kedua di bawahku, bahkan dia berkata bahwasannya  ayahnya telah mengetahui hal itu.(*14)

Luar biasa !! Berarti sahabatku ini sudah terang-terangan bilang pada ayahnya, ups lebih tepatnya ayah kami,  bahwa dia bersedia jadi orang kedua….jadi orang dibawahku….orang kedua.!!!

Tapi aku tetap tidak yakin, apakah dengan pengakuan anaknya seperti ini dapat menghentikan langkah ayahnya untuk menghabisi aku, ups lebih tepatnya ayah kami berdua.  Mana ada raja yang rela anak kandungnya, putra sulungnya,  putra mahkotanya, menjadi orang kedua?? Kalaupun anaknya rela, nggak mungkin ayahnya bisa rela…

Usaha sahabatku untuk menghentikan pengejaran buron tanpa alasan seperti itu sih aku acungi jempol !Seribu satu lho orang yang mau jadi orang kedua, padahal dia berhak jadi orang pertama, dia adalah darah daging seorang raja, dia adalah seorang pangeran sulung raja pertama Israel…. Tapi rasanya pernyataan kerelaan hati seorang setulus dia ini tidak akan berarti apa-apa di hadapan raja.

Dalam pertemuan ini lagi-lagi kami mengikat perjanjian lagi, kali ini adalah perjanjian kami yang ketiga, bahwa dia akan menjadi orang ke dua dibawahku saat aku menjadi raja atas Israel. Aku tidak membantah kalimat ini, karena tidak bisa dipungkiri bahwa aku pernah diurapi menjadi raja berikutnya oleh seorang Nabi yang terkenal di Israel…..walau aku tidak ambisi ke arah sana, tapi kan itu kenyataan yang tidak bisa dihindarkan antara aku dan sahabatku, kami berdua mesti masuk dalam kehendak Tuhan yang sempurna atas negri ini. Ini bukan masalah siapa yang jadi raja, aku atau dia, ini juga bukan masalah siapa yang lebih unggul dari kami berdua, aku atau dia, dia atau aku, tetapi ini cuma masalah pengertian kami berdua akan kemauan Tuhan Israel itu seperti apa..kami Cuma berpatokan pada Pribadi ketiga dalam segitiga kami ini. Kami berdua bukan sahabat yang model saingan…itu nggak ada dalam kamus persahabatan kami. Sahabatku mau sepakat dengan Tuhan atas rencana Tuhan atas hidupku, dan aku tetap menghormati kedudukan dia sebagai seorang pangeran. Kalau aku jahat, bisa saja dan mudah saja untuk membunuh dia, apalagi ayahnya.

Kembali….perjanjian ini adalah tiga pihak, aku, dia dan Tuhan.

Sahabatku pun pulang  ke rumahnya, dan aku pun melanjutkan keseharianku sebagai seorang buronan raja. Dikejar-kejar dan lari. Lari karena dikejar-kejar.

 

AKU DAN ANAK MURIDKU,

KAMI LARI KE BUKIT HAKHILA, DI SEBELAH SELATAN PADANG BELANTARA

 

Kini rakyat Zif mulai ikut-ikutan lapor pada raja di mana titik persembunyianku. Rakyat memang tidak tahu apa yang terjadi, mungkin saja mereka mengira macam-macam terhadap diriku, atau mungkin mencari muka di hadapan raja, aku juga tidak berani menduga-duga.

Berbeda sekali pandangan mereka dengan pandangan imam Ahimelekh-yang sudah ditumpas raja itu-  tentang diriku.  Ahimelekh memandang aku sebagai seorang pegawai raja yang dapat dipercaya, menantu raja, kepala para pegawai raja, dan dihormati di istana raja. (*15)

Sungguh sangat berbeda lagi dengan pandangan raja tentang aku, di  mata raja aku ini adalah orang yang bangkit melawan dia, aku ini penghadangnya. (*16)

Pandangan-pandangan seperti ini yang terlontar dari mulut raja saat bercakap-cakap dengan Ahimelekh, imam itu, selagi beliau masih hidup dan belum ditumpas raja.

Darimana ya pikiran raja yang seperti itu? Nggak tampang banget deh aku ini ! Aku ini hanya anjing mati ! seekor kutu saja ! Apanya ya yang diburu dari dalam diri seorang aku ini ?

Bagaimana ya caraku meyakinkan raja bahwa pikirannya itu salah?

Dan inilah arransemenku yang lahir setelah peristiwa itu:

 

DOA DALAM MENGHADAPI MUSUH

(Mazmur 54)(*18)

Untuk pemimpin biduan.

Dengan permainan kecapi.

Nyanyian pengajaran Daud,

Ketika orang Zifi datang mengatakan kepada Saul:

“Daud bersembunyi kepada kami.”

 

Ya Allah, selamatkanlah aku karena nama-Mu,

Berilah keadilan kepadaku karena keperkasaan-Mu!

Ya Allah, dengarkanlah doaku,

Berilah telinga kepada ucapan mulutku!

Sebab orang-orang yang angkuh bangkit menyerang aku,

Orang-orang yang sombong ingin mencabut nyawaku;

Mereka tidak mempedulikan Allah.

S  E L A

 

Sesungguhnya, Allah adalah penolongku:

Tuhanlah yang menopang aku.

Biarlah kejahatan itu berbalik kepada seteru-seteruku;

Binasakanlah mereka karena kesetiaan-Mu!

Dengan rela hati aku akan mempersembahkan korban kepada-Mu,

Bersyukur sebab nama-Mu baik,  ya TUHAN

Sebab Ia melepaskan aku dari segala kesesakan,

Dan mataku memandangi musuhku.

 

Kepada anak muridku aku ajarkan nyanyian itu.  Sudahlah, percayalah ! Tuhan sendiri yang akan melepaskan kita dari segala kesesakan. Cuma Tuhan harapan kita.

Beberapa waktu terakhir ini kami cukup cepat sekali berpindah pindah tempat. Mulai dari tempat-tempat perlindungan di padang gurun Zif ini, tak lama pindah lagi di daerah Koresa, tak lama lagi pindah lagi ke bukit Hakhila, di sebelah selatan padang belantara, tak lama kemudian mai pindah lagi ke padang gurun Maon.

Huiiihhh!! Pengejaran raja pada kami memang sangat intensif, seperti seorang tuan rumah yang memburu si tikus rakus sampai ke sudut mana pun di sisi rumah itu akan dikejar dengan membawa tongkat pemukul atau bahkan tembakan burung. Satu tikus diburu oleh 10 orang anggota keluarga…huiiiih ramainya !!

Aku ajari anak muridku semuanya, ayo tetap mempersembahkan korban syukur. Jangan mengeluh dan jangan bersungut-sungut. Yang namanya korban syukur itu adalah bagaimana bisa tetap bersyukur di tengah-tengah situasi yang tidak enak sekalipun. Kalau situasi sedang enak-enaknya, terus kita bisa bersyukur, wah itu sih gampang, semua orang juga bisa itu !

Aku mengajak mereka percaya bahwa Tuhan sanggup melepaskan kita semua dari belenggu kesesakan. Kesesakan apa pun juga, termasuk kesesakan dari kejaran musuh.

Nanti akan kita lihat…apakah nyanyian pengajaranku pada mereka ini sebagai doa yang dijawab Tuhan atau tidak..!!

Ayo kita buktikan ucapan mazmurku !

 

AKU DAN ANAK MURIDKU, KAMI LARI KE PADANG GURUN MAON

Di padang gurun Maon ini hampir saja aku terkepung dari dua jurusan, di sisi sebuah gunung, untunglah pada saat itu ada suruhan datang dan menyarankan raja untuk berhenti mengejar-ngejar aku, karena orang Filistin sedang menyerbu negeri. Serta-merta raja berhenti mengejar sang buronan dan pergi menghadapi orang Filistin itu. Benar-benar gunung batu keluputan!  Sampai sekarang orang-orang menamai gunung batu di Maon itu sebagai Gunung Batu Keluputan.  Jangan –jangan si pembawa berita pada raja itu malaikat yang Tuhan utus !! Waktunya bisa pas…!! Selisih menit saja…aku pasti sudah tewas !!

Nah itu dia…mestinya musuh yang sebenarnya adalah Filistin, karena dengan memburu buronan seperti aku ini kan hanya menghabiskan banyak waktu, tenaga, pemikiran, dana, …..

Aku beritahu anak-muridku,

“Benar nggak –benar nggak?? Tuhan melepaskan kita dari segala kesesakan kan..?? Tuhan meluputkan kan..?? Ha ha ha ha…”

“Iya Yah benar !”

“Tuhan kita hebat..!!”

“Tempat ini bersejarah Yah, tempat ini disebut Gunung Batu Keluputan…kita jadi pencetak sejarah Yah…!”

“Hush ! Salah ! Bukan kita tetapi Tuhan…! Semua ini karena Tuhan bukan karena kita !”

“Ups iya…maksudku Tuhan Yah…Tuhan mencetak sejarah dalam hidup kita !”

“Ha ha ha ha”
Beberapa dari mereka memang memanggil  aku Ayah. Aku tidak keberatan mereka memanggil aku seperti itu, karena aku pun tak segan-segan memanggil mereka dengan sebutan ‘Nak!’ (*17

 

AKU DAN ANAK MURIDKU,

KAMI MELARIKAN DIRI DI KUBU-KUBU GUNUNG DI EN -GEDI

I Sam pasal 24

 

Kubu-kubu gunung di En Gedi adalah tempat pijakanku yang berikutnya.

Tidak main-main, kali ini ada TI-GA RI-BU orang terpilih dari seluruh negri Israel yang menyertai raja.

Dan inilah mazmur yang kubuat pada saat itu

Ketika kami sampai di suatu gua di kubu-kubu  gunung, aku menuliskan mazmur ini

 

DIBURU MUSUH, TETAPI DITOLONG ALLAH

(Mazmur 57)(*18)

Untuk pemimpin biduan.

Menurut lagu:Jangan memusnahkan.

Miktam dari Daud, ketika ia lari dari pada Saul, ke dalam gua.

 

Kasihanilah aku ya Allah, kasihanilah aku,

sebab kepada-Mulah jiwaku berlindung;

dalam naungan sayab-Mu aku akan berlindung, sampai berlalu penghancuran itu.

Aku berseru kepada Allah,Yang Mahatinggi,

kepada Allah yang menyelesaikannya bagiku,

kiranya Ia mengirim utusan dari sorga dan menyelamatkan aku,

mencela orang-orang yang menginjak-injak aku.

S E L A

Kiranya Allah mengirim kasih setia dan kebenaran-Nya.

Aku terbaring di tengah-tengah singa

yang suka menerkam anak-anak manusia,

yang giginya laksana tombak dan panah,

dan lidahnya laksana pedang tajam.

Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit, ya Allah !

Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi !

Mereka memasang jaring terhadap langkah-langkahku,

Ditundukkannya jiwaku, mereka menggali lobang di depanku,

tetapi mereka sendiri jatuh ke dalamnya.

S E L A

Hatiku siap, ya Allah hatiku siap;

Aku mau menyanyi,

Aku mau bermazmur,

Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah,

hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!

Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan,

Aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa; sebab kasih setia-Mu besar sampai ke langit,

Dan kebenaran-mu sampai ke awan-awan.

Tinggikanlah diri-Mu mengatasi langit ya Allah !

Biarlah kemuliaan-Mu mengatasi seluruh bumi !

 

Waauuu ternyata bersyukur pada Tuhan itu sangat indah !

Untuk membayar nazarku pada Tuhan, aku terus membangun suatu gaya hidup baru, yaitu berlomba dengan terbitnya Fajar. Sebelum sang fajar bangun di ufuk timur, aku pun sudah terlebih dahulu bangun untuk mencari wajah-Nya, bersyukur kepada-Nya. Aku mau terus untuk bersiap hati, punya hati yang selalu sigap untuk bernyanyi dan bermazmur kepada-Nya.

Hanya dengan cara itu, jiwaku yang letih dibangunkan, dibangkitkan dan diberi kekuatan yang baru ! Masa-masa stress yang memenjarakan hidupku di masa yang lalu, saat aku dalam pelarian-pelarian di masa awal-awal, sampai-sampai aku berbohong pada imam Ahimelekh, sudah lewat, itu masa lalu. Aku tolak semua stress. Aku tidak mau stress lagi. Aku harus menempel terus pada Sumber, untuk dapat bertahan dalam masa-masa pelarian yang entah sampai kapan ini.

Setiap pagi buta anak-muridku pasti akan keberisikan mendengar mazmur yang aku naikkan di hadapan Tuhan. Ngapain harus berbisik-bisik. Mereka memang sengaja aku berisikin biar ikutan bangun dan mencari wajah Tuhan.

Beberapa dari mereka mengeluh, balik sana balik sini dalam posisi tidurnya. Mendengus dalam dengkur mereka, walaupun tidak berani terang-terangan protes padaku secara langsung. Mereka tidak pernah nyenyak sejak pagi buta aku mengambil kecapiku.

Mereka belum mengerti artinya kedalaman keintiman dengan Pribadi Pencipta dan Pengatur hidup kita. Mereka belum mengerti bagaimana nikmatnya tinggal di hadirat Tuhan itu seperti apa.

Sedikit demi sedikit, lambat laun mereka akan mengerti juga. Itu pasti. Tugasku adalah memberikan mereka teladan. Berkomunikasi dengan Tuhan itu adalah  suatu kerinduan, bukan kewajiban agamawi. Itu adalah suatu keharusan, bukan suatu jadwal rutin yang membuat mereka takut dihukum jika tidak melakukannya.

Beberapa dari mereka ikut bangun dan memegang alat musik lainnya, yaitu gambus. Aku tetap pegang kecapiku. Alat-alat musik selalu ada di antara barang-barangku kemanapun kami lari dari satu tempat ke tempat lain. Itu wajib.

Waaauuu suasana pagi selalu aku rindukan, seperti tanah kering yang merindukan air, demikianlah jiwaku haus akan Tuhan, Roh-nya yang berkuasa atasku, dan semangat daripada-Nya yang menginspirasi aku sepanjang hari. Amin.

Sampailah raja di Gunung Batu Kambing Hutan. Beliau dan rombongannya ada di mulut goa yang sana dan aku serta rombonganku ada di mulut goa yang sebelah sini. Tak ada satu suara pun terdengar, karena aku sudah melatih keenam ratus orang rombonganku itu untuk BERDIAM DIRI di saat-saat tertentu dalam peperangan, contohnya pada saat-saat seperti ini . Tidak mudah lho melatih mereka untuk diam, kan dulunya mereka ini berlatar belakang orang-orang yang dalam kesukaran, dikejar-kejar tukang piutang,jorang-orang yang sakit hati. Tahu sendirilah karakter mereka yang berangasan, ugal-ugalan.  Untungnya mereka taat padaku, sebagai kepala rombongan, sebagai pemimpin, ayah mereka dan juga guru mereka. Jadi kehadiran kami di balik goa sama sekali tidak dicurigai rombongan baginda raja.

Yang aneh nya rombongan raja itu, lha kog bisa-bisanya raja buang hajat di goa kog ya nggak diperiksa dulu kelayakan goa nya, apakah rawan longsor, apakah ada musuh, apakah ada ular, dlsb, lha kog ya nggak diperiksa dulu.

Coba kalau aku ada di barisan tentara raja, pastinya hal-hal kecerobohan prajurit yang seperti ini akan aku tegur kalau aku jadi kepala prajuritnya.  Model-model seperti gini bahaya kalau ketemu tentara Filistin, tentu raja sudah kalah kalau di balik goa bersembunyi tentara Filistin. Untungnya kami bukan tentara Filistin.

Saat lamunanku dan kegemasanku berkecamuk dalam pikiranku, orang-orang itu berbisik dengan suara yang nyaris tak terdengar..

”Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik,”

Tidak…tidak akan aku lakukan..Emmmmm……memang ini kesempatan sih…tapi yang kupandang baik belum tentu baik di mata Tuhan. Baik, aku ambil saja kesempatan ini untuk pembuktian saja ke raja, agar raja tahu siapa aku sebenarnya, dan apa isi hatiku yang terdalam terhadap dirinya.

Aku ini orang yang diurapi.

Aku ini orang yang dipilih Tuhan.

Aku ini bukan orang sembarangan, bukan orang ugal-ugalan, bukan orang yang berangasan.

Memang aku bawa pisau..aku akan potong saja punca jubah raja.

Ini bukan saat yang tepat untuk berdebat dengan para murid dan anak-anakku semuanya. Ini bukan saat yang tepat untuk mengajarkan teorinya. Nanti toh mereka akan tahu sendiri, jika rencanaku berhasil.

Aku bangun, mengendap-endap….dan awas…bauuu…(walau raja..ya tetap bau itunya ) tapi harus tahan napas…dan potong punca jubah pelan-pelan, jangan sampai raja curiga dan berteriak…ada ti-ga-ri-bu-o-rang-ter-pi-lih di luar gua itu…

Hatiku berdebar-debar….punca jubah raja…punca jubah raja…aku melihat apa yang sudah ada di tanganku…itu adalah jumbai yang selalu harus ada pada pakaian kami orang Israel…jumbai inilah yang mengajak kami untuk selalu mengingat hukum-hukum Tuhan…perintah-perintah Tuhan…dan salah satu perintah itu adalah JANGAN MEMBUNUH. Apalagi raja itu orang yang diurapi Tuhan menjadi raja. Nabi yang sama yang mengurapi kami berdua, dan saat ini dia masih jadi raja, dia adalah raja Israel, dan aku adalah rakyatnya, salah seorang rakyatnya.  Bahkan aku ini anak menantunya…dia adalah ayah daripada istriku Mikhal.

Aku telah memotongnya….sungguh berdebar hatiku. Jumbai itu menari-nari dalam getaran tanganku saat memengangnya sambil menjauhi gua itu.

Kembali ke gua untuk menancapkan pisau ini di punggungnya atau kembali ke orang-orangku dan menjelaskan ini semua pada mereka

Memang perlakuan raja padaku sungguh sudah keterlaluan dan melampaui batas kepantasan, akan tetapi tidak bisa…aku tidak bisa menjamah orang yang diurapi Tuhan, bagaimanapun kerapuhan jiwanya. Bukan dengan cara itu…ya…keputusanku sudah bulat. Bukan dengan cara itu.

Aku kembali ke orang-orangku..aku bisa membaca pandangan mata mereka yang melotot dan membelalak ke arahku, bola mata mereka berpindah-pindah antara melihat wajahku, melihat pisau di tangan kananku, pisau itu tidak bersimbah darah, melihat potongan punca jubah raja di tangan kiriku…juga tidak ada warna darah, murni warna biru keungu-unguan seperti warna jumbai pada umumnya…mulut mereka melongo tak percaya melihat pemandangan aneh ini.

“Lho…pak guru…!!”

“ Lho Yah….!! Apa-apaan ini ???” Melotot tapi tetap berbisik, keras tapi tertahan.

Dijauhkan TUHANlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.”

Jawabku santai..emosiku sudah berhasil aku tahan, aku kendalikan, aku kontrol….berbisik tapi tetap cool.

“Apa kata Ayah…??? Kalau begitu kalau Ayah tidak mau ..kami saja yang menyerang raja…”

“Hssssssssttttttt…..stop ! Aku tidak ijinkan kalian…raja orang yang diurapi Tuhan..jangan mencelakai raja…percayalah bahwa keputusanku kali ini benar, seperti keputusanku yang sudah-sudah “

Huuuuiiih betapa leganya melihat orang-orangku yang dulunya berangasan dan ugal-ugalan, kini mereka tunduk padaku.Mereka sudah terlatih. Bagus ! Tapi untuk mereka mengerti bahwa perjalanan hidup ini tidak selalu harus diselesaikan dengan jalan kekerasan memang tidak mudah, untuk mereka diajak memandang ke atas dan di atas ada Tuhan, itu memang tidak mudah. Aku harus bawa mereka untuk mereka terus mengalami Tuhan dalam hidupnya, sampai mereka bisa cool, bisa tenang, bisa sabar, bisa lapang dada dalam menghadapi hidup ini. Mengubah mereka dari yang ugal-ugalan dan berangasan menjadi orang yang lemah lembut tetapi tetap perkasa, alias punya jiwa kesatria, itu memang tidak mudah, masih butuh banyak proses lagi di depan. Akan aku tunjukkan kini pada mereka jiwa kesatria yang sebenarnya itu yang seperti apa, mereka butuh contoh, mereka butuh bukti nyata.

“Ayo sekarang kalian ikut aku !” kataku pada mereka yang masih bengong campur marah. Aku bisa mengerti sih kegundahan hati mereka, tentu mereka membayangkan akan sampai berapa lamakah kiranya pelarian ini…mengapa tidak kita titik-kan saja hari ini dengan membunuh raja pesakitan itu. Ha ha…ha….mereka belum alami Tuhan, nanti juga lama-lama mereka akan mengerti juga, ha ha ha. Cara-cara Tuhan itu tidak terduga dan tidak perlu mengotori tangan kita dengan darah pembalasan dendam, karena pembalasan itu adalah hak Tuhan, kita tidak perlu merampas hak Tuhan. Ada kesempatan untuk membalas dendam bukan berarti itulah kesempatan emas yang dari Tuhan, bisa jadi itu sebenarnya hanya semacam ujian, dan aku lulus, aku harap suatu saat kalimat itu berubah menjadi KAMI LULUS. Maybe..sometimes.. Itu adalah kurikulum sekolah karakter takut akan Tuhan pada tingkat menengah. Tidak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan.

Mereka pun mengikuti langkahku menerobos goa bersejarah itu. Bau sih memang, tapi kami harus menerobos bau tak sedap itu. Memang itu bagian dari latihan kemiliteran, harus tidak boleh jijik terhadap apa pun juga di medan seperti apa pun juga.

“Tuanku raja…!” teriakku saat keluar dari gua dan berseru pada raja dari belakang.

Aku pun berlutut menghormati raja.

Di depan anak-muridku semuanya, aku berlutut menghormati raja, mereka melihat itu semua.

Aku tidak malu, justru akan aku tunjukkan bahwa ini sikap yang seharusnya harus terjadi.

Aku berkata pada raja saat itu dengan kalimat-kalimat ANTARA AKU DAN ENGKAU, tidak perduli dia seorang raja , di hadapan TUHAN kami sebenarnya adalah sama, sama-sama umat-Nya.

“Mengapa engkau mendengarkan perkataan orang-orang yang mengatakan: Sesungguhnya Daud mengikhtiarkan celakamu?

Ketahuilah, pada hari ini matamu sendiri melihat, bahwa TUHAN sekarang menyerahkan engkau ke dalam tanganku dalam gua itu; ada orang yang telah menyuruh aku membunuh engkau, tetapi aku merasa sayang kepadamu karena pikirku:……”

Kini aku sebagai sesama umat dengan dia, memposisikan diriku sebagai hamba dan dia sebagai raja.

“…..Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.”

Dan kini aku memposisikan diriku sebagai menantu, karena memang dia adalah ayah mertuaku sejak detik aku menikah dengan Mikhal, anak gadisnya itu.

“Lihatlah dahulu, ayahku, lihatlah kiranya punca jubahmu dalam tanganku ini!”

Kembali kini aku memposisikan diriku dan dirinya sebagai sesama umat Tuhan Israel

“ Sebab dari kenyataan bahwa aku memotong punca jubahmu  dengan tidak membunuh engkau, dapatlah kauketahui dan kaulihat, bahwa tanganku bersih daripada kejahatan dan penkhianatan, dan bahwa aku tidak berbuat dosa terhadap engkau, walaupun engkau ini mengejar-ngejar aku untuk mencabut nyawaku. Tuhan kiranya menjadi hakim di antara aku dan engkau, TUHAN kiranya membalaskan aku kepadamu, tetapi tanganku tidak akan memukul engkau. “

Kembali lagi kini aku posisikan diriku sebagai rakyat biasa, dan dia sebagai seorang raja.

“Terhadap siapakah raja Israel keluar berperang? Siapakah yang kau kejar? Anjing mati! Seekor kutu saja!”

Kini aku mengembalikan percakapan ini pada posisi segitiga kami di hadapan Tuhan, antara aku, dia dan Tuhan.

“Sebab itu TUHAN kiranya menjadi hakim yang memutuskan antara aku dan engkau; Dia kiranya memperhatikannya, memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku dengan melepaskan aku dari tanganmu”

Titik.

Sebuah usaha pembuktian adalah usahaku yang paling maksimal, jangan sampai masuk ke ranah usaha pembunuhan, apalagi pembunuhan berencana.  Walau ucapanku terlihat tidak teratur kadang menyebut dengan kata engkau, raja, tuanku , ayahku…ah sudahlah! Ini semua memang mesti dijelaskan satu persatu, karena raja harus mengerti bahwa aku ini hanya rakyat biasa, hanya seorang anak mantu dan seorang Israel di mata TUHAN, yang mestinya tidak tepat menjadi sasaran perburuan massal seperti yang terlihat sekarang ini.

Nah sekarang  yang jadi jawaban raja padaku. Aku ingin mendengar sejauh manakah kata-kata yang keluar dari isi hatiku ini menyentuh hatinya. Terkadang bahasa hati ini lebih dapat berbicara daripada bahasa pelarian, pedang ataupun bahasa lain-lainnya.

 “Suaramukah itu  ya anakku Daud?”

huuuuiiih leganya, ternyata Raja sadar sepenuhnya bahwa aku ini tak lain tak bukan adalah juga anak mantunya…aku ini suami Mikhal…..anak perempuannya.

Aku jadi teringat saat dulu aku masih bekerja sebagai pembawa senjatanya, betapa raja itu sayang sekali padaku.  (*19)

Semuanya berubah gara-gara peristiwa jumpa fans  tak terencana itu. Aku merindukan rasa sayang raja waktu itu, betapa kebapakannya dia padaku, betapa perhatiannya dia padaku, betapa mengistimewakannya dia padaku. Mengapa sekarang jadi begini…???

“Huuuuuuuuuuuuuuaaaaaaaaaaaaaaa….huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu huuuuuuuuu” Raja menangis dengan nyaring.

Semua orang kaget melihat raja menangis, ekspresi orang-orang yang ikut rombonganku, semua anak muridku,  dan juga ekspresi rakyat yang menyertai raja tentu ekspresi wajah yang tertunduk malu saat melihat raja kami menangis dengan nyaring. Kami tak berani menatap wajah raja. Termasuk aku.

Raja memang emosinya naik turun, itu sudah jelas terlihat sejak awal aku main musik terapi untuk dia di istana dulu.

Atau bisa jadi menangisnya raja ini adalah sebuah bentuk memuncaknya perjalanan batinnya, semua yang berkecamuk dalam dirinya, bahwa dianganggapnya aku ini orang yang bangkit melawan dia, aku ini penghadangnya, orang –orang berkata kepadanya bahwa aku ini sangat cerdik (*20), bisa jadi raja juga mencatat rekor-rekor kemenanganku melawan raksasa itu pada catatan pertama, kemenanganku melawan musuh-musuh lainnya saat aku menjadi pegawainya, dan juga kemenanganku melawan Filistin saat mereka berusaha menghancurkan Kehila..pada saat aku dalam posisi sebagai buronan. Tak heran raja membawa ti-ga ri-bu o-rang o-rang pi-li-han untuk mengiringi perjalanannya memburu buronan seperti aku ini.

Semua yang berkecamuk dalam dirinya itu kini diperhadapkan dengan kenyataan di depan mata bahwasannya aku ini ada di depan batang hidungnya, berkesempatan membunuh dia dengan satu lawan satu, dalam goa kecerobohan yang tak pernah dipikirkannya, …

Apakah ini sebuah bentuk tangis seseorang yang baru saja lolos dari ketakutannya sendiri yang selama ini memburu dirinya sendiri??

Mengejar tapi takut,

memburu tapi ngeri,

takut jabatannya diambil tetapi juga tak tahu harus bagaimana untuk mempertahankannya selain dengan cara membunuh orang yang dianggapnya pesaing?

Memburu tetapi sebenarnya diburu oleh ketakutan-ketakutannya sendiri…???

Ataukah ini sebuah bentuk tangisan ‘jiwa anak kecil’ yang terjebak dalam tubuh dewasa??

Atau ini sejenis tangisan penyesalan….ach..semoga saja.

Entahlah.

 

Engkau lebih benar daripada aku, sebab engkau melakukan yang baik kepadaku, padahal aku melakukan yang jahat kepadamu.” Kata raja lagi.

Sebuah perbandingan…engkau lebih dari aku..sebab begini dan begitu. Kalimat-kalimat perbandingan ini tak pernah berseliweran di pikiranku, aku tak pernah memperbandingkan diriku dengan raja. Kalau saja raja tahu bahwa sebenarnya dia memiliki potensi yang sangat besar dalam dirinya, dan bahwa dia memiliki perawakan tubuh yang tinggi, dan bahwa dia orang yang luar biasa, dia adalah orang yang diurapi Tuhan… Tidak perlulah kita terlalu memperhatikan nyanyian para fans yang menyebut-nyebutkan perbandingan antara aku dengan raja, menyebut beribu atau berlaksa. Kalau kami berdua bergandeng tangan bersatu melawan musuh, tentu kemenganan yang kami dapat akan jauh lebih besar lagi.

“Telah kau tunjukkan pada hari ini, betapa engkau telah melakukan yang baik kepadaku: walaupun TUHAN telah menyerahkan aku ke dalam tanganmu, engkau tidak membunuh aku. “ Lanjut raja.

Tuhan telah menyerahkan raja ke dalam tanganku..?? Itu katanya? Kog kata-katanya sama dengan kata-kata pegawaiku ya..?

Untuk aku berhadapan dengan raja dan bisa berkesempatan membunuh dia memang aku tahu bukan kesempatan biasa, Tuhan yang membuat percaturan itu. Tetapi aku tahu bahwa kesempatan ini berbeda definisi, dalam definisi mereka (raja ataupun pegawaiku) itu adalah kesempatan untuk membunuh, eksekusi dengan cara yang gagah (walau nggak gagah –gagah amat sih, kalau menusuk dari belakang punggung raja saat posisi raja sedang buang hajat) , namun dalam difinisku beda, itu adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa aku tidak mau main hakim sendiri, karena ada Hakim Agungku yang melihat setiap tingkah langkahku.

Memang ini pemikiran difinitif yang langka, hanya aku satu-satunya yang berpikiran ‘gila’ seperti itu di tengah-tengah ribuan orang yang sedang menonton drama tragedi kehidupan nyata, hari ini.  Tapi aku tahu jelas, saat aku berjalan dengan Tuhan, memang terkadang dianggap ‘gila’ saat aku berani ‘gila-gilaan’ dengan-Nya.

“Apabila seseorang mendapat musuhnya, masakan dilepaskannya dia berjalan dengan selamat?” ungkas raja pula

Nah ….kalimat raja yang inilah sebenarnya yang menjadi pemicu daripada semunya ini. Dalam pandangan raja dan dalam pemikiran raja, aku ini orang yang menganggap dia itu musuhnya. Yaaaa ammmmpuuuuunnnn!! Sama sekali aku tidak pernah menganggap dia itu musuhku, justru aku itu menghormati dia sebagai orang yang diurapi Tuhan, menghormati dia sebagai tuan, raja, bahkan ayah mertuaku, dan juga dia itu adalah ayah dari sahabat karibku.

Pembuktian semuanya ini terasa sia-sia juga ya…selama dia itu masih berpikir bahwa aku ini menganggap dia itu musuhku.

Mengubah paradigma orang yang iri dengki memang tidak mudah. Pembuktian seperti apa pun rasanya tidak akan cukup.

“TUHAN kiranya membalaskan kepadamu kebaikan ganti apa yang kaulakukan kepadaku pada hari ini. Oleh karena itu, sesungguhnya aku tahu, bahwa engkau pasti menjadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganmu.”

Ingin rasanya kalimat raja ini direkam tidak hanya diingatan kami  semua yang mendengar kalimat itu, melainkan pada alat yang dapat menyimpan suara manusia…tapi sepertinya alat seperti itu belum pernah terpikirkan untuk diciptakan oleh para ahli ilmuan kami pada zaman sekarang ini. Ini benar-benar kalimat langka yang keluar dari bibir raja. Aku tidak sedang bermimpi kan?

Nah loooohhhhh..ini inilah kalimat yang menjadi pembuktian pada orang-orangku yang enam ratus orang itu, mereka semua adalah anak muridku,  bahwa saat kita melepaskan berkat, melepaskan salam, dan kalau orang itu layak menerima  berkat yang kita lepaskan itu, maka berkat itu akan turun ke atasnya, akan tetapi kalau orang itu tidak layak dapat berkat , maka berkat itu akan kembali pada kita. Ini juga berlaku untuk kutuk, bila kita melemparkan kutuk, dendam, kata-kata negatif, pikiran jelek, rencana jahat, pembunuhan berencana, maka kita akan menuai apa yang kita tabur. (*21)

Terbukti kan sekarang prinsipku itu berhasil. Dengan berbuat baik pada raja, kini raja mengeluarkan kata-kata yang baik terhadap diriku, tepat di depan mataku sendiri dia berkata seperti itu. Dia sendiri yang mengucapkan bahwa peristiwa ini membuat dia tahu bahwa aku pasti menjadi raja yang berikutnya dan bahkan raja berkata bahwa jabatan raja Israel itu akan tetap kokoh dalam tanganku. Aku tangkap kata-kata dari seorang pemimpin yang mengatakan hal –hal positif tentang diriku di masa datang.

Sedang perkataan-perkataan raja  di belakangku, yang aku tidak pernah dengar sendiri, apalagi perkataan-perkataan negatifnya tentang diriku, aku tidak perlu pusingkan itu. Itu tidak penting.

Inilah kemengan yang sejati buatku. Orang-orangku, yah..enam ratus orang –orangku itu, semua anak muridku itu, harus tahu hal itu. Bukan dengan cara kekerasan menghadapi musuh kita, melainkan bagaimana cara kita untuk tetap berbuat baik pada pemimpin sebengis apa pun dia, untuk siapa tahu, berkatnya turun atas hidup kita.  Perkataan berkat pemimpin tetap dipakai oleh Tuhan untuk menjadi saluran berkat atas hidup kita, tidak perduli kehidupan pribadi pemimpin itu seperti apa, contohnya saat Imam Eli mengucapkan doa berkat untuk Hana, ibunda daripada nabi terkenal itu, tetap saja kan doa berkatnya dipakai Tuhan untuk Hana mendapatkan berkat keturunan.  Ketundukan pada pemimpin itu penting..pisahkan dari pandangan-pandangan kita tentang gaya hidupnya.  Ketundukan tidak sama dengan menjilat. Saat ada kesempatan mengegur raja saat dia membelok dari jalan Tuhan, tetap aku lakukan dalam kesempatan pembuktian hari ini, jadi aku jelas bukan penjilat, tetapi aku tetap tunduk….dan puji Tuhan, raja mengucapkan berkat atas hidupku….Yes ! Yes! Yes !!!

Kebahagiaan ini tidak sebanding dengan jika raja mati bersimbah darah di pelukanku di goa bersejarah itu. Itu kemenangan jenis semu. Itu bukan kemenangan yang sejati.

Aku tersenyum pada orang-orangku yang berdiri di belakangku. Enam ratus orang anak muridku.  Bukan sama sekali jenis senyum kesombongan, melainkan lewat senyum dan sorot mataku yang melirik raja sedetik serta melirik mereka lagi pada detik berikutnya disertai gerakan  daguku yang aku arahkan sedetik pada raja dan sedetik kemudian kembali mengarah pada mereka, aku ingin beritahu mereka semua, bahwa kemenangan itu tidak selalu identik dengan kematian raja, melainkan mengubah paradigma raja sampai raja itu bisa melihat dengan cara Tuhan atas hidup kita dan atas rencana Tuhan atas hidup kita sehingga akhirnya mencapai titik pandang yang sama…nah itu barulah kemenangan mengubah paradigma. Itu lebih sulit. Itu di medan pikiran. Itu di medan hati. Itu bukan dengan pedang. Itu hanya dapat dicapai dengan ketundukan pada Allah. Mutlak tunduk pada hukum-hukum Allah tanpa memperhitungkan ketampak-konyolannya dalam akal sehat.

Kini apa lagi yang akan disampaikan raja….

“Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku demi TUHAN, bahwa engkau tidak akan melenyapkan keturunanku dan tidak akan menghapuskan namaku dari kaum keluargaku.”

Apa….???? R-A-J-A meminta aku tidak akan melenyapkan keturunannya……??? Tidak akan menghapuskan namanya dari kamu keluarganya….????

Tidak perlu pikir panjang!! Yups!!

Bukankah kokoh tidaknya kerajaan yang kupimpin kelak bukan didasarkan pada musnah tidaknya keturunan raja.  Toh aku sudah mengikat perjanjian tentang hal yang sama ini dengan sahabatku,…Memang masih ada sih anak raja yang lain, masih ada 3 lagi iparku yang lain selain sahabat karibku itu, pangeran Malkisua, Pangeran Abinadab, Pangeran Esybaal, dan anak perempuannya Merab….dan Mikhal..istriku !

Mereka semua iparku, aku ini keluarga raja ! Dan anak-anak mereka kelak juga semuanya kemenakanku !!

Kalau diantara mereka (kecuali sahabatku) ada yang berambisi sekali untuk jadi raja menggantikan ayahnya…ya sudahlah..kan aku sudah diurapi menjadi raja berikutnya, ya biarlah cara Tuhan yang jadi, bukan caraku, dan tidak perlu dengan cara menumpas keluargaku sendiri. Saat aku menikah dengan Mikhal kan bukan pernikahan politik, aku sungguh-sungguh menyadari bahwa aku kini masuk menjadi bagian dalam keluarga ini. Kalau raja berpandangan politik terhadap pernikahanku ini ya itu urusan dia di hadapan Tuhan, aku cuci tangan.  Yang jelas pernikahan ini sah. Aku mempertaruhkan nyawaku menghadapi 200 orang filistine sebagai mas kawin super mahalnya. Detik ketika aku menikah, detik itu juga raja sudah aku anggap sebagai ayahku sendiri, serapuh apa pun dia. Itu artinya keluarga daripada ayah, adalah keluargaku juga, masakan aku mau menumpas mereka? Masa cara Tuhan menggenapi janji-Nya saat pengurapanku dulu semurahan itu ?? Tidak mungkin !

Tidak perlu pikir panjang!! Yups!!

Terjadilah, aku bersumpah pada raja.

Ini perjanjianku dengan A-y-a-h , bukan hanya sebatas dengan sahabatku alias iparku. Ini sudah bicara mengengai perjanjianku tentang kelangsungan hidup  KELUARGA RAJA, kerabat raja, bukan hanya kelangsungan hidup keluarga sahabatku saja.

Betapa leganya saat aku mempercayai penggenapan janji Tuhan bukan dengan cara murahan, tetapi dengan cara kesatria seperti hari ini. Huuuuuiiiiiiih….!

Selesailah sudah drama kehidupan untuk hari ini. Ada kelegaan yang terdengar dari desahan nafas semua orang yang menyaksikan peristiwa ini. Setidaknya tiga ribu enam ratus orang saat itu yang jadi penontonnya.

Hari sudah sore..raja pulang ke rumahnya. Yah benar , rumahnya. Rumahnya belum tentu rumahku. Aku tidak diajak pulang ke rumahnya sebagai anaknya. Aku tidak diajak pulang sebagai pegawainya lagi seperti dulu. Dan aku tidak diajak pulang serta memetik kecapi lagi di hadapannya seperti dulu.

Ja…ja…ja…diiii….? Tadi itu….??? Hanya drama penyelamatan masa depan???

Yah sudahlah….berarti itu bukan cara Tuhan untuk aku dan orang-orangku, kami masih kembali pada status kami menjadi buron. Setidaknya selamat untuk hari ini. Selamat bukan dengan cara lari seperti biasanya, tetapi selamat dengan cara menghadapinya.

Setelah raja dan tiga ribu orang itu pulang, tampak sepi, karena sudah berkurang tiga ribu orang, kini kami pun sejumlah lebih kurang enam ratus orang,  pergi ke kubu gunung. Mereka semua adalah anak muridku.

Kami butuh kubu, dan hanya Tuhanlah kubu pertahanan kami yang paling kokoh. Kemengangan kami hanya pada tangan-Nya yang perkasa, dan luar biasa. Dia bukan Allah yang berangasan dan ugal-ugalan, demikian pula aku dan aku harap juga demikian dengan anak muridku.

Kubu ini menandakan kami tidak lengah, kami tidak gagah-gagahan dan sombong-sombongan, melainkan kami tetap waspada, kami tetap berjaga, kami tetap berlatih, kami tetap berdoa, kami tetap menatap masa depan dengan kerja keras dan doa.

Program sekolah masih terus berlanjut.

 

 

 

NABI SAMUEL MATI

 

I Sam 25: 1, I Sam 16, I Sam 19: 18-24

 

Nabi Samuel yang terkenal itu pun mati. Dia adalah ayah rohaniku. Dialah yang mengurapi aku diantara ke tujuh kakak-kakakku kala itu, bahkan di hadapan ayah dan ibuku yang dalam pandanganku bisa dikatakan ‘meninggalkan’ aku. (*22)

Terkadang aku merasa aku adalah anak yang ditinggalkan oleh ayah dan ibuku, mungkin karena aku anak terkecil, mungkin juga kehadiranku sebagai anak yang ke de-la-pan di hari tua mereka sungguh merupakan kehadiran jabang bayi yang sangat tidak diharapkan. Betapa repotnya kehadiran diriku buat mereka. (*23)

Atau mungkin juga kehamilan ibuku saat mengandung aku adalah masa-masa yang berat saat menghadapi bahwa ayahku selingkuh dengan wanita lain yang saat itu juga sedang mengandung dalam usia kandungan yang lebih tua. (lihat lampiran1)

Harapan terbesar mereka ada pada ketiga kakakku yang pertama , Kak Eliab, kakakku yang kedua, Kak Abinadab, dan kakakku yang ketiga, Kak Syama. Paras mereka ganteng dan perawakan mereka tinggi, sangat berbeda sekali dengan aku yang imut dan pipiku kemerah-merahan, yah boleh dikata aku ini anak bau kencur, atau anak bawang. Aku tidak menuduh orang tuaku macam-macam, tapi memang terbukti kog dari ucapan mereka, memang kak Eliab, kak Abinadab dan kak Syama, nama-nama mereka bertiga ini terus yang disebut-sebut (*24) . Sedang nama kakak-kakakku yang nomor empat sampai nomor 7 , apalagi aku yang nomor 8, jarang disebut-sebut (*25) Padahal kan aku anak kandung….malah kakakku yang nomor 7 yang adalah saudara lain ibu denganku justru ikut diundang hadir saat Nabi besar itu datang ke rumahku, sedangkan aku yang anak kandung malah dilupakan. (lampiran1)

Ayahku tentu bangga dengan perawakan mereka yang tinggi dan paras mereka yang elok, sehingga ayah dengan sukacita melepas mereka pergi sebagai anggota wajib militer. Tapi tidak mengapa buatku. Selama Tuhan menyambut aku, apa pun perlakuan ayah ibu padaku tidak menjadi suatu tekanan buatku. Itulah mengapa aku mencoba melegakan diriku dengan membawa kecapiku kemana-mana. Saat hatiku gundah, aku mencoba datang pada Tuhan yang selalu menyambut aku dengan tangan kasih-Nya. Kasih Tuhan padaku lebih ajaib dari kasih ayah dan ibu sesempurna apa pun di dunia ini, walau aku yakin tak ada orang tua manapun yang sempurna. Termasuk ayah dan ibuku.

Walau perlakuan mereka padaku bisa dibilang agak aneh, namun aku sangat mengasihi mereka dan berusaha taat. Saat ayah menyuruhku menengok kakak-kakakku yang tiga itu di medan laga, sepagi mungkin sudah aku atur masalah kerjaanku, walau kambing domba yang aku gembalakan cuma dua tiga ekor, aku tahu itu adalah harta yang sangat berarti sekali bagi keluargaku yang sederhana ini, jadi aku titipkan pada orang yang sekiranya bisa aku lihat sebagai orang yang bertanggung jawab menjaga kambing domba itu, dan tidak meremehkan walau hanya dua tiga ekor saja. Itu penting buatku untuk memastikan semuanya beres sebelum aku berangkat menuruti kehendak ayahku.

Dan kini setelah mereka semakin tua, dan keadaanku kini sebagai buron raja, aku pun memperhatikan keamanan dan keselamatan mereka..itulah alasannya aku menitipkan mereka di tempat yang aman, sama, sama saja, aku harus memastikan mereka aman, semaman-amannya, aku sangat mengasihi mereka. (*26)

Nabi Samuel bagiku bagaikan ayahku sendiri, dia telah mengurapi aku, bahkan sebelum pengurapan itu dia berkata bahwa acara makan bersama tidak akan dilaksanakan sebelum aku datang. Aku masih ingat sekali peristiwa hari itu, ada yang tergopoh-gopoh menjemputku di padang, dan berkata ada nabi Tuhan datang dan menunggu kedatanganku pulang ke rumah. Terpaksa kambing domba yang aku gembalakan aku giring mereka sambil agak terburu-buru, bagaimanapun kami semua segan dan menghormati Nabi Samuel, kedatangannya di desa kami sungguh suatu kejutan yang membahagiakan seluruh desa.

Dan inilah lagu gubahan Arranger kami, Asaf, dia menuliskan peristiwa itu dengan syair lagu seperti ini: (*27)

 

Dilipih-Nya Daud, hamba-Nya,

diambil-Nya dia dari antara kandang-kandang kambing domba;

Dari tempat domba-domba yang menyusui didatangkan-Nya dia,

untuk menggembalakan Yakub, umat-Nya, dan Israel, milik-Nya sendiri.

Ia menggembalakan mereka dengan ketulusan hatinya,

dan menuntun mereka dengan kecakapan tangannya.

Aku masih ingat baju apa yang dikenakannya saat itu, kata-katanya padaku, sentuhannya tangannya  pada bahuku, dan senyumnya yang lembut. Aku bisa merasakan pada saat itu betapa dia itu orang yang sangat dekat dengan Tuhan dan selalu mendengarkan suara Tuhan dengan sangat peka.  Sama seperti ketika aku mendapat kepekaan untuk menulis syair-syair laguku saat aku memetik kecapiku di hadapan domba-kambing yang menjadi pendengar setia konser-konser padangku itu.  Ada hal yang sama di antara kami berdua, di antara Nabi Samuel dan diriku ini, kami sama-sama cinta akan Tuhan, sama-sama lapar akan suara Tuhan, sama-sama memuja Allah Israel dalam hidup kami. Saat dia mengurapi aku, aku bisa rasakan Roh Tuhan turun atas hidupku melalui pengurapannya sebagai seorang Nabi yang luar biasa.

Dan ini adalah lagu yang digubah oleh dirigen paduan suara kami, yang bernama Etan. Dia menuliskan tentang pengurapan Tuhan atas hidupku, dan betapa Tuhan itu setia akan segenap janji-janji-Nya pada umat-Nya. (*28)

Kesetiaan TUHAN kepada Daud

Nyanyian pengajaran Etan, orang Ezrahi.

Aku hendak menyanyikan  kasih setia TUHAN selama-lamanya,

hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun.

Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya;

kesetiaan-Mu tegak seperti langit.

Engkau telah berkata:

“Telah Kuikat perjanjian dengan orang pilihan-Ku,

Aku telah bersumpah kepada Daud, hamba-Ku:

Untuk selama-lamanya Aku hendak menegakkan anak cucumu,

dan membangun takhtamu turun-temurun. “

Sebab itu langit bersyukur karena keajaiban-keajaiban-Mu, ya TUHAN,

bahkan karena kesetiaan-Mu di antara jemaah  orang-orang kudus.

Sebab siapakah di awan-awan yang sejajar dengan TUHAN,

yang sama seperti TUHAN di antara penghuni sorgawi?

Allah disegani dalam kalangan  orang-orang kudus,

dan sangat ditakuti melebihi semua yang ada di sekeliling-Nya.

Ya TUHAN, Allah semesta alam,  siapakah seperti Engkau ?

Engkau kuat, ya TUHAN, dan kesetiaan-Mu ada di sekeliling-Mu. 

Engkaulah yang memerintah kecongkakan laut,

pada waktu naik gelombang-gelombangnya,

Engkau juga yang meredakannya.

Engkaulah yang meremukkan Rahab  seperti orang terbunuh,

dengan lengan-Mu yang kuat Engkau telah mencerai-beraikan musuh-Mu.

Punya-Mulah langit, punya-Mulah juga bumi,

dunia serta isinya Engkaulah yang mendasarkannya.

Utara dan selatan, Engkaulah yang menciptakannya,

Tabor   dan Hermon bersorak-sorai karena nama-Mu.

Punya-Mulah lengan yang perkasa,

kuat tangan-Mu dan tinggi  tangan kanan-Mu.

Keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Mu,

kasih dan kesetiaan berjalan di depan-Mu.

Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN,

mereka hidup dalam cahaya  wajah-Mu;

karena nama-Mu  mereka bersorak-sorak sepanjang hari,

dan karena keadilan-Mu mereka bermegah.

Sebab Engkaulah kemuliaan kekuatan mereka,

dan karena Engkau berkenan, tanduk  kami meninggi.

Sebab perisai  kita kepunyaan TUHAN,

dan raja  kita kepunyaan Yang Kudus Israel.

Pernah Engkau berbicara dalam penglihatan

kepada orang-orang yang Kaukasihi, kata-Mu:

“Telah Kutaruh mahkota di atas kepala seorang pahlawan,

telah Kutinggikan seorang pilihan dari antara bangsa itu.

Aku telah mendapat Daud,   hamba-Ku;

Aku telah mengurapinya  dengan minyak-Ku   yang kudus,

maka tangan-Ku tetap dengan dia,

bahkan lengan-Ku meneguhkan dia.

Musuh tidak akan menyergapnya,  dan orang curang tidak akan

menindasnya.  Aku akan menghancurkan lawannya dari hadapannya,

dan orang-orang yang membencinya  akan Kubunuh.

Kesetiaan-Ku dan kasih-Ku menyertai  dia,

dan oleh karena nama-Ku tanduknya akan meninggi.

Aku akan membuat tangannya menguasai laut,

dan tangan kanannya menguasai sungai-sungai.

Diapun akan berseru kepada-Ku:

‘Bapaku Engkau,  Allahku dan gunung batu   keselamatanku.

Akupun juga akan mengangkat dia menjadi anak sulung,

menjadi yang mahatinggi  di antara raja-raja  bumi.

Aku akan memelihara kasih setia-Ku bagi dia untuk selama-lamanya,

dan perjanjian-Ku teguh bagi dia.

Aku menjamin akan adanya anak cucunya sampai selama-lamanya,

dan takhtanya seumur langit.

Jika anak-anaknya meninggalkan Taurat-Ku

dan mereka tidak hidup menurut hukum-Ku,

jika ketetapan-Ku mereka langgar

dan tidak berpegang pada perintah-perintah-Ku,

maka Aku akan membalas pelanggaran mereka dengan gada,

dan kesalahan mereka dengan pukulan-pukulan.

Tetapi kasih setia-Ku tidak akan Kujauhkan dari padanya

dan Aku tidak akan berlaku curang dalam hal kesetiaan-Ku.

Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku,

dan apa yang keluar  dari bibir-Ku tidak akan Kuubah.

Sekali Aku bersumpah demi kekudusan-Ku,

tentulah Aku tidak akan berbohong kepada Daud:

Anak cucunya akan ada untuk selama-lamanya,

dan takhtanya seperti matahari  di depan mata-Ku,

seperti bulan yang ada selama-lamanya,

suatu saksi yang setia di awan-awan.  

Aku tahu…bahwasannya aku masih bisa bertahan sampai saat ini juga adalah karena Roh Tuhan ada dalam hidupku, karena sejak itu hidupku tak kan pernah sama lagi.

Kakak sulungku, kak Eliab, bisa saja menganggap sepi pengurapan itu.  Apalagi sehari setelah nabi Samuel pulang, tidak terjadi apa-apa dalam diriku, dalam arti aku tetap kembali menggembalakan kambing domba seperti yang sudah-sudah. Sepertinya tidak ada yang istimewa yang terjadi padaku. Memang sih,  setelah acara pengurapan itu, aku tak lama kemudian bekerja di istana sebagai pemusik terapi istana kerajaan serta menjadi pembawa senjata raja, tapi kan pada saat raja berangkat berperang aku tidak diajak.  Jadi aku kembali pulang ke rumah. Itulah yang kak Eliab selalu menekankan bahwa itu tugasku…menggembalakan kambing domba..

Dia pernah marah dan menuduh aku datang ke medan pertempuran dengan maksud melihat-lihat pertempuran..dia katakan bahwasannya aku pemberani dan hatiku jahat.

Uppppsssssss!!!  Hanya Tuhan yang membawaku ke medan tempur kala itu, bukan karena aku anggota wajib militer, juga bukan karena aku bekerja sebagai pembawa senjata di istana raja, juga bukan karena aku pemusik terapi istana kerajaan, juga bukan karena aku seorang tentara, latar belakangku yang aku ajukan sebagai referensi yang aku ajukan pada raja adalah pengalamanku bersama dengan Tuhan saat aku bekerja sebagai gembala, tidak lebih.

Itu pun bukan karena aku ingin datang ke medan tempur seperti yang dikatakan kak Eliab, melainkan karena aku disuruh ayah, tidak lebih. Bahkan aku pun tidak pernah menghadap raja..hanya bertanya sana sini saja…kalau raja mendengar itu semua lalu memanggilku ..masa aku tidak menghadap..?? Dan memang benar kata kakak, aku pemberani, kalau singa dan beruang saja aku sikat…apalagi cuma rakasasa itu, siapa sih yang bisa menang berhadapan dengan nama Allah Israel..?? Sedang aku ini kan hanya alat di tangan-Nya, tidak lebih.

Untung hatiku tidak terkoyak dengan semua kata-kata kak Eliab, aku maju terus…dan pada akhirnya mungkin kakak-kakakku mulai melihat betapa Roh Tuhan itu berkuasa atas hidupku, dan aku bukan gembala biasa, aku bukan adik mereka yang biasa mereka lihat, ada sesuatu yang berbeda dalam hidupku, yah benar…karena ada Roh Tuhan berkuasa atasku. Itu yang membuat perbedaan yang sangat signifikan. Kepala raksasa itu dalam genggaman tanganku, adik mereka yang imut-imut ini. Aku harap mereka mengerti bahwa ambisiku yang terbesar adalah hidup dekat dengan Tuhan dan Roh Tuhan…bukan ambisi jadi anak remaja sok jagoan.

Nabi Samuel sangat berjasa dalam hidupku. Bahkan ketika aku dikejar-kejar raja, aku lari kepadanya dan mengadukan semuanya seperti anak kecil yang mengadu pada ayahnya. Dia pun menenangkan diriku, dan menyarankan untuk tetap saja tinggal bersama dia, dan dia pun meyakinkan bahwa pengurapan Tuhan itu akan menjaga aku , sehingga raja tidak bisa mengapa-apakan aku.  Kecemasanku cukup tinggi saat itu, aku sendirian. Tapi toh semua perkataan Nabi Samuel itu terbukti, satu batalion tidak bisa tembus, batalion kedua tidak bisa tembus..terus dan terus sampai raja sendiri pun datang dan tidak bisa tembus hadirat Tuhan. Hadirat Tuhan sendiri memproteksi kami, menjadi semacam tembok perlindungan.

Sejak itu aku tak pernah gentar seperti kegentaranku saat itu…walau kadang aku pernah takut juga sih sampai-sampai sahabatku datang menguatkan imanku. (*29)

Nabi Samuel banyak menasehati aku agar aku tetap pegang janji Tuhan digenapi dalam hidupku. Seumur hidupnya hanya dua kali ini kami ketemu, yaitu saat dia mengurapi aku, dan saat aku lari dari raja dan mengadu padanya. Tapi walau hanya dua kali bertemu, kehadiran nabi Samuel adalah sangat istimewa dalam hidupku, dua kali perjumpaan yang sangat berarti sekali, aku sangat diberkati lewat hidup dan pelayanan beliau.

Kini beliau sudah pergi…tugasnya sudah selesai…dan salah satu tugasnya yang sudah pernah dilaksanakannya adalah mengurapi aku menjadi raja yang kedua di Israel…hatiku bergetar..aku berhadapan dengan jenasah dari orang yang bukan orang sembarangan.

Aku menatap jenasahnya dalam-dalam. Kini ayah rohaniku ini telah pulang ke surga. Aku sendiri di sini menghadapi semua fenomena ini. Kalau saja pengurapannya dahulu itu hanya berupa janji akan jadinya aku sebagai raja berikutnya dan tidak disertai adanya Roh Tuhan dalam hidupku…..entahlah…mungkin sekarang ini aku sudah menyerah. Tapi karena ada Roh Tuhan…ehhhhmmmm ada pegangan dalam hidupku yang masih terus bisa aku andalkan seperginya ayah rohaniku hari ini. Asal jangan sampai Roh Tuhan meninggalkan aku seperti yang dialami raja. Jangan sampai hal itu terjadi….aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Dia. Ayah rohaniku sudah pergi meninggalkan aku. Hiks hiks…..

Di upacara penguburan ini, di Rama, aku, seluruh rakyat, juga raja hadir dalam acara yang sama.

Selesai upacara penguburan di Rama ini, aku berkemas, aku harus bangkit, aku harus melanjutkan hidupku, aku harus terus bergelut dengan kenyataan yang kuhadapi, hidup ini adalah sebuah realita. Janji Tuhan tetap aku pegang, tetapi keseharian hidup yang aku jalani juga aku harus hadapi.

Entah kapankah harinya tiba dimana antara janji Tuhan dan penggenapannya itu selaras dengan realita yang aku jalani dalam keseharian hidupku. Aku tidak boleh kecewa, patah semangat dan putus asa. Aku harus seperti nabi Samuel, mencapai garis akhir seperti yang Tuhan inginkan dalam hidupku. Hidupnya sudah selesai, lembaran hidupnya sudah ditutup, tetapi sepertinya aku belum mencapai seperempat ketebalan buku kehidupan yang dirancang untukku, belum….

Aku berkemas, pergi ke padang gurun Paran. Tetap…ada enam ratus orang yang menyertai aku, karena mereka terus aku latih dan latih menjadi kesatria sejati. Mereka semua adalah anak muridku.

 

AKU DAN ANAK MURIDKU,

KAMI MELARIKAN DIRI KE MAON

I Sam 25: 2-44

 

Babak baru dalam kehidupanku kini telah dimulai, karena ayah rohaniku telah berpulang. Kudengar Nabal si orang Karmel itu mengadakan pengguntingan bulu domba di padang gurun. Dia adalah seorang pengusaha peternakan yang sangat sukses dan kaya raya… Aku dan rombongan segera ke lokasi pengguntingan bulu domba dan kami semua (aku beserta 600 orang yang menyertaiku) bagaikan pagar tembok sekeliling bagi para pegawai Nabal, saat mereka menggunting bulu domba.

Sebentar lagi pasti akan ada hari raya pengguntingan bulu domba, jadi aku akan minta orang-orangku ini mendapat upah yang layak atas kerja keamaanan kami selama ini.

Bukannya mendapat upah, malahan aku dan kami semua mendapat penghinaan yang luar biasa dari Nabal si bebal ini.

Masa dia berkata bahwa aku ini pelarian dari raja dan meminta-minta padanya…???? Huuuuiiiiiiiiiiiiihhhhh!! Aku lari karena menyelamatkan nyawaku, bukan karena aku menghianati Raja…macam-macam saja orang kaya yang satu ini !!

Baik…!! Emangnya aku takut..?? Pasukanku bisa menjaga seluruh acara pengguntingan bulu domba itu, tetapi kalau kami dihina, kami juga bisa menyandang pedang.

“Ayo dua ratus orang tetap di pos menjaga barang-barang, sedang empat ratus orang ikut aku !! Sandang pedang kalian dan ini pedangku juga aku sandang !”

Memangnya kalau selama ini aku dan rombongan selalu lari terus saat raja dan rombongannya mengejar-ngejar kami itu identik dengan kami ini penakut…???

Kalau aku lari dari kejaran raja, itu bukan karena aku penakut, tetapi karena aku tidak mau jadi raja dengan cara membunuh raja yang sebelumnya, aku tidak mau penunjukan Tuhan itu berbalik menjadi pemberontakan politik, aku juga tidak mau mengotori tanganku dengan darah ayahku sendiri, pemimpinku sendiri, rajaku sendiri, tuanku sendiri….aku sungguh-sungguh tak mau. Jangan sampai Roh Tuhan undur daripadaku…itu yang paling aku takutkan dari semuanya, lebih baik aku jadi buron nggak masalah, yang penting Roh Tuhan tetap ada dalam hidupku. Hanya Dia yang bisa mengisi kekosongan hatiku.

Kami bukan orang-orang penakut…!! Bisa saja dengan sekali gempur, raja dan rombongannya kami kalahkan, itu sangat mudah.

Tapi Nabal ini memang sudah keterlaluan, dia perlu tahu siapa kami sebenarnya, dia perlu tahu bahwa dia tidak boleh berani macam-macam sama kami…kami ini pasukan yang terlatih..!!

Sia-sia aku bekerja keras menolong orang ini, karena kebaikanku dibalas dengan kejahatan, air susu dibalas dengan air tuba, aku menjaga dengan baik tetapi mendapat balasan penghinaan yang jahat.

Saat kami berangkat dengan semangat empat lima untuk melayangkan pedang ke seluruh laki-laki di rumah Nabal itu, di perjalanan kami berjumpa istri Nabal. Dia bernama Abigail, cantik luar biasa, dan perkataannya bijak serta lembut hati.

Dia berkata bahwa dia yang menanggung kesalahan suaminya, dan wanita ini berani lho menasehati aku, dia katakan bahwa dicegah Tuhanlah kiranya aku melakukan hutang darah dengan bertindak sendiri dalam melakukan keadilan,

Dia mengemukakan pandangannya yang sangat apik, hukum tabur tuai..dimana saat aku tidak main hakim sendiri, tentunya Tuhan sendiri yang akan menjaga nyawaku daripada para musuh, dan biarlah Tuhan sendiri yang menghukum mereka.

Bahkan wanita ini mengemukakan pandangannya yang lain lagi, dia katakan bahwa kelak jika janji Tuhan digenapi dalam hidupku untuk aku jadi raja, jangan sampai aku menyesal karena ada noda darah yang mengotori masa laluku sebelum aku jadi raja.

Kadang -kadang ketika aku dihina dan emosi seperti ini sih..aku tidak terpikir sampai di situ, bahwa ada waktu di mana suatu saat, entah kapan janji Tuhan itu pasti digenapi dalam hidupku, aku akan jadi raja.

Oh iya benar juga ya…

Aku ini orang yang diurapi.

Aku ini orang yang dipilih Tuhan.

Aku ini bukan orang sembarangan, bukan orang ugal-ugalan, bukan orang yang berangasan.

Kenapa penghinaan Nabal ini begitu mudah menyulut emosiku !!

Wanita ini benar-benar bijak, dia juga memberi hadiah dan oleh-oleh yang tidak sedikit untuk rombongan kami. Dia sangat berbeda sekali dengan suaminya yang super pelit.

Baik, aku perlu mendengarkan perkatan seorang PE REM PU AN, dan kalau itu bisa mengasah aku menjadi peribadi yang lebih rendah hati..itu keren !

Untunglah aku dipertemukan dengan pencegahan kudus ini ! Aku menerima semua pandangan-pandangan keren dari wanita ini !

Aku akui dengan emosi kemarahanku selama ini pada Nabal, telah memberi teladan yang buruk pada anak-muridku semuanya. Aku sendiri gagal melakukan pelajaran tingkat menengah, dan tingkat lanjut.

Aku bersyukur Tuhan kirimkan guru perempuan di antara kami, dengan seminarnya yang tidak lebih dari setengah sesi, memberikan pencerahan kepada kami.

Aku tidak segan-segan menuruti nasihat perempuan, nasihat seorang Pe-rem-pu-an, di hadapan anak muridku semuanya, agar mereka tahu bahwa terkadang aku sendiri pun harus diingatkan akan kurikulum sekolah takut akan Tuhan ini. Itu juga berlaku untuk diriku sendiri. Mengapa harus gengsi kalau memang Tuhan berbicara lewat seorang perempuan..!

Selama perkataan seorang perempuan bisa dipakai Tuhan untuk membawa kita berbudi luhur dalam perkataan, berbudi luhur dalam tindakan serta mengusahakan perdamaian dengan Tuhan dan orang lain, mengapa kita harus dicegat oleh yang namanya gengsi??

Anak muridku yang tadinya bersemangat menyangdang pedang agak heran juga saat aku bisa dihentikan oleh seorang perempuan.

Tapi itulah kenyataannya. Aku menyarungkan kembali pedangku, dan demikian juga dengan mereka semua yang adalah anak muridku.

Kira-kira sebelas hari (*30)  kemudian aku dengar Nabal mati terkena serangan jantung dan strooke. Puji Tuhan ! Ternyata benar juga, saat kita tidak membalas dendam, tidak melampiaskan amarah kita pada orang jahat, saat itu lah justru Tuhan yang akan bertindak sendiri.

Di sinilah aku menyadari titik di mana aku membutuhkan penasehat yang bijak, aku butuh pendamping, jadi aku persunting saja si Abigail bekas istri Nabal ini. Memang dia janda…tak apalah, aku juga ambil Ahinoam dari Yizreel yang masih gadis menjadi pendamping hidupku.

Mikhal istri pertamaku, putri raja sudah tidak dapat aku tunggu lagi kehadirannya, karna oleh raja dia diberikan pada pria lain.

Jadi …pertemuan bersejarah di goa itu….?? Justru membuat raja menjauhkan putrinya dariku?

Apakah aku sudah dicoret dari daftar kerabat raja?

Apakah raja sudah menolak aku menjadi menantunya?

Eloh..bukannya raja sendiri di gua bersejarah itu meminta aku tidak melenyapkan keturunannya dan tidak akan menghapus namanya dari kaum keluarganya…??? Dan aku pun telah bersumpah untuk menurutinya?

Mengapa sekarang justru aku yang dicoret dari daftar keluaga dengan cara memberikan isteriku Mikhal pada orang lain…???

Sebuah drama penyelamatan masa depan !!

Gleg ! Aku menelan ludah, pil pahit kegetiran terasa menusuk hatiku. Sampai kapan ya Tuhan semua ini akan berakhir…??

 

AKU DAN ANAK MURIDKU,

KAMI MELARIKAN DIRI KE BUKIT HAKHILA DI PADANG BELANTARA

I Sam 26

 

Aku kini bersembunyi di Padang Gurun Zif, tepatnya di bukit Hakhila di padang belantara.  Sudah kedua kalinya Padang Gurun Zif ini menjadi tempat pelarianku. Lagi-lagi  orang Zif ini bocor mulut kepada raja. Mereka selalu mengatakan kepada raja di mana tempat persembunyianku, dan raja akhirnya mengerahkan ti-ga ri-bu o-rang ter-pi-lih dari antara orang Israel untuk mencari aku dan rombongan kami di padang gurun ini.

Saul dan tiga ribu orang-orangnya berkemah di tepi jalan di padang belantara di bukit Hakhila, sedangkan kami sudah ada dalam posisi di padang gurun-nya. Sebagai seorang prajurit tentunya aku tahu bahwasannya rombongan Saul mengikuti perjalanan kami dari belakang, namun aku tidak yakin apakah raja ikut dalam pengejaran buron ini.

Bukankah pertemuan kami yang terakhir di goa bersejarah itu, sebelum Nabi Samuel itu meninggal dunia, raja sudah mengakui semuanya, raja sudah menangis dengan nyaring, raja sudah meminta aku bersumpah untuk tidak melenyapkan keturunannya dan tidak akan menghapuskan namanya dari kaum keluarganya?

Masa raja ikut mengejar aku dalam perburuan kali ini…??? Kalau dia mengirimkan utusan dan pasukan untuk menangkap aku sih masih masuk akal, akan tetapi setelah peristiwa di goa itu…raja masih saja tetap ikut datang sendiri memburu aku…?? Apa iya??

Aku benar-benar tidak yakin kalau pertemuan bersejarah di goa itu tidak berarti apa-apa buat raja. Aku benar-benar tidak yakin masakan usaha pembuktian siapa diriku tidak ada pengaruhnya apa-apa buat raja.

Begini saja. Aku mengutus pengintai untuk mengamat-amati diantara 3000 orang itu apakah ada raja di sana.

Tidak lama kemudian pengintai-pengintai yang aku utus itu pun datang memberi laporan bahwasannya raja benar-benar datang !! Ups !! Ra-ja da-tang….??? !! Huiiiiihhhh!! Ternyata pembuktianku tidak menghasilkan apa –apa !! Hemmmm apa boleh buat…??

Aku pun pergi ke area perkemahan raja. Di situ kulihat raja sedang tidur dengan panglimanya Abner bin Ner. Saul berbaring di tengah-tengah perkemahan, sementara rakyat berkemah di sekelilingnya.  Jadi raja tidur di tempat terbuka…wauuuuuu pengamanan yang sangat ceroboh, memang sih ada tombak yang disebelah kepalanya, dan ada pengawal di sampingnya, akan tetapi tanpa kemah, raja mudah dipanah dari arah mana saja oleh musuh tersembunyi.

Kegemasanku pada Abner bin Ner sebagai pengawal raja sudah sampai ke ubun-ubun rasanya ! Mana bisa seorang pengawal tidur bersama-sama dengan pada saat raja tidur! Apa gunanya dia sebagai pengawal kalau seperti ini.

Hati keprajuritanku terasa gemas…dan geregetan melihat pengamanan yang lemah seperti ini !! Mengapa orang-orang ini ceroboh dalam menjaga raja mereka ! Seandainya aku ini orang Filistin, bisa saja hanya dengan satu tarikan panah dari arah atas, raja mati seketika! Untung tidak ada orang Filistin di sini !

Baik, dari dua orang yang menyertai aku ini harus ada satu yang menemani aku ke perkemahan raja, aku tawarkan saja. Tidak perlu banyak-banyak orang, apalagi enam ratus orang yang belum terasah kelembutan hatinya itu…! Tidak perlu mengajak mereka, cukup mengajak satu orang saja …bahkan dua orang pun terlalu banyak ! Pengalaman di goa bersejarah tempohari dulu itu sudah cukup buat aku ! Mengendalikan orang banyak yang sedang berangasan tentunya lebih sulit daripada mengendalikan satu orang saja !

Harapanku sih dari dua orang ini, mereka sudah bisa menjadi pribadi kesatria yang sebenarnya, tegas tetapi lembut hati, lembut tetapi tetap tegas ! Semoga !

“Bagaimana Ahimelekh, ….kau atau Abisai yang ikut aku?”

Abisai bersemangat ikut aku, baiklah….kita lihat apa yang akan terjadi nanti ! Sedang Ahimelekh biar tidak perlu ikut !

Kami menunggu sampai malam tiba.

Malam itu lebih aneh lagi, bukan Cuma raja yang berbaring di luar kemah, berbaring di tengah-tengah perkemahan, melainkan pengawal –pengawalnya bahkan seluruh rakyat ikut tidur di luar tenda..Ini benar-benar kecerobohan yang luar biasa. Dengan berbaring di luar tenda, mereka dengan mudah dapat dikenali, dan mereka dapat dengan mudah diserang, bahkan bukan Cuma manusia, melainkan binatang buas pun dapat dengan mudah menyerang mereka !

Medan sudah kita baca. Abisai pun berkata padaku

“Pada hari ini Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, oleh sebab itu izinkanlah kiranya aku menancapkan dia ke tanah dengan tombak ini , dengan satu tikaman saja, tidak usah dia kutancapkan dua kali.”

Keberanian yang tangguh ! Satu orang yang berani menerobos ke medan ! Ketepatan untuk mengenali satu tikaman mematikan tepat di tempat anatomi jantung manusia ! Target satu kali tancapan tombak…! Wauuuu parjurit dengan nilai A ! Namun secara pengenalan akan rencana Tuhan…nilainya NOL !

Aku kira dengan mengajak satu orang, masalah akan lebih mudah diatasi, ternyata tidak juga, aku masih merasa belum berhasil mendidik anak muridku yang  terdekat  denganku untuk mengerti kehendak Tuhan antara aku dengan raja !  Aku harus terus didik mereka dengan tanpa lelah sampai mereka semua mengerti sedalam-dalamnya maksud dan rencana Tuhan atas kami semua.

“Jangan musnahkan dia ! Sebab siapakah yang dapat menjamah orang yang diurapi TUHAN, dan bebas dari hukuman ?”

Hukum yang ada bukan Cuma hukum rimba, akan tetapi ada hukum surga. Bisa saja kita  menang dalam pembalasan dendam,akan tetapi ingat, bahwasannya  kita sendiri akan masuk dalam ranah hukum surgawi.

Hukum yang paling tinggi adalah hukum surgawi. Itu penting untuk kita catat !

“Demi TUHAN yang hidup, niscaya Tuhan akan membunuh dia:entah karena sampai ajalnya dan ia mati, entah karena ia pergi berperang dan hilang lenyap di sana. ….”

Aku mau jelaskan bahwasannya Tuhan itu punya banyak cara untuk menyatakan pembelaan dan perkenan-Nya dalam hidup kita.  Terbukti kan si bebal Nabal itu saja bisa mati di tangan Tuhan sendiri saat dia membatu sepuluh hari lamanya…dan akhirnya ajal menjemput ! Tidak perlu pedangku melayang bukan??  Untunglah saat itu aku terhindari dari main hakim sendiri !

Untuk orang se bebal Nabal saja Tuhan menghindarkan aku untuk main hakim sendiri, apalagi kini aku berhadapan dengan orang yang bukan sembarangan, raja adalah orang yang diurapi Tuhan….pengurapan yang sama seperti pengurapan yang aku terima dari Tuhan melalui hamba-Nya , Nabi-Nya.

“Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi Tuhan!….”

Lagi-lagi kata-kata seperti ini aku garis bawahi dan terus ulang ulang pada anak muridku sampai mereka menangkapnya dalam dasar hati mereka yang paling dalam….semoga mereka jangan bosan mendengarnya dan semoga mereka tidak menganggap aku ini Cuma lipsing dengan kalimat-kalimat itu, semoga mereka bisa menangkap segenap kesungguhan hatiku saat mengulang-ulang berkali-kali di telinga mereka itu.

“Ambillah sekarang tombak yang ada di sebelah kepalanya dan kendi itu, dan marilah kita pergi.”

Baiklah..kini keberaniannya sebagai seorang prajurit tetap aku hargai, tapi kelembutannya untuk bisa mengerti hati Tuhan dan mengenali cara kerja Tuhan cukup menghantarkannya untuk hanya menyentuh tombak dan kendi, bukan menyentuh tubuh tuanku raja,  apalagi menancapkannya ke tanah.

Kepatuhannya padaku kini aku pertaruhkan ! Aku percaya Abisai orang yang patuh padaku sebagai pemimpinnya !

Tombak itu memang pernah hampir menancapkan aku di dinding istana TI GA KA LI ..ya tiga kali…! yah tombak yang sama, itu adalah tombak raja.. Aku kenal betul warnanya, ukurannya, bentuknya serta keunikan daripada tombak raja itu.

Tombak dan kendi itu perlu diambil….ini adalah pembuktian yang kedua dariku untuk raja, semoga raja bisa berubah dengan pembuktian ini !

Tombak itu adalah saksi bisu yang seakan-akan mau mengajak aku memegangnya dan menancapkannya pada dada raja..sekali saja dan langsung mati. Score Tiga – Satu. Tiga kali aku diburu dan lolos, tetapi hanya dengan satu kali saja raja bisa kukalahkan. Tetapi tidak…biarlah scorenya tetap tiga enol….

“Ehhhh nggak jadi deh ! Aku saja yang mengambilnya…aku saja yang mengambil tombak dan kendi itu !”

Abisai kaget ketika aku memutuskan harus aku yang mengambil tombak dan kendi itu. Tapi ia segera taat.

Aku harus menang kali ini, kalau aku menyuruh Abisai..itu terlalu mudah buatku, tidak ada kemenangan yang nyata. Aku harus nyatakan bahwa tombak itu bisa saja ada dalam genggamanku kini. Dia adalah senjata yang sama yang pernah dipakai untuk menancapkan aku di tembok istana, akan tetapi…dia tidak akan pernah manjadi senjata yang sama di tangan yang berbeda. Tanganku. Aku tidak akan menancapkan tombak ini pada orang yang seharusnya menjadi sekutuku, kalau untuk menancapkan pada Filistin itu lain soal, memang Filistin adalah seteru.

Kami mengendap-endap, berjingkat-jingkat….menjaga jangan sampai langkah kami terdengar dari orang yang satu ke orang yang lain, melintasi tubuh yang satu ke tubuh yang lain, sampai kami tepat di tengah-tengah…yaitu dimana raja berbaring …

Butuh keseimbangan tubuh untuk saat berjingkat, saat menjinjit, saat melangkah pelan-pelan, saat menjaga jangan sampai langkah kami terdengar, tubuh kami jangan sampai tidak seimbang lalu kemudian menjatuhi salah satu rakyat pilihan yang menyertai raja, atau bahkan menjatuhi salah satu saja prajurit pengawal…hmmmm Pssssssssssssssttttttttttttttt!!!

Bahkan ditengah-tengah gaya tidur tiap orang yang berbeda, terkadang ada yang berdempetan, kami harus mencari celah yang dapat menjadi tempat kami berpijak, dan jangan sampai kami menginjak jari tangan, kaki, atau rambut orang yang sedang tidur agar tidak tertarik oleh injakan kaki kami dan bisa-bisa membangunkan dia…ow owwwww

Di sana-sini terdengar dengkuran…sepertinya orang-orang ini begitu nyenyak sekali tidurnya…tidak terkecuali, baik raja, baik pengawalnya, baik rakyat yang menyertai mereka….masakan tiga ribu orang bisa kompak nyenyak semua tidurnya…Masakan tidak ada satupun yang setengah nyenyak, setengah terjaga….ini benar benar aneh, aku tahu ini pasti Tuhan..ini pasti kerjaan Tuhan yang membuat mereka semua nyenyak sekali….

Aku melirik ke langit di atas dan tersenyum simpul…ups ! Tetap harus jaga keseimbangan tubuhku ! Tuhan memang memegang semua percaturan politik, dan Dia itu keren abiz ! Senyum-senyum sendiri aku dibuatnya..ketika pemikiran seperti itu terlintas..

Yups ! Sekarang sudah sampai menerobos sampai ke tengah-tengah dan ini raja…dia ada tepat di depan mataku..! Jantungku berdegup kencang, aku berdebar-debar…raja ada di hadapanku, tepat beberapa sentimeter di depanku.

Selama ini kami tidak pernah sedekat ini…sudah lama sekali aku tidak pernah berdekatan dengan raja, terakhir adalah saat aku terakhir sekali main musik terapi buat dia, dan paling terakhir adalah saat aku menyapa raja dari belakang di goa bersejarah itu. Selebihnya kami selalu mengejar dan dikejar…kami selalu terpisah oleh jarak pengejaran…dan Tuhan seolah-olah selalu menjaga jarak itu, sehingga aku seperti aman dalam perlindungan gunung batu kekuatanku yaitu Tuhan sendiri….gunung batu perlindunganku yang membuat aku tidak bisa ditembus oleh apapun juga.  Tapi kini saat aku harus sedekat ini dengan raja, Tuhan punya cara unik dan agak lucu juga sih menurut aku, raja dan ribuan orang ini dininabobokkan-Nya.

Cukup hati-hati aku ambil kendi dan tombak itu, satu di tangan kananku, dan satu di tangan kiriku, dan kami berdua akan menuju ke seberang, dan kami harus mengulangi proses menerobos orang-orang yang sedang tidur ini sampai ke puncak gunung di jauh sana. Perjalanan kembali ini tingkat kesulitannya lebih tinggi, karena kini aku tidak saja menjaga keseimbangan tubuhku sendiri, akan tetapi juga aku sambil membawa dua barang ini, tombak dan kendi raja.

Untunglah aku dahulu pernah bekerja sebagai pembawa senjata raja, salah satu tugaskau  juga adalah  merawat tombak ini, membersihkannya, membawakannya ke mana-mana kalau raja ingin pindah ruangan, atau sekedar berjalan-jalan di kebun istana. Jadi aku sudah terbiasa dengan seberapa berat tombak ini. Tapi kendi ini mudah pecah, jadi aku harus ekstra hati-hati, menggenggamnya dengan cukup kuat, karena kalau dia jatuh, tentunya suaranya bisa cukup membuat beberapa prajurit terbangun.

Nah..nah naaahhh kini aku sudah sampai di seberang , berdiri jauh-jauh di puncak gunung, sehingga ada jarak yang besar di antara kami..maklum saja..kami harus cukup menjaga jarak dengan rakyat yang ke tiga ribu yang berbaringnya di lingkaran yang terluar.

Baik, strategiku adalah begini, yang pertama akan aku bangunkan dahulu Abner bin Ner dan suaraku harus cukup lantang terdengar menggelegar.

“Tidakkah engkau menjawab, Abner?”  Aku penasaran ingin tahu apa yang jadi jawabannya.

“Siapakah engkau ini yang berseru-seru kepada raja?” 

Eloh…!! Kog pada raja?? Semua yang terjadi pada raja harus dihadapi dulu oleh pengawalnya..!! Memang harus di training ini si Abner bin Ner..

Biar saja…aku tidak bilang siapa aku..biar dia bingung ! Orang seperti Abner ini memang perlu diberi teguran keras !

“Apakah engkau ini bukan laki-laki? Siapakah yang seperti engkau di antara orang Israel? Mengapa engkau tidak mengawal tuanmu raja? Sebab ada seorang dari rakyat yang datang untuk memusnahkan raja, tuanmu itu.  Tidak baik hal yang kauperbuat itu. Demi TUHAN yang hidup, kamu ini harus mati, karena kamu tidak mengawal tuanmu, orang yang diurapi TUHAN itu. Sekarang, lihatlah, di mana tombak raja dan kendi yang ada di sebelah kepalanya?”  

Sedang aku aja yang diburu-buru untuk dibunuh raja menjaga nyawa raja sedemikian rupa dari tangan pembalasanku sendiri, lha kog dia ini sebagai pengawal raja kog ya nggak menyadari bahwa orang yang dia kawal itu bukan orang biasa, melainkan orang yang diurapi TUHAN.

Nah lho..! Kebingungan dia mencari-cari, tengok sana tengok sini untuk menemukan sebentuk tombak dan sebentuk kendi raja…Nggak bakal ketemu lah ya…lha wong tombak dan kendi raja ada di sini, di dekatku sini.

Aku melihat raja ikut terbangun..

“Suaramukah   itu, anakku Daud?”  

Walau suara raja tidak terlalu jelas namun sayub terdengar juga..dia berkata A-NAK-KU…??? Bukankah aku sudah dicoret dari daftar kerabat raja, dicoret dari daftar nama menantu raja..? Bukankah Mikhal , istri sahku itu, sudah diberikan pada pria lain..? Mengapa raja masih memanggilku ‘anakku’? Apakah panggilan ayah dan anak ini hanya keluar dari bibirnya pada saat-saat seperti ini…? Pada saat aku selalu dapat membuktikan padanya bahwa aku masih menghormati dia sebagai ayahku?

“Suaraku, tuanku raja.” 

Yah…itu yang spontan keluar dari bibirku…dia adalah rajaku, untuk mengembalikan persepsiku bahwa dia itu adalah ayah mertuaku memang cukup sulit dalam situasi sekarang ini, karena yang menolak hubungan kekerabatan ini bukan dari pihakku, tetapi dari pihaknya.  Serapuh apa pun dia, aku tetap menganggap dia itu ayahku, namun setulus apapun aku ini, dia ini tetap menganggap aku ini pesaingnya yang pantas untuk dimusnahkan tak berbekas. Jadi sebutan anak biar dari dia saja, sedang dari aku tetap saja aku memanggil dia tuanku raja. Ini semua sebuah bentuk ketau –diri-an ku. Aku kini bukan termasuk keluarga raja lagi, raja telah menjauhkan pengantin sahku dengan bayaran 200 kulit katan orang Filistin, dariku. Aku cukup tahu diri. Secara sebutan biarlah dia memanggil aku anak, akan tetapi secara kenyataannya aku sudah mengampuni segala kerapuhan jiwanya itu. Aku sudah melepaskan hakku sebagai menantu raja..sebagai suami Mikhal..sebagai kerabat raja.

Melepaskan hak memang sakit, apalagi pernikahan kami didasari karena cinta, Mikhal memang sudah jatuh cinta padaku sejak lama, dan semua orang sudah melihat gelagat sorot matanya, senyumnya dan perhatiannya yang berlebihan padaku, apalagi itu namanya kalau bukan jatuh cinta? Mikhal adalah cinta pertamaku, demi menikahi dia dengan sah..aku rela memberi mas kawin lebih dari yang diminta…dan mempertaruhkan nyawaku untuk memberi mas kawin yang super aneh itu.

Tapi saat kita mau melepaskan hak..seperti ada kelegaan, dan seperti ada sebuah pembentukan karakter kerendahan hati dalam diriku…seperti semacam ada pelepasan ego, yah…itu benar !

Lamunanku tiba-tiba terputus dan mengembalikanku pada percakapan ini.

“Mengapa pula tuanku mengejar hambanya ini? Apa yang telah kuperbuat? Apakah kejahatan   yang melekat pada tanganku?”

Aku mencoba mengajak raja berpikir logis…berpikir berdasarkan fakta, bukti-bukti yang ada di depan mata..!

“Oleh sebab itu, kiranya tuanku raja mendengarkan  perkataan hambanya ini.”

Sekali-sekali perlu memperhadapkan raja pada sebuah arahan cara berpikir positif, keluar dari zona emosinoal yang membabi buta seperti ini! Membawa ti-ga ri-bu o-rang terpilih seperti sekarang ini hanya untuk memburu diriku ini…

Kini aku harus memakai sebutan ‘aku’ dan ‘engkau’ , bukan lagi ‘hamba’ dan ‘tuanku’. Karena kini aku perlu memperhadapkan padanya sebuah konsep segi empat, antara TUHAN, aku, dia , serta orang-orang di sekitarnya.

“ Jika TUHAN yang membujuk engkau melawan aku, maka biarlah Ia mencium bau korban persembahan”

Pikiran logisnya seperti ini. Aku mengajak raja menganalisa masalah yang sebenarnya.

Siapa sebenarnya dalang dari perburuan ini ? Kalau memang TUHAN yang menjadi dalangnya, ya ndak masalah, jika Tuhan memang menghendaki raja memburuku, kalau itu memang bisa membuat Tuhan senang seperti sedang mencium bau harum korban persembahan…dan yang jadi korban di atas mezbahnya itu aku…..ya ndak papa, sepanjang hal itu memang menyenangkan hati Tuhan…it’s oke…aku dijadikan korban, benar benar nggak masalah buat aku. Walaupun pemikiran ini tidak logis sama sekali, atas dasar apa Tuhan membujuk raja melawan aku…??? Tapi analisa seperti ini perlu aku ungkapkan pada raja..raja perlu diajak berpikir logis-selogis-logisnya ! Dia harus diajak keluar dari zona kerapuhan jiwanya dan sekali waktu diperlakukan seperti orang dewasa normal lainnya !

“ tetapi jika itu anak-anak manusia, terkutuklah mereka di hadapan TUHAN, karena mereka sekarang mengusir aku, sehingga aku tidak mendapat bagian dari pada milik  TUHAN, dengan berkata: Pergilah, beribadahlah kepada allah  lain.  Sebab itu, janganlah kiranya darahku tertumpah ke tanah, jauh dari hadapan TUHAN”

Tapi kalau dalangnya ini bukan TUHAN, melainkan orang…melainkan rakyat..dan kalau sampai aku mati sebagai bukan orang Israel lagi, atau aku mati sebagai orang murtad yang tidak mau mengenal Allah Israel lagi karena diburu tanpa alasan yang jelas seperti sekarang ini…., atau aku mati sebagai seorang yang ditolak oleh seluruh rakyat Israel dan dianggap orang kafir…apa jadinya ?! Apakah mereka siap bertanggung jawab atas itu semua??? Coba dipikir deh ! Itu Cuma seandainya…!!

Aku ya tidak mungkinlah murtad…tapi kan itu bisa saja terjadi pada orang lain jika diperlakukan seperti aku sekarang ini? Aku bisa tetap tidak murtad kan karena setiap hari aku bangun hidupku terus bergaul dengan Allah Israel..aku tidak ingin jauh dari-Nya …pengurapan Roh –Nya yang kudus dalam hidupku tidak pernah aku anggap sepi, aku tetap selalu ingin dekat dengan-Nya, aku ingin selalu jaga hidupku dan hatiku tetap murni di hadapan-Nya.  Sesungguhnya Tuhan itu berkenan akan kebenaran dalam batin, dan dengan diam-diam Tuhan itu memberitahukan hikmat kepadaku. Perkenanan Tuhan atas hidupku ditentukan oleh kebenaran batinku, aku jaga benar benar batinku ini, jangan pahit pada raja, jangan kecewa dengan rakyat Israel yang ikut-ikutan memburuku, jangan dendam pada seluruh keluarga raja, jangan ingin membalas dendam…dan masih banyak jangan-jangan-jangan lainnya.

Aku tahu bahwasannya tidak ada orang mana pun yang membujuk raja untuk melawan aku. Kalau pun ada, sebenarnya asal muasalnya adalah dari hati raja sendiri, yang dirasuk rasa dengki, dan iri.

Seperti orang-orang Zif yang selalu lapor pada raja, Daud ada di sini…Daud ada di sana…dan seterusnya kan karena mereka tahu sejak dari awalnya bahwa aku ini buronan raja, dan bahwa raja sangat bernafsu sekali untuk menangkap aku, tapi kalau tidak ada niatan raja, tentunya orang-orang Zif itu tidak mungkin sampai seperti itu, repot-repot banget deh !

Tapi walaupun aku tahu itu semua…untuk memperhalus kata-kataku agar tidak langsung menuduh raja seperti itu, sebaiknya aku memakai kata-kata yang lebih halus…aku pakai kata ‘mereka’. Tapi kalau raja mau koreksi diri ya pastinya dia akan tahu sendiri bahwa itu semua dalangnya ya hatinya sendiri, bukan Tuhan, juga bukan orang-orang di sekitarnya, tapi ya dia sendiri.

“Sebab raja Israel keluar untuk mencabut nyawaku, seperti orang memburu seekor ayam hutan  di gunung-gunung.”  

Nah kali ini adalah kesimpulannya, bahwa ada tiga kemungkinan yang menjadi dalang semua ini, apakah TUHAN, apakah ‘mereka’ ataukah raja sendiri, hatinya sendiri, niatnya sendiri, motivasinya sendiri.

Sudah ayam hutan, seekor lagi. Tapi karena di gunung-gunung..harus pergi jauh mencarinya, harus benar-benar ditempuh…walau hanya SE-E-KOR A-YAM HU-TAN saja ! huuuuiiiihhhh

Apa coba jawab raja sekarang ??

“Aku telah berbuat dosa,”

Yups ! Aku berhasil mengajak raja berpikir logis sekarang….karena kalau semua ide ini bukan datang dari Tuhan, kita harus hati-hati, agar jangan sampai kita berdosa….dan raja kini menangkap maksud perkataanku, walau dengan jarak yang jauh aku harus berteriak-teriak untuk menyampaikannya tetap dengan intonasi yang tepat dan mudah dimengerti.

“Pulanglah, anakku Daud, “

Raja menyebut aku dengan sebutan ‘A-NAK-KU’ lagi…entah apa maksudnya, akan tetapi aku tetap tahu dirilah.

“Sebab aku tidak akan berbuat jahat lagi kepadamu,”

Bisa kita buktikan nanti kelanjutannya, apakah kejahatan raja ini stop sampai di sini, ataukah ini hanya sebuah drama…??? Terbukti mata-mataku yang aku kirim memberi informasi bahwa setelah persitiwa goa bersejarah itu, dalam pengejaran buron yang kali ini, raja tetap ikut sebagai pemimpin rombongan perburuan ini…hmmmmmmmmmm ….goa itu bersejarah buatku, tapi buat raja tetap tidak.

“Karena nyawaku pada hari ini berharga di matamu. Sesungguhnya, perbuatanku itu bodoh dan aku sesat sama sekali.” 

Usahaku untuk mengajak raja berpikir logis , hari ini, sepertinya cukup berhasil. Aku tidak butuh pengakuan dosa raja, yang aku butuhkan adalah lha mbok ya raja itu berpikir logis…jangan dijajah oleh emosi membabi buta seperti yang sudah-sudah. Itu saja cukup. Dan itu bisa membawa perubahan besar dalam hidupnya sebagai raja.

“Inilah tombak itu, ya tuanku raja! Baiklah salah seorang dari orang-orangmu menyeberang untuk mengambilnya.”

Kalau dulu punca jubah raja di goa bersejarah itu aku yang simpan, untuk usaha pembuktian pada raja, kini tombak raja ini akan kukembalikan, biar menjadi alat perenungan raja.

Tombak yang akan kembali padanya itu adalah tombaknya untuk menombak filistin sebenarnya

Bukan untuk menombak aku

Aku dulu sering membawakan tombak ini untuknya

Pada saat itu aku jadi kesayangan raja bagaikan anaknya sendiri

Tapi tombak itu pernah melesat menuju jantungku tiga kali tapi terluput juga karena ada perlindungan Tuhan atas hidupku

Tombak ini ternyata pernah ikut tertidur di samping raja saat raja dan pengawalnya dan tiga ribu orang Israel terpilih tertidur nyenyak di alam terbuka tanpa perlindungan apa pun

Tombak ini sekarang ada di tanganku dan kesempatan untuk menancapkannya pada dada raja seperti yang diusulkan Abisai padaku tidak aku gunakan…aku segan pada orang yang diurapi Tuhan itu..!

Tombak ini biar kembali pada tangannya, untuk selalu mengingatkan dia akan perkataan-perkataanku hari ini…..untuk selalu mengajaknya berpikir logis..!

“ TUHAN akan membalas  kebenaran  dan kesetiaan setiap orang, sebab TUHAN menyerahkan  engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi TUHAN. “

Ini adalah segitiga diantara kami, yaitu antara TUHAN, aku dan dia. Kami sama-sama umat-Nya. Dia adalah benar dan setia, Dia yang melihat setiap sikap hati dan perbuatan serta perkataan serta motivasi kita yang terdalam. Dua kali aku lulus dalam ujian-Nya atas hidupku, pertama di goa bersejarah , dan yang kedua di tempat ini. Puji Tuhan, aku lulus !!

“Dan sesungguhnya, seperti nyawamu pada hari ini berharga di mataku, demikianlah hendaknya nyawaku berharga di mata TUHAN, dan hendaknya Ia melepaskan  aku dari segala kesusahan.”  

Walaupun kalimatku itu tampak aneh…kalau kalimat orang kebanyakan pasti bunyinya seperti ini : seperti nyawamu pada hari ini berharga di mataku, demikianlah hendaknya nyawaku berharga di matamu.

Tapi tidak…aku tidak menaruh hukum tabur tuai seperti konsep orang kebanyakan, kalau aku baik padamu, kamu juga harus baik padaku donk…kalau aku memberi ke kamu, kamu juga harus memberi ke aku donk….TIDAK ! Tidak seperti itu konsep hidupku.’

Aku tidak pernah kecewa pada raja seandainya raja membalas air susu dengan air tuba, karena aku tahu bahwa yang membalas setiap perbuatan kita itu adalah Tuhan, dan karena aku berprinsip seperti itulah aku juga memberlakukan kasusku dengan raja seperti itu, biar Tuhan yang membalaskan perbuatan raja padaku, jadi jangan aku sendiri yang membalas.

Jadi kalau aku menghargai nyawa raja pada hari ini, aku tahu juga bahwasannya nyawaku akan berharga di mata TUHAN, dan Tuhan sendiri yang akan melepaskan aku dari segala kesusahan.

Jadi kalau raja tidak menghargai nyawaku dan selalu membuat aku susah, padahal aku menghargai nyawa raja dan tidak pernah menyusahkan dia….itu tidak akan pernah meracuni hatiku dengan yang namanya kekecewaan, kepahitan, kebencian, dendam ….TIDAK AKAN PERNAH !

Jadi saat raja bertobat atau tidak..itu urusan dia dengan Tuhan, tetapi urusanku dengan Tuhan adalah urusan hatiku dengan Tuhan sendiri.

Inilah yang dinamakan konsep segitiga. Saat orang lain mengecewakanmu, bawalah perkaramu pada Tuhan dan ijinkan Tuhan menyembuhkanmu, tugasmu adalah mendoakan orang itu agar dia bertobat, kasihi dan tangisilah dia. Biar Tuhan sendiri yang berurusan dengan dia, jaga hatimu agar kamu tidak kecewa dan pahit. Apa kira-kira jawab raja?

“Diberkatilah  kiranya engkau, anakku Daud. “

Untuk ketiga kalinya raja menyebut kata A-NAK-KU. Tetapi dengan sikap ketahudirianku, aku tetap menghindari untuk menyebut dia dengan sebutan ‘ayah’. Tetapi berkat yang dia ucapkan dari diri seorang yang memanggil aku anaknya, itu artinya berkat dari seorang ayah, tetap aku terima, aku aminkan, serapuh apapun dia, tetap dia dipakai Tuhan untuk mengalirkan berkat-Nya dalam hidupku, aku memejamkan mata dan meresapi setiap kalimat berkat itu, aku aminkan dalam-dalam di dalam batinku yang paling dalam.

“Apa juapun yang kauperbuat, pastilah engkau sanggup melakukannya.”

Nah ini yang dinamakan berkat keberhasilan, berkat kesanggupan, berkat kemampuan, bekat capability atau kapasitas….Huuuuiiiiiih !!

Kalau di goa bersejarah dulu raja pernah menyampaikan prediksinya bahwa aku pasti jadi raja dan jabatan raja Israel akan tetap kokoh dalam tanganku….itu adalah kalimat berkat raja yang pertama ….bonus kelulusan dari ujian pertama

Dan kali ini ada bonus kelulusan dari ujian kedua….berkat keberhasilan !! Amin-amin amin !!!

Titik. Cukup sudah.

Tombak sudah diambil …tapi kendi ini biarlah untuk kenang-kenangan bersejarah buatku, toh kendi semacam ini banyak dijual di mana saja, raja bisa membeli lagi !

Aku harus pergi kali ini. Tidak seperti sebelumnya…aku cukup heran saat raja tidak mengajakku pulang setelah drama penyelamatan diri di goa itu ! Kini aku tidak ingin terheran-heran, walaupun di awal percakapan tadi raja sudah menyuruh aku pulang bersama dia, sebaiknya aku pergi terlebih dahulu !!  Itu semua karena aku tidak sepenuhnya yakin akan ucapan raja untuk mengajakku pulang…apa benar raja bersungguh-sungguh mengajak aku pulang?

Selama Tuhan tidak menyuruhku untuk kembali ke istana bersama raja, dan selama raja tidak mencegah aku pergi terlebih dahulu , aku tidak perlu menganggap ajakan raja pulang itu sebagai sebuah kesungguhan.

Raja juga pulang ke tempatnya.

Entah sampai kapan drama demi drama…lari demi berlari..kejar demi mengejar ini akan berujung….

Rasanya lelah juga jadi buronan beberapa tahun ini..Memang raja sudah pulang ke tempatnya, ke istanyanya, ke kediamannya.

Tetapi menjadi catatan penting bahwasannya raja itu sudah mengingkari perkataannya berkali-kali. Catatan pertama, dia pernah berkata pada sahabatku bahwa dia tidak akan membunuhku, ternyata…apa…?? Dia berusaha menancapkanku ke dinding dengan tombak itu untuk ketiga kalinya. Catatan kedua ..setelah peristiwa di goa bersejarah itu, aku sudah berbaik hati bersumpah untuk tidak melenyapkan keturunan raja dan tidak akan menghapuskan nama raja dari kaum keluarganya, eeeeeh masih juga raja memimpin rombongan tiga ribu orang yang terpilih untuk mengejar aku di padang gurun Zif. Catatan ke tiga, raja berjanji untuk tidak berbuat jahat lagi kepadaku, karena nyawanya pada saat itu berharga di mataku. Itu adalah saat kedua kalinya aku lulus ujian, aku berhasil membuktikan bahwa aku tidak akan pernah membunuh raja, walaupun kesempatan naif itu ada di depan mata.

Terus terang kepercayaanku pada kata-kata raja sudah tidak dapat aku pertahankan lagi. Siapa yang bisa jamin kalau raja tidak mungkin akan mengejar-ngejar aku lagi? Tidak ada satu pun yang bisa jamin, bahkan Tuhan sendiri pun tidak pernah berkata padaku bahwa semua pengejaran buronan ini akan berakhir sekarang ini. Dua ujian memang sudah terlewati, tetapi kejar-mengejar ini akan sampai kapan Tuhan? Terkadang letih juga jiwaku ini. Lelah. Aku menghela nafas panjang untuk membuang semua kelelahanku ini…haaaaaaaaaaaahhhhhhhhhhhhh. Tetap tidak ada kelegaan.

Rasa-rasanya seluruh daerah Israel pernah jadi pijakanku untuk bersembunyi…mau ke mana lagi ya??

Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul,

Untuk sementara pemikiran bahwa suatu saat aku akan jadi raja yang berikutnya , terpaksa aku simpan dulu dalam kotak, lalu aku gembok rapat-rapat. Mungkin boleh di kata imanku  saat ini, sudah sampai pada titik terendah dalam hidupku. Nabi Samuel telah mati, aku sudah tidak dapat meminta nasehat dia lagi.

Apa boleh buat. Setiap hari aku harus berhadapan dengan kenyataan yang sebaliknya. Sepertinya aku sudah memerintah atas enam ratus orang rombongan ini, akan tetapi itu adalah status yang semu. Harus diakui kami ini berstatus buronan raja. Rakyat Israel jumlahnya sangat fantastis, jadi enam ratus orang yang bersama-sama dengan aku ini tidak ada apa –apanya dibandingkan dengan jumlah rakyat yang berada di pihak raja. Dulu memang aku pernah mengalahkan orang Filistin, pernah mengalahkan seorang raksasa, pernah mencetak  kemenangan demi kemenangan….tapi untuk sekarang ini aku ingin kenyamanan, hidup dengan tenang, jauh dari debaran jantung karena sebuah pengejaran, jauh dari ketakutan dan kecemasan, jauh dari pergi dengan terburu-buru dan lari sampai letih.  Lagi-lagi beradaptasi dengan tempat persembunyian yang baru, beradaptasi dengan jenis sayuran apa yang bisa kami masak di tempat persembunyian yang berikutnya, beradaptasi dengan masyarakat setempat yang terkadang bocor mulut dan bisa dibilang tidak tahu membalas budi, beradaptasi dengan keluhan dan kelelahan orang-orang yang bersamaku ini. Kami ingin hidup normal, punya keluarga, membangun usaha, tinggal di suatu tempat yang menetap, yaaaah..seperti orang-orang pada umumnya. Lupakan sajalah soal raja-rajaan…Untuk bisa hidup normal saja bagi kami sudah sebuah impian yang susah payah untuk diraih.

Bagaimana ya caranya…??

Jadi tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya.

Emmmmmmmmmmm kemana ya…???

 

AKU DAN ANAK MURIDKU,

KAMI MELARIKAN DIRI KE GAD DAN TINGGAL DI ZIKLAG

I Sam 27, I Taw 12: 1-22

 

Yups !! Aku ada ide…!! Aku akan pergi saja ke raja Akhis di Gat, dia adalah raja kota Gad. Saat itu aku pernah berpura-pura gila, daripada dibunuh oleh mereka. Tahu sendiri kan, pada saat itu aku belum mempunyai pasukan apa pun.  Pegawai-pegawai raja Akhis ini benar-benar mengenal aku, jadi satu-satunya cara adalah aku menghadap baik-baik , mengajak semua orang-orangku yang enam ratus ini, lalu berpura-pura menghambakan diri pada mereka.  Tentunya mereka akan senang kalau mendapat pasukan seperti kami yang memang sudah cukup punya ‘nama’ lewat nyanyian para fans yang mana lagu itu juga jadi hits di Gat ini.

Toh raja Akhis ini kurang peka membedakan antara acting dan sungguhan. Bisa dua kemungkinan sih, apa dulu itu actingku yang sangat hebat sekali, aku sempat menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan ludahku meleleh ke janggutku, pokoknya semirip mungkin dengan orang yang sakit ingatan gitu, sampai-sampai raja  Akhis itu benar-benar percaya kalau aku ini gila, atauuuuu bisa jadi dia itu yang tidak bisa membedakan antara acting dan sungguhan.

Jadi senjataku di sini gampang sekali, aku acting berpura-pura menghamba kepadanya, memihak pada Filistin, lari dari raja Israel, serta mencari perlindungan pada musuh, kompromi dengan lawan untuk ikut dalam jajaran musuh Israel…..dan senjataku yang kedua adalah memanfaatkan ketidak pekaan si raja Akhis ini untuk supaya aku bisa menetap di sini dan aman dari kejaran raja Israel itu. (*30)

Yups…!!!! Berhasil……!!!

Aku dan rombongan menghambakan diri ke raja Akhis bin  Maokh, raja kota Gat. Dia menerima aku dengan baik. Hmmmmmmm   ………..

Kami bisa menetap dengan keluarga kami masing-masing. Enam ratus orang –orangku itu mengabari keluarga mereka masing-masing….kini saat yang tepat untuk memanggil para istri dan anak-anak untuk mulai menata hidup kami. (*32)

Aku melihat keluarga-demi keluarga dari orang-orangku yang enam ratus itu begitu lega, terutama wajah daripada para kepala keluarga yang selama beberapa tahun ini terlihat ‘kering’ tanpa istri-istri tinggal bersama kami, apalagi para ayah yang tidak tahan rindu dengan anak-anak mereka yang sedang lucu-lucunya.

Selama ini mereka adalah orang-orang  yang dalam kesukaran, mereka ikut aku untuk supaya aku bisa bantu mereka lepas dari kesukaran mereka…..eeeeeh yang terjadi malah sebaliknya mereka aku latih menjadi prajurit yang handal di tengah-tengah proses lari dan lari sebagai buronan. Inilah saatnya mereka bisa bernafas lega. Selama ini mereka adalah orang-orang yang dikejar-kejar tukang piutang, mereka ikut aku untuk supaya aku bisa bantu mereka lepas dari hutang mereka…eeeeeh yang terjadi malah tidak berhubungan sama sekali, aku melatih mereka untuk menjadi tentara yang hebat dalam semua proses menjadi buronan ini. Mereka ada juga yang ikut aku karena sakit hati..mungkin dengan harapan agar aku membebat hati mereka…………eeeeh yang terjadi malah sebaliknya, aku terus melatih mereka untuk menjadi seorang tentara yang kuat, tidak cengeng, tidak gampang menyerah, tangguh.

Kini wajah-wajah itu begitu tampak lega.

Tidak ada lagi huru-hara, tidak ada lagi kebingungan mengangkat jemuran saat tiba-tiba ada kabar bahwa raja Israel mengejar kami…Tidak ada teriakan “lariiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii”…tidak ada lagi pemandangan keterburu-buruan kami mengepak barang-barang yang akan kami bawa ke tempat pelarian berikutnya, ada selimut, alat masak, alat mandi, kertas-kertas partiturku…dan seabrek barang-barang lainnya. Huuuiiiiihhhhh!!

Namun demikian…ada yang aneh. Aku tinggal di antara musuh. Aku senyum dengan mereka. Aku ada di wilayah mereka. Aku berpura-pura. Aku acting. Aku menjaga jangan sampai salah bicara, aku menjaga sikapku seolah-olah aku kompromi dengan mereka. Memang aku tidak kompromi dengan mereka, tetapi yang aneh buatku adalah Aku ada di WILAYAH mereka.

Waktu berjalan begitu lambat. Terasa begitu lama…

Aku benar-benar menghitung lamanya kami tinggal di sana, yaitu satu tahun empat bulan, tepatnya ENAM BELAS BULAN.

Darah keprajuritanku serasa terpenjara saat aku tinggal di wilayah musuh. Bagaimana ya caranya?? Agar naluri berperangku ini tetap membara dan memuaskan hasratku yang terdalam??

Dulu saat dikejar-kejar raja Israel sih bisa dibilang ada ashiknya juga. Tapi kalau disuruh diam terus di Ziklag seperti ini,…..gatal juga tangan dan kakiku ini, mereka seakan berteriak “Ayooooooooooo…kapan kami berperang lagi,…………..??”

Tapi bagaimana lagi…aku kan tinggal di Ziklag ini, kota yang diberikan oleh raja Akhis kepada kami. Tidak mungkin kami berperang melawan orang Israel, juga kami tidak mungkin berperang melawan orang Filistin. Kami saat ini sedang dua muka, sedang berada di zona kepura-puraan.

Satu-satunya cara adalah berperang melawan musuh-musuh Israel  di area yang sangat jauh…dan menumpas semua musuh, sehingga tidak ada saksi mata yang bisa melapor pada raja Akhis ini.  Toh raja Akhis ini orangnya tidak terlalu teliti, saat aku ‘bohong putih’ dan berkata bahwa aku berperang melawan orang Israel di tanah Negeb Yehuda, atau di tangah Negeb Yerahmeel atau di  tanah Negeb Keni, dia tidak pernah mengecheknya. Tingkat kepercayaannya kepadaku besar sekali. Padahal kami berperang melawan orang Gesur, orang Girzi dan orang Amalek. Itu adalah musuh-musuh Israel yang kami perangi. Dan sudah jelaslah…kami dapat jarahan  domba, lembu, keledai, unta dan pakaian….kami mulai menata kehidupan kami seperti orang normal pada umumnya…. Huiiiih !

Setiap kali kami berperang melawan orang Gesur, orang Girzi dan Orang Amalek, selalu datang bala bantuan, para pasukan dan pahlawan-pahlawan yang luar biasa membantu rombongan kami yang enam ratus orang ini. Jumlah orang-orang yang datang membantu ini , semenjak kami menetap di Ziklag ini… seperti bala tentara Tuhan banyaknya ! (*33)

Dengan bala bantuan yang semakin bertambah banyak itulah , peperangan kami melawan orang Gesur, orang Girzi dan orang Amalek…. selalu menang mutlak ! Haleluya !!

Entah mengapa saudara-saudara sesuku dari Raja Israel, Raja Saul justru gabung padaku saat kami tinggal di Ziklag ini, kapanpun kami pergi berperang, mereka selalu siap, padahal tadinya mereka memihak kepada Saul, dan mereka adalah para pahlawan perang, mereka bersenjatakan panah dan sanggup melontarkan batu saat berperang, serta nggak main-main, otak kanan dan otak kiri mereka ini seimbang, buktinya mereka dapat menembakkan anak-anak panah dari busur baik dengan tangan kanan maupun dengan tangan kiri, hebat bukan…??

Kalau enam ratus orang yang ikut aku dari Gua Adulam yang semula jumlahnya hanya empat ratus orang dan terus bertambah itu kan orang-orang biasa yang aku latih jadi tentara, tetapi kalau orang-orang suku Benyamin  ini BUKAN !! Orang-orang Benyamin yang datang membantu rombongan kami ini, benar-benar pahlawan-pahlawan yang luar biasa !!

Ini daftar catatanku akan nama-nama mereka..

  1. Abiezer (Kepala)
  2. Yoas ( anak-anak Semaa orang Gibea)
  3. Yeziel dan Pelet (anak-anak Azmawet)
  4. Berakha
  5. Yehu (orang anatot)
  6. Yismaya ( orang Gibeon- pahlawan yang mengepalai 30 orang)
  7. Yeremia
  8. Yehaziel
  9. Uohanan
  10. Yozabad (orang Gedera)
  11. Eluzai
  12. Uerimot
  13. Bealya
  14. Semarya
  15. Sefaca (orang harufi);
  16. Elkana
  17. Yisia
  18. Azareel
  19. Yoezer
  20. Yasobam (Orang-orang korah);
  21. Yoela
  22. Zebaja (anak-anak Yeroham dari Gedor)

Belum lagi tambahan orang-orang GAD ! Mereka juga datang membantu kami, bukan orang-orang biasa, melainkan para pahlawan yang gagah perkasa, mereka sanggup berperang, pandai menggunakan perisai dan tombak, rupa mereka seperti singa, cepatnya seperti kijang di  atas pegunungan, bahkan mereka semuanya adalah kepala pasukan.

Satu orang saja yang paling kecil dari dari antara mereka sanggup melawan seratus orang dan hebatnya yang paling besar sanggup melawan seribu orang.

Sejarah mencatat orang-orang Gad ini adalah orang-orang yang menyeberangi sungai Yordan di bulan pertama, sekalipun sungai itu meluap sepanjang tepinya. Saat itu pasukan raja Saul terserak-serak, ada yang bersembunyi di gua, keluk batu, bukit batu, liang batu dan perigi, tetapi orang-orang Gad ini malah menyeberangi arungan sungai Yordan menuju tanah Gad dan Gilead, bahkan mereka menghalau penduduk lembah ke sebelah timur dan ke sebelah barat. Sayang sekali, Raja Israel cuma menganggap mereka sebagai Orang Israel biasa, tetapi dimataku mereka adalah para pahlawan yang gagah perkasa. (*34)

Ini daftar catatanku akan nama-nama mereka !

  1. Ezer (kepala)
  2. Obaja (orang kedua)
  3. Eliab (orang ketiga)
  4. Mismana (orang keempat)
  5. Yeremia ( orang kelima)
  6. Atai (orang keenam)
  7. Eliael (orang ketujuh)
  8. Yohanan (orang kedelapan)
  9. Elzabad (orang kesembilan)
  10. Yeremia (orang kesepuluh)
  11. Makbanai ( orang kesebelas)

Bahkan tidak itu saja, Sebagian dari bani Benyamin dan Yehuda ikut-ikutan datang membantu pasukan kami.

 

Sebentar…sebentar !! Apa-apaan ini…??? Mula-mula orang-orang yang sesuku dengan Raja Saul, yaitu suku Benyamin, sebut saja rombongan pertama..atau lebih tepatnya PASUKAN pertama datang, disusul kemudian rombongan kedua orang-orang Gad, atau lebih telatnya PASUKAN kedua datang, nah apa lagi sekarang ini….??? Orang-orang yang sebanyak ini, sebagian dari bani Benyamin dan Yehuda ikut-ikutan datang …kali ini mereka boleh disebut rombongan ketiga (karena mereka tidak bisa kita kategorikan sebagai tentara, prajurit ataupun pahlawan seperti rombongan satu dan rombongan dua yang jelas-jelas jawara semua)

Aku pun keluar untuk menyongsong mereka dan berkata

“Jika kamu datang kepadaku dengan maksud damai untuk membantu aku, maka aku rela bersekutu engan kamu, tetapi jika untuk menyerahkan aku dengan tipu muslihat kepada lawanku, sedang aku tidak melakukan kelaliman, maka biarlah Allah nenek moyang kita melihat itu dan menghukum kamu.”

Seorang kepala tiga puluh orang itu , bernama Amasai dikuasai Roh Allah dan berkata:

“Kami ini bagimu, hai Daud, dan pada pihakmu, hai anak Isai! Sejahtera, sejahtera bagimu, dan sejahtera bagi penolongmu, sebab yang menolong engkau ialah Allahmu!”

Baiklah, aku harus belajar mempercayai niat baik mereka, walaupun darah keprajuritanku mengisyaratkanku untuk selalu memegang prinsip kehati-hatian.

Aku menyambut mereka dengan baik, dan merekapun aku angkat menjadi kepala-kepala pasukan.

Dan jangan salah….semua ini tidak berhenti sampai di sini saja ! Lihat ! Dalam perjalananku menuju ke Ziklag untuk menetap di sana, datang juga kepala-kepala pasukan seribu dari suku Manasye memihak kepadaku. Mereka adalah orang-orang yang ahli melawan gerombolan, para pahlawan yang gagah perkasa, dan mereka-mereka ini bukan orang biasa, melainkan para pemimpin tentara ! Bahkan kepala –kepala pasukan seribu !! Waaauuuuu  !

Ini daftar catatan nama mereka yang ada dalam catatanku : (*35)

  1. Adnah
  2. Yozabad
  3. Yediael
  4. Mikhael
  5. Yozobad
  6. Elihu
  7. Ziletai

Dan mereka ini boleh dikata sebagai rombongan ke empat yang datang mendukung aku dalam gerilya ini.

Jajaran pasukanku sekarang bukan lagi hanya empat ratus atau enam ratus, tetapi sudah dibantu dengan buanyaaaaaaaaaaaaaaaak sekali pasukan tentara !!! Seperti bala tentara Allah banyaknya…!!! Luar biasa !!

Inilah rasanya berada di zona AMAN dan NYAMAN. Bayangkan saja, tanpa susah payah melatih….para tentara datang sendiri untuk membantu..apa ini ya yang dinamakan hukum tabur tuai…?? Bukankah selama ini aku sudah menabur melatih habis-habisan para mantan orang gagal yang berkumpul di Gua Adulam itu..sampai mereka harus jadi JAWARA, dan ternyata dari taburanku itu aku kini menuai mendapatkan banyak TENTARA….yang hebat-hebat…????

Ohhhhuuuiiiiiihhhhhh!! Aman dan Nyaman…aku kipas-kipas, menghela nafas panjang tanda kelegaan.

Bagaimana dengan raja Akhis selama aku di Ziklag ini?

Ho ho hoooooooooooo    Dia mengira aku memerangi orang Israel sehingga makin dibenci bangsa Israel, sehingga aku semakin menghamba kepadanya, juga orang-orangku yang sudah berjumlah buanyak itu….

Padahal dia tidak tahu bahwa aku ada dalam kepura-puraan semata. Aku hidup dalam dualisme, aku memiliki topeng. Terpaksa orang-orangku juga aku latih untuk punya dua muka, latihan beracting dan juga latihan menjaga rahasia. Senyumnya harus ditahan, tawanya jangan terlalu lepas, dan harus selalu tersenyum dengan orang-orang asing ini, jaga sikap dan jangan sama sekali memposisikan diri sebagai musuh.

Memang kami di zona nyaman bahkan aman, tetapi…tetap ada yang aneh terasa di dalam sanubariku yang terdalam. Saat ini memang kami bebas dari status buron, karena ternyata strategiku cukup jitu, terbukti raja Israel tidak pernah mengejar-ngejar kami lagi setelah tahu kami berdomisili di area musuh.

Tetapi….tetapi….ganti kepura-puraan ini yang menjadi pemburuku setiap hari. Mungkin orang-orangku itu tidak merasakan hal yang sama, apalagi kedua orang istriku itu, mereka tidak tahu dan tidak mungkin mereka bisa mengerti kegalauan hatiku ini.

Setiap kali aku mengambil kecapiku dan berusaha memuji Allah Israel, menyembah dan bermazmur…seperti ada sesuatu yang hilang dari diriku, seperti ada sesuatu yang hambar dan seperti ada sesuatu yang emmmmmmmm emmmmmmmm tidak mendapat senyuman dari Tuhan. Terus terang aku belum menemukan kata-kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hatiku saat ini.

Memang aman, tetapi bukan keamanan yang dari Tuhan.

Memang mapan, tetapi bukan kemapanan yang dari Tuhan.

Memang semua lancar, tetapi bukan kelancaran yang dari Tuhan.

Terkadang aku merindukan hadirat-Nya, pelukan-Nya, perkenanan-Nya, suara-Nya, obrolan-Nya….yang justru kerap terasa saat kami dulu masih di wilayah Israel, walau dalam situasi sebagai buronan. Ada semacam perlindungan-Nya, keluputan dari-Nya, mujizat-Nya dan yang paling penting senyuman-Nya.

Itulah sebabnya satu tahun empat bulan itu begitu terasa lamaaaaaaaaaaaaa sekali buatku. Tak ada satu mazmur pun yang lahir dari arransementku selama ENAMBELAS BULAN ini….sungguh terasa kering !! Jiwaku merana… (*36)

Tetap. Tetap. Saat kami berperang melawan Gesur, Girzi dan Amalek, kami tetap menang, puji Tuhan, tapi entahlah…seperti ada kekurangan garam dalam semangkok sayur yang aku rasakan saat tinggal di Gat ini.

Sejumput garam yang membuat aku galau.

 

AKU DAN ANAK MURIDKU

KAMI HAMPIR SAJA TERLIBAT PERANG SAUDARA

I Sam 28: 1-4, I Sam 29: 1-11, I Taw 12: 19-22

(*37 keterangan penafsiran- lihat bagian bawah dari bagian ini)

 

Waaaah gawat ini!! Selama tidak terjadi perang filistin dengan Israel sih, peran dua muka ini aman-aman aza ! Tapi kini…..ouw ouw…

Orang Filistin mengerahkan tentaranya untuk berperang melawan Israel…Nah Lho…!! Aku ini termasuk mana..? Kalau termasuk Israel, lha kog aku menghambakan diri pada raja Akhis , raja kota Gad ini ! Tapi kalau aku termasuk barisan tentara Filistin…lha masa mungkin aku melayangkan pedangku untuk membunuh rakyat Israel yang notabene adalah saudara sebangsaku sendiri…?? Umat-Nya Tuhan..biji mata Tuhan….???

Ah semoga saja aku tidak diajak berperang…!

Peran ganda ini memang pada suatu titik akan mencapai bom-nya sendiri, titik ledak, detik ledak yang sudah pasti akan terjadi. Ternyata masa ‘nyaman’ kami hanya sa-tu ta-hun em-pat bu-lan….saja….dan detik-detik konflik ini benar-benar tiba. Aku harus memutuskan untuk tetap memakai topeng ini ataukah akan melepaskannya.

Topeng ini bukan hanya satu yang melekat di wajahku, tetapi di ke-enamratus orang-orangku itu..dan juga dengan semua keluarga mereka…kami punya ribuan topeng tak terlihat. Kami di luar memihak Filistin dan seolah membelot dari Israel, tetapi sebenarnya di bagian dalam kami ini Israel sejati dan hanya ingin istirahat sejenak dari perburuan buronan tanpa alasan.

Cukup sudah…..cukup sudah semuanya ini. Satu  tahun empat bulan ini justru sangat melelahkan buatku. Aku letih juga hidup dalam kepura-puraan. Aku bukan seorang kesatria…..aku gagal mengikuti hati Tuhan yang sebenarnya… Ziklag ini adalah saksi bisu atas kegagalan ini.

“Ketahuilah baik-baik, bahwa engkau beserta orang-orangmu harus maju berperang bersama-sama dengan aku dalam tentara.”

Gleg. Aku menelan ludah. Tapi segera aku sembunyikan semua rasa itu dalam senyuman kepalsuan.

Dengan nada intonasi yang sudah aku atur sebelumnya, dengan penuh hati-hati agar raja Akhis tidak curiga aku pun menjawab seolah-olah antusias diajak berperang.

“Baik, engkau akan tahu, apa yang dapat diperbuat hambamu ini.”

Yeah…kalimat itu memang kalimat yang seolah-olah mengajak raja tertantang untuk membuktikan kehebatan ‘orang’nya ini. Seolah-olah aku hamba yang siap melakukan apa saja untuk tuannya, yaitu dia. Uuuuuhhhh sory sory aja ya, kalau harus memusnahkan bangsa sendiri !!

“Sebab itu aku mengangkat engkau menjadi pengawalku sendiri sampai selamanya.”

Aku mengangguk. Tidak menjawab apa-apa. Tapi sebenarnya dalam hatiku aku berteriak

“Apppaaaaaaaaaaaaaaa??? Pengawal Pribadi raja Akhis…..???????”

Aku seperti diserbu dari ratusan jurusan. Dari jurusan atas, aku merasa asing, karena aku sedang tidak dalam kehendak-Nya yang sempurna. Dari jurusan lawan, aku merasa sebagai penghianat bangsaku sendiri. Dari jurusan sini, aku merasa sebagai pembohong. Dari jurusan orang-orangku aku seperti mempertaruhkan semua keputusan untuk tinggal di sini sejak awal sebagai keputusan yang tepat. Padahal….??? Bukankan bom ini akan meledak sewaktu-waktu entah cepat atau lambat….?

Bom yang akan membuka semua topeng muka dua kami.

Aduh…!!

Waduh-waduh….gimana nih ???!!

Baiklah ! Sudah kepalang tanggung..! Aku tidak bisa di wilayah abu-abu, bagiamanapun juga, pada titik centi meter pertemuan dua kubu yang sedang berperang, aku tidak bisa jadi bunglon, aku tetap memihak Filistin dan enam ratus orang yang tinggal bersamaku di Ziklag ini terpaksa aku ajak.

Sedang orang-orang yang biasa membantu kami berperang melawan  orang Gesur, orang Girzi dan orang Amalek, tidak perlu ikut. Tidak perlu melibatkan lebih banyak orang lagi dalam perang saudara ini ! Dan tidak perlu membuat raja Akhis curiga dengan pasukanku yang semakin  hari semakin banyak ini, cukup dia tahu hanya keenam ratus orang ini saja ! Hanya itu yang dia tahu tentang aku, biarkan saja ! Bergerilya di bawah tanah tidak perlu digembar-gemborkan, senyuman perlu ditahan dan tawa jangan sampai kelepasan ! itu penting !

Tapi aku tetap memerlukan orang-orang yang dapat kupercaya untuk memimpin barisan. Emmmmmm.. gimana ya…?

Sebaiknya 7 orang suku Manasye yang adalah kepala-kepala pasukan seribu , yang ikut aku sebagai rombongan ke empat yang menyeberang mengikuti aku, yeah….tepatnya saat aku dalam perjalanan menjuju Ziklag , aku ajak saja, mereka adalah Adnah, Yozabad, Yediael, Mikhael, Yozabad, Elihu dan Ziletai, mereka adalah pahlawan-pahlawan yang gagah perkasa dan juga kepala dalam tentara. Keprajuritan oke, kepemimpinan pun juga oke punya.   Aku rasa penambahan 7 orang Manasye ini tidak terlalu mencurigakan tentunya, karena kan hanya bertambah 7 orang, tentu Raja Akhis tidak terlalu teliti menghitung pertambahan 7 orang ini. (*38)

Nah, kini aku harus memilih salah satu ! Tidak bisa seperti di gua bersejarah itu atau seperti di Padang Gurun Zif bersejarah itu…!! Pada saat itu aku pemimpin, jadi aku yang putuskan…mereka semua harus nurut sama aku untuk melepaskan raja Saul yang diurapi oleh Tuhan itu. Tetapi hari ini beda, posisiku sebagai pemimpin memang, tetapi aku sudah terlanjur kompromi untuk tinggal di area musuh dan dinobatkan sebagai HAMBA daripada raja Akhis ini…aku diperhamba olehnya dengan embel embel kenyamanan, keamanan, kota Ziklag yang tercinta, istri-istri dan anak-anak disekeliling kami, …semua yang ada…datangnya orang-orang yang luar biasa dalam jajaran kami….semuanya sudah terlanjur kami terima sebagai porsekot/uang muka.

Dalam hati kecilku yang terdalam……….aku berharap Tuhan melindungi kami dan meluputkan kami dari perang saudara ini ! Tapi dalam lembar-lembar kosong partiturku yang tidak menghasilkan satu mazmur pun selama di Ziklag ini , aku tidak berani berdoa dengan nyaring, lantang apalagi memohon…aku tahu aku salah ! Yang aku harapkan hanya setitik saja…setitik harapan akan adanya campur tangan Tuhan dalam hal ini.

Aku tetap maju dalam pertempuran perang saudara ini, akan tetapi hatiku aku tautkan kepada Tuhan saja ! Aku bertobat…. ‘Ampuni aku Tuhan’ …bisikku dalam –dalam.

Kami bersiap. Hatiku berdebar. Orang-orangku tidak bertanya apa-apa, tetapi sorot mata mereka selalu melihat ke arahku. Dengan pandangan mataku,  aku selalu seperti meyakinkan mereka bahwa kita tetaplah prajurit sejati, apa pun keadaannya, dan siapa pun musuhnya.

Ini sudah resiko daripada sebuah dualisme.

Kami berangkat ke arah dekat Sunem sedang raja Saul berangkat dan mengumpulkan seluruh orang Israel dan berkemah di Gilboa.

Pergerakan kami terus melaju, segala tentara orang Filistin berjanji untuk berkumpul di Afek, sedangkan orang Israel berkemah dekat mata air yang di Yizreel. Hatiku berdebar-debar. Kami sedang merapatkan barisan, kami sedang upacara persiapan perang, semua barisan sedang diatur dan dipersiapkan sematang-matangnya. Pasukan dibagi dalam pasukan-pasukan  seratus dan seribu. Karena aku pengawal pribadi raja Akhis, tentu saja aku berjalan di belakang beliau, dan orang-orangku yang keenamratus itu juga berjalan di belakangku, jadi raja Akhis dibuntuti banyak sekali orang, dan yang paling depan sekali atau yang paling dekat sekali dengan raja Akhis ya aku tentunya.

‘Apa gunanya orang-orang Ibrani ini? ‘

Begitu komentar para panglima orang Filistin ketika melihat kami lewat di depan mereka menyertai raja Akhis.  Walaupun mereka berbicara dalam bahasa Filistin, tentu aku mengerti artinya, selama satu tahun empat bulan tinggal di area Filistin tentunya aku cukup belajar banyak bahasa mereka. (*39

Raja Akhis ditanya seperti itu ya tidak diam saja, dia pun menjawab…

‘Bukankah dia itu Daud, hamba Saul, raja Israel, yang sudah satu dua tahun bersama-sama dengan aku, tanpa kudapati sesuatu pun kesalahan padanya sejak saat ia membelot sampai hari ini?’

Ow ow…lihat reaksi para panglima Filistin itu..!! Mereka marah, matanya melotot, nadanya tinggi, dan lihat saja …apa yang mereka katakan  kemudian !

 ‘Suruhlah orang – orang  itu pulang  (*40  supaya ia kembali ke tempat, yang kautunjukkan kepadanya, dan janganlah ia pergi berperang, bersama-sama dengan kita, supaya jangan ia menjadi lawan kita dalam peperangan. Sebab dengan apakah orang ini dapat menyukakan hati tuannya, kecuali dengan bemberi kepala-kepala orang-orang ini? Bukankah dia ini Daud yang dinyanyikan orang secara berbalas-balasan sambil menari-nari, demikian:

Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa..?’

“Mungkin dengan taruhan kepala kita, ia menyeberang memihak kepada tuannya, Saul !”

Rupanya mereka menaruh curiga, jangan-jangan aku mengadakan perjanjian politik dengan Raja Saul, bahwasannya Raja Saul akan menerima aku kembali ke Israel, asalkan taruhannya aku memenggal kepala-kepala orang Filistin ini dalam peperangan.

Dan aku rasa kecurigaan mereka itu semakin kuat saat mereka melihat Adnah, Yozabad, Yediael, Mikhael, Yozabad, Elihu dan Ziletai, yang adalah kepala-kepala pasukan seribu dari suku Manasye yang memang orang-orang hebat, bukan selevel dengan orang-orangku yang ikut aku sejak di Gua Adulam itu… mereka ada dalam barisanku !

Jangan-jangan mereka hafal  wajah-wajah para kepala pasukan seribu tentara Israel yeah….

Huadeuuuwwww ! (*41)

Itu analisa politikku, saat mendengar ucapan mereka itu ! Siapa sangka 7 orang Manasye yang aku ajak ini, ternyata telah dipakai Tuhan menggagalkan perang saudara ini !! Buatku angka 7 ini….tu-juh orang ini..bukan angka sembarangan ! Tuhan sedang memberi kode/ sign kepadaku.

Nah lhoh….!!! Aku menahan senyum…ini memang yang Tuhan mau, dengan cara-Nya aku diluputkan dari berperang melawan raja Saul, raja Israel itu, diluputkan dari berperang melawan saudara sebangsa setanah air….hmmmmm diam-diam Tuhan tetap bekerja, sekalipun sudah enam belas bulan ini aku merasa jauh dari –Nya.

Aneh sekali, ….lagu para fans itu kini muncul lagi…. Lagu itu muncul untuk pertama kalinya saat aku menang berperang…ya biasa deh, itu kan kerjaan para fans yang rada aneh juga, menyambut aku sambil menari-nari…menyanyi-nyanyi…sampai lagu itu juga yang bikin raja Saul iri dengki padaku….gara-gara lagu itu juga aku menjadi buronan raja bertahun-tahun…dan gara-gara lagu itu juga aku pernah berpura-pura gila di depan raja Akhis, raja Gat, ketika pertama kali aku bertemu raja Akhis ini…..dan gara-gara lagu itu juga aku diluputkan dari perang saudara ini……hmmmmmm benar benar lagu yang luar biasa ! Lagu yang benar-benar terkenal dan fenomenal……Orang Filistin aja hafal syairnya, hafal nadanya, dan bisa menyanyikannya dengan sangat fasih sekali…rupanya lagu itu sudah dari mulut ke mulut…… Rupanya orang Filistine sangat takut sekali padaku gara-gara lagu itu…!!! ha ha ha ha…padahal aku ini siapa sih? Lha wong aku ini cuma sebuah alat di tangan Tuhan, hanya sebuah obeng atau scrup saja,….alat…alat saja ! tidak lebih !! Ha ha ha ha

Dan mereka menyarankan Raja Akhis menyuruh aku pulang ke tempat yang ditunjuk…hmmm kemana lagi kalau bukan ke Ziklag !! Mereka tidak akan berani menyuruh aku pulang ke Israel, bisa-bisa aku memperkuat barisan Israel melawan mereka !! Tapi raja Saul mengajak aku berperang bersama? Hmmm rasa-rasanya lebih tidak masuk akal lagi ! Mereka tidak tahu itu ! Ziklag memang sudah tempat yang tepat untuk dikatakan PULANG. Aku terhindar dari memerangi baik raja Saul dengan seluruh jajaran tentaranya, maupun memerangi raja Akhis yang sudah sedemikian percaya padaku dan menolong aku dalam satu tahun empat bulan belakangan ini.

Sebentar-sebentar…jangan senang dan lega dulu ! Kita lihat dulu bagaimana jawaban raja Akhis ! Bagaimanapun dia itu kan raja…sedang orang-orang yang protes itu kan Cuma para panglima….

Itu dia, raja Akhis memanggil aku….hatiku berharap banyak, agar Tuhan benar-benar menghindarkan aku dari perang saudara ini !! Jika tidak karena Tuhan ini semua pasti mustahil….betapa percayanya raja Akhis ini padaku !! Semua actingku selama ini beserta orang-orangku itu benar-benar sudah menyakinkan dia !!

‘Demi TUHAN yang hidup, ….’

Raja Akhis menyebut nama Allah Israel !! Dia berkata Demi Yehovah yang  hidup !! Hmmmmmm pergaulanku dengan dia selama ini ternyata bisa memberi pengaruh padanya, karena walau tinggal di area Filistin, amit-amit kalau aku ikut-ikutan menyembah dewa-dewa mereka !! No way ! Menyebut-nyebut nama dewa-dewa mereka saja tidak akan pernah ada dalam kamusku ! Tapi kalau raja Akhis menyebut nama Allah Israel…waaaauuuuu !!!!

‘Engkau ini orang jujur dan aku memandang baik, jika engkau keluar masuk bersama-sama dengan aku dalam tentara, sebab aku tidak mendapati sesuatu kejahatan padamu, sejak saat engkau datang kepadaku, sampai hari ini; tetapi engkau ini tidak disukai oleh raja-raja kota. Sebab itu pulanglah, pergilah dengan selamat dan jangan lakukan apa yang jahat di mata raja-raja kota orang Filistini itu. ‘

Yesssssssss!!! Sorakku dalam hati, tetapi uuuuppppssss! Senyum harus ditahan, tertawa jangan terlalu lepas ! Pasang wajah tegang….! Yups ! yups..begitu lebih baik..!

“Apa yang telah kuperbuat? Dan kesalahan apa yang kaudapati pada hambamu ini, sejak saat aku menjadi hamba kepadamu, sampai hari ini, sehingga aku tidak boleh ikut pergi berperang melawan musuh tuanku raja?”

Begitulah actingku…padahal hatiku bersorak sorai…Tuhan tetap yang paling aku kagumi seumur hidupku, tiada yang dahsyat seperti Dia  ! Dia tetap memegang percaturan politik dari dahulu hingga sekarang, hingga selama-lamanya. Walau terkadang aku tidak setia, Dia tetap setia dalam hidupku, walau aku terkadang melangkah keluar dari jalur-Nya, Dia tetap meluluskan prinsip dalam hidupku bahwa aku tidak akan pernah mau mengangkat pedang melawan raja Saul, biarlah orang yang diurapi Tuhan yang pernah menjadi majikanku, pasienku, rajaku, mertuaku dan kini menjadi ‘lawan’ politikku itu menjadi urusan Tuhan sepenuhnya, aku tidak ingin menjamah satu senti pun dari hidupnya. Cara-Nya memang unik dalam memundurkan aku dari peperangan ini. Aku sadar sepenuhnya, saat aku ada di area musuh, memakai topeng dan hidup dalam dualisme, bukannya Tuhan yang jauh dariku, tetapi aku yang menjauh dari-Nya. Toh terbukti sekarang ini, bahwa Dia tetap mengawasi aku lekat-lekat…sungguh lekat !

“Aku tahu, engkau ini memang kusukai seperti utusan Allah. Hanya, para panglima orang Filistin telah berkata: Ia tidak boleh pergi berperang bersama-sama dengan kita. Jadi bangunlah pagi-pagi beserta orang-orang tuanmu ini yang datang bersama-sama dengan engkau, bangunlah kamu pagi-pagi, segera sesudah hari cukup terang bagimu, dan pergilah.”

Waaauuuu raja Akhis menyukaiku seperti aku ini malaikat utusan Allah !!  Puji Tuhan !! Sebuah kalimat yang sangat mentakjubkan ! Dia menyuruh besok agak siang berangkat pulang !

Yuuuuppppssssss!!!! Keren ! Pulaaaaaaangggggggggggg !! Dengan cara Tuhan, Tuhan memang tahu hatiku, semua yang ada di balik topeng ini Tuhan tahu. Tuhan tahu kalau aku tidak bersorak atas peperangan ini, aku sama sekali tidak bernafsu mengangkat pedang memburu raja Saul, aku sama sekali tidak berniat mengerahkan semua pahlawan-pahlawan gagah perkasa yang selama ini sudah membantu aku berperang selama aku tinggal di Ziklag ! Pulang ! Itu justru yang melegakan aku…! Tuhan yang tahu itu semua !

Malam itu adalah malam yang melegakan !

Pagi segera datang, fajar telah datang, tidak perlu menunggu agak siang, sebaiknya pagi-pagi benar kami bergegas ! (*42

Dari Afek kami pulang ke negri filistin dan mereka bergerak maju ke Yizreel. Afek yang bersejarah. Afek adalah saksi mata atas hidupku, bahwa Tuhan ternyata tidak pernah meninggalkan aku sedetik pun !

 

AKU DAN ANAK MURIDKU

KAMI KEMBALI KE ZIKLAG

I Sam 30, I Sam 31, II Sam 1, I Sam 2: 1-3

 

Kami berjalan pulang ke Ziklag. Rasanya aneh juga ketika dikatakan itu sebuah perjalanan pulang. Ziklag bukan rumah kami. Bukan kota kami. Bukan negri kami. Kami bukan bangsa Filistin. Tetapi kalau dikatakan bukan pulaaaaang, sebenarnya tidak tepat juga, karena kami tinggal di sana. Di Ziklag-lah anak istri kami sedang menunggu kabar dari kami. Mereka mungkin sedang membayangkan bahwa suami-suami mereka akan bertempur memihak Filistin dan dengan amat sangat terpaksa melawan bangsa sendiri. Padahal..? Tahu sendiri kan, kalau Tuhan ternyata punya skenario yang beda..?? Wk wk wk …!

Aku tersenyum-senyum sendiri. Geli juga melihat bagaimana cara Tuhan menggagalkan perang saudara ini, perang sebangsa ini. Geli campur malu sebenarnya, karena telah sekian lama aku berada di area musuh, dan hatiku rasanya kering dari hadirat-Nya, perkenanan-Nya. Kalau Tuhan campur tangan dalam masalah ini, aku tahu itu semua adalah karena anugrah-Nya. Terkadang memang aku gagal untuk setia, namun Tuhan tetap menunjukkan dan mendemonstrasikan kesetiaan-Nya !

Perjalanan 3 hari menuju Ziklag ini terasa begitu cepat buat kami. Langkah-langkah kami terasa seperti ngebut. Bisa dipahami, karena kami ingin segera menyampaikan berita bahagia ini pada anak isteri kami.

Kalau aku katakan ‘anak’ isteri kami, itu mereka, orang-orangku. Karena aku belum punya anak, bersama dengan kedua isteriku yang selalu setia menemaniku dalam gerilya ini. Yah, aku atur sedemikian rupa, agar kami jangan dulu punya anak. Kehadiran anak tentunya belum waktu yang tepat buat keluarga kami, nanti saja kalau aku sudah benar-benar jadi raja seperti yang pernah dinubuatkan Nabi Samuel itu, barulah saat itu aku anggap tepat untuk memiliki anak.

Di sepanjang perjalanan, aku dan orang-orangku tertawa lepas….ha ha ha….kami bisa tertawa bebas mumpung kami sendirian, artinya nggak ada orang Filistin di sekitar kami. Mumpung topengnya sedang kami buang di jalan…inilah saatnya kami tertawa lepas. Tawa yang telah kami simpan di saku selama sa-tu ta-hun em-pat bu-lan ini !

Ada rasa merdeka yang luar biasa dari perbudakan musuh ini. Seakan –akan hidup kami selama di Ziklag ini damai, area musuh yang aman,  tetapi sebenarnya kami diperbudak. Kami tidak bisa berkata TIDAK saat raja Akhis berkata ini-itu…mau tidak mau kami harus menurut.  Kini aku belajar banyak hal, dan aku menyesal. Aku berjanji, bahwa keputusan yang salah dan nekad seperti ini tidak akan pernah aku ulangi lagi. Ini sebuah keteledoran ! Mestinya berlindung di dalam naungan Tuhan, gunung batu kekuatanku, jauh lebih aman ,nyaman dan menentramkan dibandingkan dengan berlindung dari kejaran raja Saul  dengan cara tinggal di area musuh. Ini sebuah kompromistis !

Aku berjanji, inilah kalimat terakhir untuk “Kami pulang ke Ziklag !”, berikutnya  harus berubah menjadi “Kami pulang ke Israel…”

Sudah lama sekali kata Israel itu asing di telinga kami sendiri. Aku merindukan negriku tercinta.

Tapi ada sedikit galau yang menyelinap di dalam hatiku. Ada sisi hatiku yang memikirkan bagaimana nasip Raja Saul dengan orang-orangnya dalam pertempuran besar ini. Ini bukan pertempuran biasa…dan jumlah pasukan Filistin yang bergabung dari kota-kota mereka bukan sedikit ! Sedangkan aku tidak sedang memperkuat barisan Israel, dan juga sudah banyak pasukan Israel yang sekarang ini justru sedang memihak kepadaku. Keadaan politik memang sedang ruwet ! Bagaimanapun juga aku kepikiran, Yonatan sahabatku pasti satu pasukan dengan ayahnya, yang adalah juga ayahku, raja Saul. Bagaimana nasip mereka nanti.

Ah sudahlah…apa boleh buat ! Seandainya aku masih menjadi anggota pasukan Raja Saul, tentu aku akan bela bangsa dan negaraku habis –habisan ! Berhubung statusku saat ini buronan kerajaan, dan tambahan lagi aku sedang berlindung di area musuh, tentu aku tidak dapat berbuat banyak untuk negaraku sendiri !

Huuuuiiiihhhh ! Akhirnya kami sudah dekat Ziklag ! Tuh Ziklag sudah terlihat dari kejauhan !

Upppppsssss!! Apa tuh..?? Mengapa kota Ziklag tampak aneh..?? Di sana-sini terlihat dari kejauhan bekas bakaran..! Heahhh..? Kota Ziklag dibakar…..aduh..bagaimana isteri dan anak-anak kami…??

Dan Tanah Negeb itu…??? Ya ampuuuunnn!! Tanah Negeb itu juga dikalahkan oleh mereka ! Kerjaan siapa ini ya…???

Kami segera mengechek seluruh kota Ziklag ! Tidak ada mayat bergelimangan..itu artinya tidak ada pembunuhan, tapi mereka juga tidak ada ! Itu artinya para isteri dan anak-anak kami ditawan oleh musuh !

Rasa terburu-buru karena ingin segera berjumpa anak isteri kami dalam tiga hari perjalanan ini rasanya rontok seperti daun berguguran diterpa angin kencang. Dan daun yang gugur itu jatuh ke tanah kering. Kosong. Hampa.

Ada yang hilang. Satu tahun empat bulan ini kami dikelilingi isteri dan anak-anak kami, betapa bahagianya dan melegakannya.

Bayangkan saja…setelah sekian tahun kami jadi buronan raja Saul, begitu melelahkan lari sana , lari sini, selalu diliputi rasa cemas, berdebar-debar. Mana mungkin dalam keadaan buron seperti itu kami mengajak isteri dan anak-anak kami?

Setelah kami tinggal di Ziklag ini, kehidupan kami kembali normal. Anak isteri kami boleh tinggal bersama kami, walaupun status masih buron, tetapi mustahil Raja Saul mau mengejar kami di area Filistin ini.

Semuanya tampak aman dan nyaman-nyaman saja.

Kami bergerilya sana sini dan mendapat jarahan…untuk siapa itu semua kalau bukan untuk keluarga kami?

Dan akhirnya semuanya mencapai titik antiklimaksnya pada hari ini.  Kalau pada akhirnya anak dan isteri kami ditawan musuh…??? Apa gunanya semuanya ini…??

Kami berteriak “Hiks, hiks, hiks, huuuuuuuuuuuuuuuuuuu, huuuuuuuuuu huuuuuuuuuuuuu!”

Tidak cuma mereka…aku pun ikut menangis …pedih hati memikirkan nasip isteri-isteriku, dan isteri –anak-anak dari orang-orangku yang sudah banyak sekali jumlahnya ini.

Kepedihan hati ini campur aduk dengan kekawatiran, bagaimana kalau mereka disiksa, bagaimana kalau mereka diperkosa, bagaimana kalau mereka diperlakukan dengan tidak manusiawi.

Ada kemarahan dalam hati, marah pada diriku sendiri. Ada penyesalan untuk pengambilan keputusan ini, menyesal pada keputusanku sendiri. Ini bukan main-main. Nyawa keluarga kami ada di ujung tanduk. Mereka ada ditawan musuh.

Inilah hukum tabur tuai itu. Saat aku memutuskan untuk berlindung di area musuh, bukan pada Tuhan, maka pada saat itulah musuh- walaupun musuh lain, bukan orang Filistin, memiliki hak untuk mengacak-acak keluarga kami. Aku sudah teledor membuka celah yang sangat besar untuk pihak musuh menyerbu, dan menyerang kami, dengan cara yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Seandainya kami ada di wilayah Israel saat ini, aku yakin peristiwa tragis seperti ini tidak mungkin akan pernah terjadi.

Hatiku bukan Cuma sedih, kawatir, marah, menyesal, dan menganalisa hukum tabur tuai itu kini terjadi, tetapi juga ada rasa getir.

Sekali lagi.

Getir.

Kami menangis sejadi-jadinya sampai nggak keluar lagi air mata kami. Rasa lelah yang menyergap kami bukan cuma secara fisik karena kami telah berjalan buru-buru selama tiga hari dari Afek menuju Ziklag ini ! Tetapi juga kelelahan psikis lebih parah menyerang batin kami, yang sungguh-sungguh telah mencapai puncaknya hari ini !

Kering sudah air mata kami !

Parau sudah suara kami berteriak melampiaskan emosi kami !

Kami sadar. Sudah sadar bahwa menangis saja tidak menyelesaikan masalah !

Tiba-tiba orang-orang itu berteriak kepadaku.

“Kami akan lempari engkau dengan batu hai Daud !”

“Iya betul…..kamulah penyebab semua ini !”

“Anak isteri kami jadi korban dalam perjalanan kami mengikuti engkau Daud!”

“Katamu semuanya aman di Ziklag ini…mana buktinya..??”

“Mengapa kita ikuti kemauan raja Akhis itu Daud..?”

“Semua ini keputusanmu kan…??”

Aku menelan ludah. Gleg ! Lengkap sudah ! Mana kedua isteriku ikut ditawan..orang-orang ini berniat melempari aku dengan batu. Musuh yang menawan keluarga kami aku juga belum tahu siapa, dan di mana mereka membawa keluarga kami pergi..berapa kekuatan mereka dan sanggupkah kami mengejar dan mengalahkan mereka?

Rasanya aku juga ingin menjawab orang-orang yang sedang kalap ini. “Haaaaaaaaaaaaiiiiiiiiiiiiiiiiii, kita samaaaaaaaaaaaaaa, bukankah isteri-isteriku juga ikut ditawan sama dengan isteri dan anak-anak kalian semuaaaaaaaaaaaa???”

Tapi aku tahu, bahwasannya orang-orang kalap ini, kebanyakan dari mereka yang sudah ikut aku sejak dari gua Adulam, karakter berangasan mereka muncul lagi ke permukaan.

Lebih baik kusimpan saja teriakanku itu dalam hati.

Aku tahu ini semua salahku. Kalau saja mereka tetap bersama-sama dengan aku di wilayah Israel, tentu saja suasananya akan beda sekali. Saat mana kami sudah hampir ditangkap raja Saul, saat itulah mereka aku ajak mendekat pada Tuhan, menjerit pada Tuhan, menantikan pertolongan Tuhan. Dan mereka belajar bagaimana rasanya berharap pada Tuhan. Dan saat mana aku sudah tinggal 1 cm dekatnya dengan sebuah kemungkinan membalaskan dendam dengan cara membunuh raja Saul, aku bisa ajarkan pada mereka bahwa bukan begitu caranya. Dan mereka pun belajar untuk tidak menjamah orang yang diurapi Tuhan.

Semua pelatihan itu kendor. Di Ziklag ini otot iman kami kepada Allah Israel kendor, tidak pernah kami latih. Otot kesabaran kami, Otot karakter kami, semuanya kendor.

Maka proses pelatihan yang belum maksimal ini pada akhirnya membuat sifat berangasan mereka muncul ke permukaan.

Aku tahu.

Saat kujawab, mereka justru akan semakin kalap.

Mereka sedang disetir oleh kepedihan hati yang amat sangat. Bisa dimengerti. Bisa dimaklumi. Dan aku tahu sendiri, aku memang salah. Aku pemimpin yang telah salah. Aku tidak ingin memberikan sanggahan, membenarkan diriku sendiri. Aku telah salah mengambil keputusan. Aku tertunduk.

Lebih baik aku bersujud di hadapan Tuhan.

Saat mana kami semua tidak kuat.

Sebagai pemimpin yang bertobat, aku harus putar haluan. Dari yang tadinya menaruh harap amanku pada area musuh, kini harus berbalik menjadi menaruh harap kepercayaanku pada Tuhan, mencoba mengumpulkan sisa –sisa kekuatan harapku pada Tuhan, mencoba mengaisnya seperti orang yang sedang menyapu serpihan pecahan tempayan.

Aku bersujud di hadapan Tuhan.

Aku mencoba mencari-cari imanku…mengumpulkannya menjadi suatu kekuatan baru di dalam Tuhan.

Kalau semua putus asa, mau jadi apa… aku harus segera sadar…aku bukan cuma korban peperangan  dalam peristiwa ini, namun aku juga sekaligus seorang pemimpin !

Saat mana aku bersujud di hadapan Tuhan, orang-orang berangasan itu menurunkan tangan mereka yang mengepal, membuang kembali batu yang sudah dalam genggaman tangan mereka.

Berhasil.

Mengatasi massa yang kalap jangan menyulut mereka juga dengan kemarahan yang sama. Jangan memakai senjata yang sama saat emosi kemarahan dan kegetiran hati meledak ke permukaan. Kita harus hadapi kemarahan dengan kesabaran, keberangasan dengan kelembutan, kepedihan hati dengan ketentraman yang di dalam Tuhan.

Memang tidak mudah.

Seorang pemimpin itu harus tegas tetapi tetap lembut. Lembut tetapi tetap tegas. Perkasa tetapi berbelas kasihan. Berbelas kasihan tetapi perkasa.

Saat dicaci aku memilih untuk instrospeksi diri. Aku memang salah.

“Apa yang harus kulakukan Tuhan..?” bisikku pada Tuhan dari relung hati yang sudah jauh dari hadirat-Nya.

Dalam sujudku aku mendapat hikmat…

“Abyatar ..bawalah Efod itu kepadaku !”

Ini peristiwa kedua untuk aku meminta petunjuk Tuhan menggunakan baju Efod ini.

Pertama adalah saat kami di Kehila. Saat itu aku memintakan petunjuk Tuhan untuk mengetahui apakah mungkin orang Kehila itu tega menyerahkan kami pada Raha Saul saat nanti Raja Saul datang mengejar kami di Kehila. Memang kemungkinannya saat itu, 50-50, karena kami telah berjasa menyelamatkan orang Kehila dari serangan Filistin. Tapi saat lewat Efod Tuhan berkata bahwa Raja Saul benar-benar datang mengejar dan juga orang-orang Kehila ini tega menyerahkan kami pada Raja Saul, maka saat itulah aku memutuskan untuk kami lari dari Kehila. Sudahlah, jangan berharap pada pembalasan budi mereka. Tuhan yang lebih tahu hati orang-orang Kehila ini.

Kini aku bertanya pada Tuhan

“Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul?”

Inilah kalimat doaku yang benar-benar bergantung pada kekuatan Tuhan, daya Tuhan, kapasitas Tuhan, bukan sama sekali pada kekuatanku, dayaku, pengalamanku dan kapasitasku.

Sama sekali aku tidak berani bertanya semacam ini: ‘Kemana akan ku kejar mereka Tuhan…?’

Untuk mengejar saja aku bertanya, apakah itu yang Tuhan mau…? Ataukah kehilangan anak isteri kami ini sudah merupakan ganjaran dari Tuhan yang sudah siap aku tanggung? (walau aku tidak yakin kalau orang-orangku sudah siap untuk itu)

Untuk memastikan dapatkah aku menyusul mereka saja, aku bertanya apakah itu mungkin?

Tahu sendiri. Orang-orang ini sedang marah padaku. Pasukanku berjumlah ENOL orang. Hanya Tuhan yang tahu apakah aku nantinya bisa berhasil mengajak mereka mengejar tawanan…ataukah mereka akan mengambil batunya lagi dan melayangkan padaku !

Tahu sendiri. Arah pengejaran saja aku buta, mau mengejar ke mana. Kalau pakai ilmu perang pelacakan sih semua mungkin saja terlacak, tetapi kami harus berkejar-kejaran dengan waktu, ini peristiwa yang sudah berlangsung 3 hari ! Apa saja bisa terjadi dalam 3 hari naas ini !

Lebih baik aku berlaku ‘miskin pengetahuan perang ’ di hadapan Tuhan yang adalah Jendral di atas segala jendral. Dia panglima perang sejati ! Saat seperti ini aku belajar ‘miskin kamus’ , dan biar Tuhan yang menuntun dari hal yang sekecil-kecilnya. Sudah kapok aku berlindung pada yang bukan Tuhan.

Semua teori peperangan, pengejaran, pelacakan, aku simpan di laci. Aku tidak berdaya walaupun aku berdaya. Aku tidak mau andalkan diriku. Aku mau Tuhan tahu, bahwa aku telah bertobat dari ke-sok tahu-anku yang lalu. Sok tahu bahwa di Ziklag semua keadaan akan membaik. Padahal semuanya semu. Aku tak pernah meminta pendapat Tuhan untuk keberadaan kami di Ziklag..sampai berlalu sudah satu tahun empat bulan ini. Ke-sok-tahu-an ini sudah kadaluarsa. Aku sudah bertobat. Tuhan sebenarnya yang paling tahu hal-hal yang tidak pernah aku tahu.

“Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan.”

Begitulah jawaban dari Tuhan !

Terima kasih Tuhan! Tuhan masih berkenan memimpin, menjawab, menolong, mengasihi, mengarahkan, menuntun dan memberi janji kemenangan !

Ada suasana lumer antara diriku dengan Tuhan. Kekakuan selama satu tahun empat bulan ini telah sirna. Aku mendapatkan kembali suara-Nya, jamahan-Nya, kekuatan-Nya, perkenanan-Nya, pengampunan-Nya dan janji-janji-Nya.

Adem.

Dingin seperti es menyirami hatiku yang bagiakan tanah gersang yang merindukan air.

Ini yang hilang selama satu tahun empat bulan ini.

Senyum mengakhiri pencarian jawaban Tuhan ini.

“Baik. Atur barisan dan kita akan berangkat mengejar para tawanan ! Kita bergerak ke arah sungai Besor !”

Begini begitu aku mengatur pasukan. Seperti yang Tuhan janjikan, bahwa aku dapat menyusul para tawanan, karena Tuhan tahu, orang-orang berangasan ini bisa diatasi, bisa diyakinkan akan janji Tuhan, bisa diingatkan kembali bahwa kemarahan bukan penyelesai masalah yang terbaik.

Masih ada Tuhan.

Pasti ada jalan keluar selama masih ada Tuhan.

Aku mengajak mereka kembali kepada kekuatan dan daya Tuhan, yang selama ini menjadi pelajaran yang sempat terputus jeda selama kami di Ziklag ini !

Kami segera menghapus air mata dari wajah kami, dan bergerak maju !

“Daud…kami terlalu lelah…kami sudah tidak kuat lagi berjalan…”

“Baiklah…kalian ada berapa yang terlalu lelah…?? Yang sudah tidak kuat lagi ada berapa..??”

“Sudah kami hitung…dua ratus orang..!”

“Baiklah, kalian dua ratus orang di sini saja, jaga barang-barang ya.. Kalian,  empat ratus orang yang masih kuat, kita lanjutkan perjalanan !”

Aku tidak mau memaksa dua ratus orang yang kelelahan itu. Sudah tiga hari kami berjalan dari Afek ke Ziklag, sampai di Ziklag kami diserang kelelahan batin yang cukup parah, sampai tidak kuat lagi menangis dalam raungan..dan pada akhirnya dua ratus orang ini benar-benar menyerah , tidak sanggup melanjutkan lagi perjananan.

Aku tidak boleh memaksa. Setiap orang memiliki kapasitasnya sendiri.

Aku tidak ingin mengandalkan jumlah pasukan yang sebanyak-banyaknya untuk pengejaran dan untuk mendapatkan kembali para tawanan ini ! Aku harus merelakan pasukan kami berkurang 200 orang dan aku harus meletakkan harapanku bukan pada jumlah pasukan, tetapi pada daya kekuatan yang daripada TUHAN.

Tuhan baik !

Ada seorang Mesir  yang kami ketemukan di padang. Anak buahku menghadapkan orang Mesir ini padaku.

“Beri dia roti, dan beri dia minum air, juga berikan itu sepotong kue ara dan dua  buah kue kismis, supaya ia segar kembali !”

“Iya betul….katanya tadi dia belum makan minum selama tiga hari ini….!”

Anak buahku belajar menahan emosi saat berjumpa musuh. Dalam beberapa kasus peperangan, memang pihak musuh dapat kita manfaatkan sebagai informan. Dan inilah yang sedang kami upayakan. Karena kami membutuhkan informasi tentang musuh yang menyerang Ziklag dan menawan keluarga kami.

“Budak siapakah engkau dan dari manakah engkau? ” tanyaku pada budak ini.

“Aku ini seorang pemuda Mesir, budak kepunyaan seorang Amalek, Tuanku meninggalkan aku, karena tiga hari yang lalu aku jatuh sakit. Kami telah menyerbu Tanah Negeb orang Kreti dan daerah Yehuda dan tanah Negeb Kaleb, dan Ziklag telah kami bakar habis.”

Waaau, perhatikanlah….tiga hari yang lalu kami berjalan pulang dari Afek, dihindarkan Tuhan dari perang saudara dengan orang Israel.

Tiga hari yang lalu juga Ziklag dibakar, dan keluarga kami di tawan.

Dan tiga hari yang lalu juga si budak Mesir ini jatuh sakit dan ditinggalkan pasukannya.

Ini adalah sebuah bentuk pertolongan Tuhan untuk menyisakan satu orang ini sebagai informan buat kami. Tanpa makan dan minum si budak Mesir ini bisa bertahan selama tiga hari !

Bukan sebuah kebetulan. Ada tangan yang tidak terlihat, yaitu tangan TUHAN.

“Dapatkah engkau menunjuk jalan kepadaku ke gerombolan itu?” kataku kepadanya.

Karena kami sudah menyelamatkan nyawanya dengan memberi makan dan minum, dan karena tangan yang tidak kelihatan itu ada atas kami, maka informan ini mau melakukannya untuk kami.

Dengan perjanjian bahwa kami akan melindunginya, maka sampailah kami pada lokasi musuh.

Kami pun mengintai, seperti apa situasi musuh. Mereka sedang terpencar, mereka sedang makan-minum-pesta. Jarahan mereka tampak banyak, karena mereka mendapatkannya dari tanah Filisitin dan tanah Yehuda.

Aku mengatur pasukanku. Besok akan adakan penyerangan.

Tidak boleh terburu-buru, semua harus diatur rapi. Tidak perlu emosional untuk segera melepas tawanan, karena kami harus hati-hati, jangan sampai anak isteri kami sendiri nanti yang terkena panah dan tombak.

Yah, benar, besok.

Saat kita berjalan dalam strategi Tuhan, kita akan belajar untuk tidak berlambat tetapi juga untuk tidak terlalu cepat. Semua harus dalam ketepatan.

Pagi-pagi buta kami sudah menyerang musuh. Saat itu mereka masih terlelap karena kecapekan pesta semalam. Mereka sedang lengah, karena pesta-pora membuat mereka lengah.  Saat itulah kami menyerang mereka, dan penyerangan itu terus kami lanjutkan sampai malam. Tidak ada yang lolos, kecuali empat ratus orang yang melarikan diri menggunakan unta.

Aku melepaskan semua apa yang dirampas oleh orang Amalek itu; juga kedua isteriku dapat aku lepaskan. Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil seperti sandal jepit, atau jepit rambut, sampai hal yang besar seperti pakaian dan lain-lain. Semua anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan lengkap. Bahkan barang-barang kami yang di Ziklag yang telah dirampas mereka , semuanya dapat dikembalikan dengan utuh, bahkan jarahan yang didapat para orang Amalek itu mejadi jarahan kami.

Semuanya karena pertolongan Tuhan. Tetapi aku yang bertindak menjarah. Ada bagian Tuhan, ada bagianku.

Jika Tuhan sudah buka jalan, tetapi aku diam saja. Tidak pernah akan ada jarahan.

Isteri dan anak –anak berpelukan dengan suami dan ayah mereka masing-masing. Sungguh mengharukan. Demikian juga aku peluk erat-erat isteriku ! Hampir saja ! Huiiiihhh !

“Mana suamiku..?”

“Mana ayah..?”

“Dia kelelahan…jadi menunggu di jalan..nanti kita akan berjumpa mereka dalam perjalanan pulang…sabar ya..!”

 

Kambing domba dan lembu digiring dihadapan hidungku. Dan sambil melewatiku orang-orang itu tersenyum sambil berkata

” Inilah jarahan Daud”

Berkat membuat mereka bisa tersenyum kembali. Memang baru sampai di situ tingkat kedewasaan mereka. Aku masih harus berjuang untuk membuat mereka dewasa.

Saat kecewa aku hampir dirajam, tetapi saat mendapat jarahan aku dipuja-puja. Jangan pernah terjebak pada nyanyian fans, karena dengan mudah mereka dapat berbalik arah. Tetapi kita harus tetap berpaut pada kehendak Tuhan, untuk membawa banyak orang pada jalan-jalan-Nya yang ajaib !

Kami berjalan pulang dengan sukacita. Anak isteri kami gandeng erat-erat. Rasa letih hilang sudah saat berjumpa keluarga kami.

Tidak ada satu sandal jepitpun yang hilang !

Semua dilindungi oleh Tuhan.

Bahkan kami pulang membawa banyak sekali jarahan.

Sampailah kami di tempat dimana dua ratus orang menunggu karena kelelalan.

Terjadi keributan di sana.

“Ini isterimu dan anak-anakmu…tapi barang-barang jarahan ini   buat kami yang pergi…kalian kan tidak ikut ke sana…jadi kalian tidak mendapat jarahan ini…ini buat kami saja ! Sudah pergi sana !”

“Janganlah kamu saudara-saudaraku, berbuat demikian, dengan apa yang diberikan TUHAN kepada kita; sebab Ia telah melindungi kita, dan menyerahkan ke dalam tangan kita gerombolan yang menyerang kita. Siapa yang mau mendengarkan kamu dalam perkara ini? Sebab, bagian orang yang tinggal di dekat barang-barang adalah sama seperti bagian orang yang pergi berperang; itu akan dibagi sama-sama.”

Begitu caraku menengahi masalah ini. Orang-orang jahat dan dursila ini memang harus diajar bagaimana berbagi, bagaimana menghargai kebaikan Tuhan, bagaimana menyadari bahwa semua pencapaian itu karena Tuhan, bukan karena kehebatan kita. Dan mereka juga harus belajar bahwasannya orang-orang yang menjaga barang-barang juga telah ikut berperan di balik layar. Kita tidak mungkin bisa lincah berperang kalau membawa banyak barang dari Ziklag di atas pundak kami kan?

Akhirnya sampailah kami di Ziklag.

Aku mengatur untuk membagi-bagi jarahan pada daerah-daerah di Israel yang pernah menjadi tempat pelarian kami dari kejaran raja Saul.

Dengan sangat bijak dan hati-hati, aku kembali mengajar pada orang-orang jahat dan dursila itu, bagaimana indahnya berbagi, bagaimana lepas dari keserakahan dan kedurjanaan.

Setiap pembagian jarahan ini diberi pesan seperti ini:

“Inilah pemberian kepadamu dari jarahan yang dirampas dari musuh TUHAN”
Jangan sebut nama Daud ! Semua ini hanya oleh karena anugrah TUHAN  saja ! Orang Amalek yang berperang, tetapi jarahan perang mereka diberikan Tuhan pada kami! Haleluya !!

Yang mendapat jarahan ini adalah para tua-tua di Yehuda, juga pada yang di Betel, Remot, Yatir, Aroer, Sifmot, Estemoa, Rakhal, di kota-kota Yerahmeel, kota-kota orang Keni, Horma, Bor Asan, Atakh, Hebron dan kepada segala tempat di mana aku dan orang-orangku pernah mengembara di sana.

Semua nama-nama daerah itu memang ada dalam catatanku. Aku berhutang pada mereka semua.  Tentu orang-orang Zif tidak mendapat jarahan ini. Hanya pada yang menabur kebaikan maka akan menuai kebaikan. (43*)

Sudah dua hari ini kami kembali tinggal di Ziklag.  Di sana sini terlihat hitam-hitam bekas gosong saat kota ini di bakar !

Dua hari ini, kami mencoba menata kembali kota kami. Ups maaf, kota Ziklag maksudku !

Ada kerinduan yang dalam di sanubariku yang paling dasar, untuk pulang ke Israel. Karena cepat atau lambat raja Akhis tentu akan tiba lagi di negri Filistin ini. Aku sudah muak dengan pertopengan ini.

Masa aku harus pura-pura senang saat mereka menang, sementara itu masa aku harus pura-pura sedih saat mereka kalah ?? Jelas aku sedih kalau mereka menang, karena itu artinya bangsaku kalah. Jangan sampai sekali-sekali hal itu terjadi ! Dan kalau mereka kalah jelas aku senang, bagaimanapun juga bangsaku tidak jadi korban perang ! Tapi tidak mungkin kan aku menunjukkan wajah senang di depan mereka saat mereka kalah ! Sudah ditolong, dilindungi, diberi keamanan kog malah memihak musuh.. begitu pasti cara berpikir mereka. Mereka tidak mengerti bahwasannya selama Satu tahun empat bulan ini kami ini ibaratnya telah lulus kelas acting tingkat tinggi.

Tapi untuk segera pulang ke Israel juga sebuah pergumulan. Tidak semudah itu. Harus atur strategi dulu.

Tapi aku sudah berjanji pada Tuhan, bahwa akan ada saatnya aku berkata ‘Ayo kita pulang ke Israel’  pada para pasukanku, bukan kalimat semacam ini ‘Ayo kita pulang ke Ziklag !’ Yang penting buatku sekarang, hatiku sudah kembali berpaut pada Tuhan, aku sudah minta ampun pada Tuhan karena selama ini aku berlindung bukan pada-Nya tetapi pada Ziklag ! Bekas gosong di sana-sini saat kota ini dibakar biarlah menjadi pandangan yang selalu ingatkanku akan pelajaran penting ini !

Aku tersenyum kecut, sedetik sejenak ke arah langit, sambil bola mataku melirik ke atas. Tuhan tahu semuanya ini. ‘Bantu aku keluar dari pertopengan ini Tuhan !’ Bisikku dalam hati.

Aku ingat betul. Keesokan harinya, yaitu hari ke tiga saat kami sudah balik di Ziklag, itu artinya sudah 7 hari lamanya pertempuran itu berlangsung. Yeah..pertempuran antara Filistin dan Israel. Coba aku hitung lagi ya, kami meninggalkan Afek dan tiga hari lamanya berjalan pulang ke Ziklag, sementara itu pada hari yang sama saat kami meninggalkan Afek, mereka mulai bertempur. Hari yang sama saat kami tiba di Ziklag kami mengejar gerombolan yang menawan keluarga kami, esoknya baru kami menyerang mereka, itu adalah hari ke empat. Pada hari ke empat itulah kami pulang dan membawa jarahan. Hari ke lima dan ke enam aku sudah bebenah di Ziklag ini menata ulang bekas reruntuhan kota. Dan keesokan harinya, yeah benar ! Hari ke tujuh. Sudah tujuh hari lamanya pertempuran antara Filistin dan Israel itu berlangsung !

“Heah heah huuuh hheeehhh” terengah-engah seseorang pria muda datang menemuiku dan sujud ke tanah dan menyembah

Ia pastilah seorang tentara dari pihak Raja Saul.  Itu jelas terlihat dari ciri khas pakaian tentara yang dia kenakan. Pakaiannya telah terkoyak-koyak, dan ada tanah di atas kepalanya. Itu adalah budaya kami saat mengalami kedukaan, pasti kami mengoyakkan baju kami dan menaruh abu di atas kepala kami.

“Dari manakah engkau?” tanyaku dengan nada datar.

Aku mencoba untuk berpikir positif. Semoga ada kabar baik.

“Aku lolos dari tentara Israel huh hueah..hueh..” Begitu jawabnya sambil masih terengah-engah nafasnya.

Jantungku berdetak kencang, tiba-tiba desiran darahku amat terasa cepat, dan keringat dingin sebiji dua menetes di pelipisku. Sepertinya ada secuil kecemasan akan hasil peperangan menyerang emosiku. Tapi aku harus tahan dulu. Jernihkan dulu duduk persoalannya. Harus berpikir netral dan optimis. Itu wajib !

“Apakah yang terjadi ? Coba ceritakan kepadaku !”  Buruan kukatakan padanya

“Rakyat telah melarikan diri dari pertempuan; bukan saja banyak dari rakyat yang gugur dan mati, tetapi Saul dan Yonatan, anaknya, juga sudah mati.”

Ungkasnya dengan lugas. Tanpa air mata.

Katanya dia tentara Israel, tetapi mengapa dia tidak sedih sama sekali..mengapa dia bertindak sok pahlawan dengan semua berita yang belum tentu benar seperti ini..? Apa buktinya..?

Untuk apa pakaian terkoyak dan tanah di kepala itu? Ups aku tahu. Terkadang memang ada orang-orang yang cari muka agar dapat hadiah raja. Mereka mengira aku akan berpesta akan kematian Raja Saul ! Siapa bilang ?? Mereka tidak tahu, bahwa beliau itu adalah Rajaku, seorang yang diurapi Tuhan, kami menerima pengurapan yang sama. Beliau juga adalah Tuanku, aku pernah menjadi pembawa senjatanya dan tentaranya Beliau tak lain tak bukan adalah Ayahku, karena aku menikah dengan anak gadisnya. Beliau juga adalah Ayah sahabatku, ayah daripada Yonatan. Dan walaupun dia pemburuku, tetapi aku menghormati dia juga sebagai pahlawanku, karena beliau telah berperang melawan Filistin untuk memperjuangkan bangsa kami, bangsa Israel  !

Beliau memang memburuku , tetapi aku tetap menghormati dia sebagai orang yang diurapi Tuhan. Aku menempatkan dia sebagai seorang pemimpin bangsa. Bisa jadi dia salah. Aku telah lama mengabaikan perlakuan tidak adilnya padaku. Lebih tepatnya, aku mengampuninya, aku mengasihinya. Aku mencoba mengerti dia dalam kerapuhan jiwanya. Walaupun usianya jauh lebih tua dariku, tetapi saat memikirkan dia jiwa gembalaku seakan ingin merangkul dia dan menenangkan dia seperti ketika aku menenangkan domba-domba kecilku dalam dekapanku. Aku masih ingin memainkan kecapi untuknya jika kesempatan itu masih ada. Aku tahu ini semua bisa terjadi karena ada pengurapan dari Tuhan atas hidupku. Pengurapan itulah yang membawa aku terus berjalan dalam maunya Tuhan. Aku sangat menjaga jangan sampai pengurapan itu pergi dari hidupku !

Jangan terlalu cepat percaya ! Orang-orang yang gila hadiah raja seperti ini memang hanya memandang sudut hubunganku dengan Raja Saul sebatas pemburu dan yang diburu. Pendendam dan si pembalas dendam ! Siapa yang mau balas dendam?? Ngawur !!!

Bisa saja dia ngarang cerita !

“Bagaimana kau ketahui, bahwa Saul dan Yonatan,  anaknya, sudah mati?” Tanyaku menyelidik.

“Kebetulan aku ada di pegunungan Giboa, maka tampaklah Saul bertelekan pada tombaknya, sedang kereta-kereta dan orang-orang berkuda mengejarnya. Ketika menoleh ke belakang , ia melihat aku, lalu memanggil aku; dan aku berkata: Ya tuanku. Ia bertanya kepadaku ; Siapakah engkau? Jawabku kepadanya; Aku seorang Amalek. Lalu katanya kepadaku; Datanglah ke mari dan bunuhlah aku, sebab kekejangan telah menyerang aku, tetapi aku masih  bernyawa. Aku datang ke dekatnya dan membunuh dia, sebab aku tahu, ia tidak dapat hidup terus setelah jatuh. Aku mengambil jejemang yang ada di kepalanya, dan gelang yang ada pada lengannya, dan inilah dia kubawa kepada tuanku.” Jawabnya panjang lebar.

Buruan kuraih jejemang dan gelang Raja Saul dari tangannya. Kupandangi lekat-lekat kedua benda ini. Aku kenal betul, ini memang adalah barang-barang raja Saul. Ini jejemang ayah. Ini gelang ayah. Di sana sini ada bekas simbahan darah yang masih segar. Aku meremasnya.

Segala harapanku akan kemenangan Israel telah rontok ! Aku pun tahu pemuda ini saksi mata kematian ayah.

Kupegang erat-erat bajuku, lalu aku koyakkan. Semua orang di sekelilingku berbuat hal yang sama !

Aku meratap, menangis dan berpuasa, sampai malam…sampai matahari terbenam.

Semua ini karena Raja Saul telah gugur,

Dan….dan….Yonatan ikut gugur dalam pertempuran ini.

Umat Tuhan telah kalah dalam pertempuran ini, bangsaku telah kalah !

Kaum Israel telah gugur oleh pedang musuh !!

Malam telah datang, matahari telah terbenam. Aku kuasai diriku. Emosiku.

“Asalmu dari mana ?” tanyaku pada anak muda pembawa kabar itu.

“Aku ini anak perantauan, orang Amalek.” Pantasan anak muda ini nggak punya rasa cinta pada Israel, lha wong dia ini orang Amalek. Biar pakaiannya terkoyak, biar di kepalanya ditaruh tanah, tapi kalau tidak ada rasa berkabung karena kekalahan tentara Israel , itu artinya hatinya tetap Amalek ! Dia bukanlah seorang Amalek yang cinta Allah Israel, cinta bangsa Israel. Pantas reaksinya sangat kaget ketika melihat aku tadi mengoyakkan pakaianku, meratap, menangis dan berpuasa sehari-harian ini. Wajahnya terlihat pucat. Dia tahu bahwasannya praduganya kelak dia akan dapat hadiah karena membawa kabar baik, dan mengaku-aku telah berjasa membunuh raja Saul, benar-benar salah ! Memangnya aku akan berpesta? Memangnya aku akan tertawa? Memangnya aku akan memberinya hadiah karena menganggap dia berjasa? Huuuuuhhhhh !! Orang yang tidak mengenal Tuhan dan jalan-jalannya memang tidak akan pernah mengerti, bahwa aku mengasihi raja Saul, seperti mengasihi ayahku sendiri ! Dan memang dia adalah ayahku ! Walaupun anak gadisnya telah dinikahkan dengan pria lain, aku seakan-akan dicoret dari daftar keluarga raja…walaupun aku bertahun-tahun jadi buronan raja, walaupun sampai pada titik terendah mana kala aku merasa diriku tertolak dari keluarga kerajaan, aku tidak berani lagi memanggil dia dengan sebutan ‘ayah’ sebagai sahutan mana kala dia memanggilku dengan sebutan ‘anakku’, aku tetap mengasihi dia.

“Bagaimana ? Tidakkah engkau segang mengangkat tanganmu memusnahkan orang yang diurapi TUHAN?”  Kataku pada pemuda sok pahlawan itu ! Biar dia tahu..sedang aku saja yang sudah dua kali memiliki kesempatan membunuh raja Saul dengan amat sangat mudah , karena pengawalan yang kendor dari para pengawal raja itu..tidak berani menjamah dia karena dia adalah orang yang diurapi TUHAN, lha kog dia ngaku-ngaku dengan bangga sudah menghabisi dia. Apa-apaan ini..??

“Ke mari ! Paranglah dia !” Perintahku pada salah satu pegawaiku dengan raut wajah serius dan mata sedikit melotot.

Orang itu memarangnya sehingga mati.

“Kau tanggung sendiri darahmu, sebab mulutmulah yang menjadi saksi menentang engkau, karena berkata; Aku telah membunuh orang yang diurapi TUHAN.”

Ini bukan perkara Saul. Seorang bernama Saul. Bukan! Sama sekali bukan! Tetapi ini perkara seseorang yang diurapi Tuhan.

Aku menghormati Tuhan.

Aku menghormati orang yang diurapi Tuhan.

Seperti apapun dia.

Aku hormat padanya.

 

PAHLAWANKU

Malam ini aku tidak bisa tidur. Semua bayangan dan kenangan terhadap Raja Saul menari –nari di memoriku. Sejak mula pertama aku bekerja di istana sebagai pemain musik. Sejak mula pertama aku menemani dia saat-saat genting ketika penyakit jiwanya kambuh. Selanjutnya ketika aku menjadi pembawa senjatanya. Betapa dia sangat menyayangi aku. Seandainya saat ini aku masih jadi pembawa senjatanya, aku tidak akan mungkin membiarkan dia gugur dalam peperangan. Aku akan habis-habisan mempertaruhkan seluruh kekuatanku untuk membela dia. Dan peristiwa kebetulan itu saat aku mengirim makanan untuk ketiga kakakku atas perintah ayah. Saat itu pertempuran melawan Goliat sungguh fenomenal. Tuhan menuntun langkahku untuk memenggal kepala raksasa tak bersunat itu. Persahabatan dengan Yonatan begitu ajaib bagiku. Ketulusan di antara kami berdua serasa tidak pernah aku jumpai dengan hubunganku dengan siapapun selain dengan Yonatan. Betapa serunya saat aku menjadi tentara raja Saul. Dan sejak nyanyian fans itulah semuanya telah berubah. Dua ratus kulit katan orang Filistin menjadi emas kawinku ketika aku menikah dengan anak gadisnya. Mikhal adalah isteri pertamaku, dia adalah anak raja Saul, dan raja Saul adalah ayah mertuaku. Aku memanggilnya ‘ayah’. Nyanyian para fans itulah yang menggiring aku terus bergerilya sebagai seorang buron sampai detik ketika dia meninggal dunia.

Bayangan itu berganti-ganti dengan bayangan –bayangan tentang Yonatan, sahabatku. Dia sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Semua pemberiannya masih aku simpan sampai sekarang. Jubahnya, baju perangnya, pedangnya, panahnya bahkan ikat pinggangnya. Kupandangi lekat-kelat semua benda-benda bersejarah itu. Itu bukan jubah biasa, sama sekali bukan baju perang biasa, pedang biasa, panah dan ikat pinggang biasa. Karena semua benda itu langsung dilepas dari pemiliknya di depan mataku, dan diberikan kepadaku, dan pemiliknya itu adalah seorang Pangeran !

Kami benar-benar menjadi kakak dan adik ipar saat aku menikahi adiknya, Mikhal ! Kami sama-sama tinggal di lingkungan istana dan persahabatan kami semakin erat dengan pertalian kekeluargaan ini.

Saat mana dia menyelidiki perkaraku di hadapan ayahnya. Bahkan saat mana dia tidak mau makan, karena sakit hati dengan perkataan ayahnya tentang aku. Betapa membelanya dia padaku. Saat dia memberitahukan detik dimana kami harus berpisah karena ayahnya sudah kalap.

Dan yang tak terlupakan adalah saat dia datang mengunjungiku saat aku diliputi kegentaran dalam masa-masa awal pelarianku sebagai seorang buronan raja.

Aku telah berjanji pada Yonatan dalam beberapa kesempatan perjumpaan kami. Aku juga telah berjanji pada Raja Saul dalam pertemuan kami di goa bersejarah itu ! Dan pertemuan kami yang terakhir padang gurun Zif. Benar ! Itu adalah pertemuan kami yang terakhir.

Mereka memang adalah para pahlawan Israel yang telah gugur di medan laga.

Dan ketangkasan mereka sebagai seorang pahlawan tidak perlu diragukan lagi !

Bayangkan saja , untuk seorang raja Saul yang notabene seperti itu bernafsunya mengejar buronan seperti aku ini, yang dianggap mengancam kedudukannya sebagai raja Israel, bisa-bisanya menghentikan pengejaran padaku dan berbalik mengejar Filistin yang saat itu menyerang Israel. Bukankah itu keren? Saul adalah pahlawan sejati! Dia mengasihi bangsanya, dia mengasihi rakyatnya. Israel telah dipimpin olehnya dalam berpuluh-puluh tahun kepemimpinannya. Dia adalah seorang negarawan ! (*44)

Selama dia memerintah Israel, dia mendandani rakyatnya dengan cantik, fashionable dan tentunya keren , perlente !

Semua janji-janjiku pada Yonatan dan pada Raja Saul, yeah..pada ayahku..kembali terngiang-ngiang di telingaku. Sepertinya peristiwa demi peristiwa masih baru tadi pagi terjadi.

Rasa gundah, pilu dan galau menyerang aku.

“Tolong ambilkan aku kertas, alat tulis dan kecapi!” Perintahku pada pegawaiku.

Mereka tampak heran. Sejak di Ziklag aku sudah tidak pernah membuat komposisi baru. Tepatnya sudah satu tahun empat bulan ini aku sudah tidak pernah mencipta lagu baru. Berbeda saat kami dulu tinggal di Israel, berpindah-pindah sebagai buronan. Saat itulah justru aku banyak mencipta lagu baru, hasil perenunganku tentang Tuhan. (*45)

Dengan pandangan heran, mereka pun buruan mengambil kecapi dan alat tulis untukku.

Ada beberapa kata-kata yang mulai inspiratif harus segera dituangkan dalam komposisi baru. Sebuah Sympony lagu ratapan.

Dan simphony ratapan untuk Saul dan Yonatan ini aku tulis di sini

Kepermaianmu, hai Israel,

mati terbunuh di bukit-bukitmu!

Betapa gugur  para pahlawan

Janganlah kabarkan itu di Gat,

janganlah beritakan itu di lorong-lorong Askelon,

supaya jangan bersukacita anak-anak perempuan orang Filistin,

supaya jangan beria-ria anak-anak perempuan orang-orang yang tidak bersunat!

Hai gunung-gunung di Gilboa!

jangan ada embun,  jangan ada hujan  di atas kamu,

hai padang-padang pembawa kematian!

Sebab di sanalah perisai para pahlawan dilumuri,

perisai Saul yang tidak diurapi dengan minyak.

Tanpa darah  orang-orang yang mati terbunuh

dan tanpa lemak para pahlawan

panah  Yonatan tidak pernah berpaling pulang,

dan pedang Saul tidak kembali dengan hampa.

Saul dan Yonatan, orang-orang yang dicintai dan yang ramah,

dalam hidup dan matinya tidak terpisah.

Mereka lebih cepat dari burung rajawali,

mereka lebih kuat dari singa.

Hai anak-anak perempuan Israel,

menangislah karena Saul,

yang mendandani kamu dengan pakaian mewah dari kain kirmizi,

yang menyematkan perhiasan emas  pada pakaianmu.

Betapa gugur para pahlawan di tengah-tengah pertempuran!

Yonatan mati terbunuh di bukit-bukitmu.

Merasa susah aku karena engkau,

saudaraku Yonatan,

engkau sangat ramah kepadaku;

bagiku cintamu  lebih ajaib  dari pada cinta perempuan.

Betapa gugur para pahlawan dan musnah senjata-senjata perang!

 

Huih ! Betapa leganya, aku bisa menulis komposisi lagi.

Orang-orang yang selama ini mengikutiku sejak dari gua Adulam sampai saat ini, adalah mereka yang mengikuti suka dukaku dalam hal sekecil dan sebesar apa pun. Mungkin beberapa dari mereka bingung, ‘Saat ini, saat kematian Saul dan Yonatan, adalah saat suka ataukah saat duka ya ?’ Memang sih mereka ikut mengoyakkan pakaian , dan meraung serta menangis dan berpuasa saat itu semua kulakukan. Tapi jangan sampai semua hal itu mereka lakukan hanya sebagai ritual menghormati suasana duka yang menghinggapi pemimpin mereka, dan bukan karena mereka sendiri sadar dengan apa yang mereka lakukan.

Mereka harus belajar bagaimana mencintai pemimpin, bagaimana mendoakan pemimpin, bagaimana menghormati pemimpin, bagaimana memberi respek kepada pemimpin, bagaimana berpikir positif dan melihat sisi positif kepahlawanan dalam diri seseorang yang nampaknya jahat sekalipun.

Mereka harus aku cetak dari orang yang awalnya berangasan, orang yang jahat dan dursila , menjadi orang yang pengampun, orang yang dewasa, orang yang sabar, orang yang berlapang dada, orang yang berpikir positif, orang yang tangguh dan beriman pada Tuhan, menjadikan Tuhan sebagai andalan mereka.  Sasaran ini harus tercapai. Aku tidak hanya melatih mereka perang fisik, tetapi mereka juga harus bisa mengalahkan ego mereka sebagai musuh utama.

Memang semua latihan ini sempat kendor saat kami tinggal di Ziklag ini ! Tetapi aku sudah putuskan, hal ini tidak dapat diteruskan ! Aku harus bangkit untuk melatih mereka kembali.

Maka kuputuskan untuk komposisi yang kali ini harus ditulis di Kitab Orang Jujur, dan nyanyian ratapan ini harus di perintahkan untuk diajarkan, minimal kepada bani Yehuda dulu.

Masa berkabung telah lewat. Kini saatnya jika Tuhan berkenan aku akan membawa rombongan ini benar-benar ‘pulang’ ke Israel. Rumah kami yang sebenar-benarnya, tanah air kami, bangsa kami, bahasa kami, dimana iman kami bersemi dan bertumbuh kuat seperti tunas pohon zaitun.

“Apakah aku harus pergi ke salah satu kota di Yehuda?” begitu tanyaku pada Tuhan. Aku bersyukur hubungan kami telah lumer. Keakrabanku dengan Tuhan telah kembali normal.

“Pergilah !” Begitu suara Tuhan memenuhi relung hatiku. Hangat.

Hatiku bersorak…Yeaaaayyyyyy ! Aku akan tinggalkan Ziklag semu ini ! Perlindungan palsu ini ! Aku akan buang semua topeng-topeng ini !!

“Ke mana aku pergi?”  tanyaku pada Tuhan. Biarlah Tuhan mengatur langkah kami. Kami nggak mau sok tahu. Tuhan yang lebih tahu tempat mana yang paling tepat untuk kami bisa dikatakan ‘pulang’

“Ke Hebron.” Jelas sekali tuntunan-Nya. Keren abiz !

Hanya orang yang hatinya dekat dengan Tuhan yang memiliki rasa tenang, aman dan tentram seperti ini. Tidak ada kepanikan, ketakutan, kecemasan, kekawatiran. Aku suka suasana hati seperti ini. Ini asli..bukan polesan !

“Ayooooo bersiap ….! Kita tinggalkan Ziklag ini dan kita segera pulang ke Israel…! Kita menuju Hebron dan kita akan menetap di sana. Bawa semua barang-barang dan anak isteri kalian ya…Kita Pulaaaaaaaaaaaanggggggggggggg….. ke Israeeeeeeeeeeeelllllllll”

Terikaku pada mereka, sekeras-kerasnya. Yeayyy !!

 

Pulang pulaaaang …pulang pulaaaaaang …..

Begitu dendangku dalam hati.

 

AKU DAN ANAK MURIDKU,

KAMI PULANG KE ISRAEL, KE TANAH HEBRON

Waaauuuuu…setelah bertahun-tahun, akhirnya kami pulang ke Israel, ke tanah Hebron. Menyongsong hari baru bersama dengan Tuhan.

 

 

 

(*1  I Sam 16: 10-12 Daud adalah anak ke 8 dari 8 bersaudara , hal ini ditegaskan lagi di I Sam 17:12. Namun pada I Taw 2: 13-15 dikatakan bahwa Daud adalah anak ke 7. Kedua bagian Alkitab ini benar dan tidak bertentangan karena kakak Daud bernama Elihu adalah saudara Daud yang lain/ semacam saudara tiri, karena se ayah tetapi berbeda ibu, dicatat sebagai anak ke tujuh, dan Daud jadi anak ke 8, Kalau dihitung dari anak Isai dari isteri yang sama, Daud adalah anak ke 7. hal ini dicatat di I Taw 27:18)

(*2  I Sam 17:15)

(*3 I Sam 19:1)

(*4 I Sam 20:8)

(*5 II Sam 9:1- dari ayat ini ,mengindikasikan Daud tidak tahu menahu mengenai seluk beluk keluarga Saul- khususnya keluarga Yonatan. Bisa jadi pernikahan Yonatan berlangsung saat Daud ada dalam pelarian dan tidak memiliki lagi komunikasi secara intensif dengan Yonatan dan dengan bangsa Israel)

(*6 Mazmur 142 ini tidak memberikan kepada kita keterangan tempat atau keterangan waktu. Hanya dituliskan kata ‘gua’ tetapi tidak ada embel-embel nama gua tersebut apa. Jelas ini bukan gua Adulam. Namun dari isi mazmur 142 ini kita ketahui bahwa Daud pada saat itu seorang diri saja, tidak ada orang lain bersama dengan dia, kesimpulannya, peristiwa ini terjadi pada jeda antara Daud berpisah dari Yonatan ( I Sam 20:43) dengan peristiwa sampainya Daud di Nob ( I Sam 21:1) Karena walaupun sama-sama dalam keadaan masih sendiri, peristiwa penulisan Mazmur 142  ini tidak mungkin terjadi pada peristiwa antara perpindahan Daud dari Nob menuju Gat ( I Sam 21:9-10), karena pada bagian itu ada keterangan PADA HARI ITU JUGA. Sedangkan pada I Sam 22:1 nama gua jelas jelas adalah gua Adulam.

(*7 Mazmur 56: 8

(*8 I Sam 11:7)

*9 A dan *8 B Imamat 15:18)

*10 Ulangan 24:5

*11 Mazmur 56:8

(*12Maz 56:13-14)

(*13 Walaupun dalam masa pelarian Daud sudah beristerikan Mikhal, namun Alkitab mengatakan bahwa Mikhal mandul sampai hari matinya (II Sam 6: 23), dan walaupun semasa pelarian Daud telah mengambil lagi dua orang isteri ( I Sam 25: 42-43) namun Alkitab jelas-jelas menyebutkan bahwa Daud memiliki anak-anak kandung, barulah pada saat dia memerintah di Hebron ( II Sam 3:2-5) dan memerintah di Yerusalem ( II Sam 5: 13-16) , Jadi kesimpulannya Mazmur 34 ini bukan ditujukan kepada anak-anak kandung Daud, melainkan ditujukan kepada anak-anak rohani daripada Daud, yaitu kira-kira 400 orang yang berkumpul pada Daud di gua Adulam.

(*14 I Sam 23: 17)

(*15 I Sam 22:14-15)

(*16  I Sam 22:8)

(*17 Maz 34:12

(*18  Mazmur 57 tidak mengandung suatu keterangan tempat nama gua yang jelas dan tidak mengandung suatu keterangan waktu yang tepat dari seluruh pengejaran Saul kepada Daud dari sejak awal sampai akhir, di titik mana persitiwa penulisan Mazmur 57 ini tepatnya dilakukan.

Namun dari beberapa tempat persinggahan pelarian Daud , dapat kita daftarkan sebagai berikut:

1. Rama I Sam 19:18 Kota ini tidak memungkinkan adanya gua
2. Nayot I Sam 19:18 Daerah pinggiran kota Rama ini tidak memungkinkan adanya gua
3. Bertemu dengan Yonatan di sebuah tempat yang tidak disebutkan namanya I Sam 20:1 Kita tidak pernah tahu pertemuan kedua sahabat ini diadakan di mana.
4. Sebuah Gua yang tidak disebutkan namanya, kemungkinan gua ini gua kecil yang tidak bernama. Gua ini kemungkinan berada di antara tempat pelarian Daud yang terakhir saat berpisah dengan Yonatan, menuju Nob. Mazmur 142 Indikasi ini sangat kuat, karena dalam Mazmur 142 , Daud menyatakan kesendiriannya, dia belum memiliki pasukan sama sekali. Tetapi ada keterangan di bagian judul mazmur ini bahwa ini dituliskan di sebuah gua.Perhatikan keterangan peristiwa di

I Sam 21: 1 Sampailah Daud ke Nob.

Komentar seperti ini sangat berbeda dengan komentar di ayat lain yang mengindikasikan peristiwa yang langsung berurutan, karena ada petunjuk waktunya,  seperti pada beberapa ayat ini

I Sam 21:10 Kemudian bersiapkah Daud dan larilah ia PADA HARI ITU JUGA dari Saul, sampaila ia kepada Akhis, raja kota Gad.

I Sam 22:1 Lalu Daud pergi dari sana dan melarikan diri ke gua Adulam.

Kesimpulannya, dari sejak berpisah dari Yonatan, ada kemungkinan sebelum sampai di Nob, Daud berkemungkinan singgah ke gua yang dicatat di Mazmur 142.

 

5. Nob I Sam 21:1 Kota ini tidak memungkinkan adanya gua
6. Gat I Sam 21:10 Kota ini tidak memungkinkan adanya gua
7. Gua Adulam I Sam 22:1 Nama gua ini jelas, Gua Adulam.
8. Kubu Gunung di Mizpa di Moab I Sam 22:4 Kubu Gunung di Mizpa memungkinkan adanya Gua-gua. Namun mengapa Mazmur 57 tidak saya masukkan di bagian ini, karena bila kita simak isi Mazmur 57, lebih kuat di mazmur ini dicantumkan tentang pengejaran Saul. Sedangkan bagian yang sangat kuat pengejaran Saul adalah di I Sam 24 saat Daud ada di kubu-kubu gunung di En- Gedi.
9. Hutan Keret I Sam 22:5 Kemungkinan kecil ada gua-gua di dalam hutan. Gua-gua lebih masuk akal berada di daerah pegunungan.
10. Kehila I Sam 23:5 Kota ini tidak memungkinkan adanya gua
11. Padang gurun Zif di tempat-tempat perlindungan I Sam 23: 14 Padang gurun ini tidak memungkinkan adanya gua
12. Di Koresa I Sam 23:16 Kota ini tidak memungkinkan adanya gua
13. Di bukit Hakhila, di sebelah padang belantara I Sam 23:19 Bukit ini tidak memungkinkan adanya gua, karena ada di padang belantara. Peristiwa Daud bersembunyi di bukit Hakhila dan dilaporkan oleh orang Zif kepada raja, terjadi dua kali, yang pertama pada peristiwa ini I Sam 23:19 , dan terulang lagi pada I Sam 26:1. Namun mengapa Mazmur 54, kita letakkan di bagian ini dan bukan di bagian I Sam 26? Kerena bagian awal Mazmur 54 :”Daud bersembunyi kepada kami” lebih cocok kepada keterangan di I Sam 23: 19 : Daud menyembunyikan diri dekat kami di kubu-kubu gunung dekat Koresa, di  bukit Hakhila, di sebelah selatan padang belantara. Ketimbang keterangan yang di I Sam 26: 1 “Daud menyembunyikan diri di bukit Hakhila di padang belantara.”
14. Di padang gurun Maon I Sam 23: 24 Di padang gurun ini tidak memungkinkan adanya gua
15. Di kubu-kubu gunung di En-Gedi I Sam 24: 1 Di kubu-kubu gunung di En-Gedi dimungkinkan adanya gua. Oleh karena itu indikasi sangat kuat Mazmur 57 ditulis pada waktu ini, dengan catatan khusus yang mengarah ke sana adalah isi dari mazmur 57 itu sendiri yang menunjukkan adanya isyarat pengejaran Saul yang sangat intensif.
16. Di Maon, di tempat pengguntingan bulu domba milik Nabal I Sam 25:2 Di tempat  ini jelas tidak ada gua tempat Daud bersembunyi
17. Kembali ke bukit Hakhila di padang belantara I Sam 26:1 Bukit ini tidak memungkinkan adanya gua, karena ada di padang belantara.
18. Ziglag I Sam 27:6 Ini nama sebuah kota, tidak dimungkinkan ada gua di kota ini
19. Hebron II Sam 2: 1 Ini nama sebuah kota, tidak dimungkinkan ada gua di kota ini
20. Yerusalem II Sam 5: 6 Ini nama sebuah kota, tidak dimungkinkan ada gua di kota ini

 

 

(*19 I Sam 16: 21-22)

(*20 I Sam 23: 22)

(*21 Matius 10:13

 

(*22  Maz 27:10)

(*23 I Sam 17:12)

(*24 I Sam 17:13, I Sam 16: 6-10, I Taw 2: 13-17)

(*25 I Taw 2; 13-17, I Taw 27:18)

(*26 I Sam 22:3)

(*27 Maz 78:70-72)

(*28 Maz 89:1-38)

(*29 I Sam 23:16)

(*30 Sam 25: 36-38 , 1 hari dimana Abigail menunda memberitahukan apa yang terjadi pada suaminya,  ditambah 10 hari)

(*31   I Sam 27:12, I Sam 28:2)

(*32   I Sam 27:3)

(*33  I Taw 12: 1-22, 22)

(*34   I Sam 13: 7)

(*35  I Taw 12: 19-22)

(*36 Keterangan; di seluruh pasal Mazmur dari pasal 1 sampai pasal 150, tidak ada satu pun pasal yang membahas isi lagu/Mazmur/Puisi/Doa Daud yang ditulis dengan keterangan tempat ZIKLAG ini,  berbeda sekali dengan pengalaman-pengalaman Daud lainnya yang ada di kitab I Samuel biasanya terhubung dengan doa-doanya/puisi-puisinya/ mazmur-mazmurnya, seperti contohnya :

  • Maz 59: 1 Saat Daud dimata-matai raja Saul
  • Maz 34: 1 Peristiwa saat Daud pura-pura gila di depan Abimelekh
  • Maz 142 :1 Saat Daud ada di gua Adulam
  • Maz 54: 1 Peristiwa saat orang Zifi bocor mulut pada Raja Saul dan memberitahukan tempatnya bersembunyi
  • Maz 51:1 Persitiwa saat Daud baru ditegur nabi Natan
  • Maz 3:1 Peristiwa saat Daud lari dari Absalom anaknya
  • Maz 18: 1 Nyanyian Daud saat dia telah dilepaskan dari semua cengkraman semua musuhnya
  • Maz 60:1-2 Catatan kemenangan-kemenangan Daud bersama Tuhan setelah dia menjadi raja

kesimpulan penafsiran saya: Daud mengalami fakum hubungan dengan Tuhan yang menjadi hubungan yang  dingin saat dia berada di wilayah musuh/ wilayah Filistin ini. Bandingkan dengan bagian Alkitab lain yang selalu mencatat LAMANYA hubungan fakum ini – dalam contoh kisah hidup Abraham Perhatikan Kejadian 16: 16, dengan Kejadian 17:1, ada jeda 13 tahun dalam dua ayat  yang dipisahkan hanya oleh nomor pasal ini. Dalam kurun waktu 13 tahun ini tidak ada sama sekali catatan percakapan Tuhan dengan Abraham, ketika Abraham memilih untuk dengan ‘caranya’ sendiri mendapatkan keturunan, akhirnya lahirlah Ismail)

(*37

Keterangan lain tentang keadaan posisi sikap pilihan Daud di Ziklag ini dapat kita lihat pada I Tawarikh 12: 1-22 Dimana pada ayat 19, jelas – jelas Daud dikatakan bersama-sama dengan FILISTIN memerangi Saul ! )

(*38 I Taw 12: 19-22)

(*39 bandingkan saat pertama Daud di wilayah Gad ini , untuk mengerti perkataan orang Filistin, Daud harus lebih memperhatikan perkataan mereka I Sam 21; 12)

(*40   I Sam 29: 4 kata Suruhlah ‘orang’ itu pulang, dalam bahasa aslinya memakai kata jamak, suruhlah ‘orang-orang’ itu pulang. Jadi yang dimasalahkan orang Filistin tidak hanya Daud saja, tetapi juga orang-orangnya, terutama yang mereka kenali adalah orang-orang Manasye yang adalah para poahlawan yang gagah perkasa dan mereka adalah kepala dalam tentara- hal ini bisa kita bandingkan dengan I Taw 12: 19-22)

(*41 Coba bandingkan I TaW 12: 19-22 dengan I Sam 29: 1-5. Orang Filistin tidak saja mempermasalahkan kehadiran Daud, tetapi juga kehadiran orang-orang di sekitar Daud yang kemungkinan saja mereka kenali sebagai pahlawan-pahlawan yang adalah pemimpin pasukan Israel. Terbukti nama-nama orang Manasye ini pada I Taw 12: 19-22 jelas-jelas disebutkan sebagai orang-orang yang diajak oleh Daud ikut berperang bersama orang Filistin, walaupun peperangan ini batal. Berbeda dengan orang-orang lain yang juga menggabungkan diri pada Daud pada rombongan-rombongan sebelumnya, mereka tidak diajak berperang oleh Daud dalam peperangan bersama orang Filistin ini.)

(*42 kata pagi yang dipakai oleh raja Akhis  di ayat 10, berbeda dengan kata pagi yang dipakai dalam ayat 11)

(*43  I Sam 23: 19)

(*44 I Sam 23: 14-28)

(*45 Lihat keterangan penafsiran ini pada (*35 )

 

 

 

Lampiran 1

http://www.sarapanpagi.org/inkonsistensi-kontradiksi-alkitab-vt566-20.html

  1. Berapa jumlah anak Isai?
    1. 7 plus Daud, jadi semuanya ada 8 (I Samuel 16:10-11, 17:12)
    2. Semuanya ada 7 (I Tawarikh 2:13-15)JAWAB :

    * 1 Samuel 16:10-11
    16:10 Demikianlah Isai menyuruh ketujuh anaknya lewat di depan Samuel, tetapi Samuel berkata kepada Isai: “Semuanya ini tidak dipilih TUHAN.”
    16:11 Lalu Samuel berkata kepada Isai: “Inikah anakmu semuanya?” Jawabnya: “Masih tinggal yang bungsu, tetapi sedang menggembalakan kambing domba.” Kata Samuel kepada Isai: “Suruhlah memanggil dia, sebab kita tidak akan duduk makan, sebelum ia datang ke mari.”

    * 1 Samuel 17:12
    Daud adalah anak seorang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda, yang bernama Isai. Isai mempunyai delapan anak laki-laki. Pada zaman Saul orang itu telah tua dan lanjut usianya.

    versus

    * 1 Tawarikh 2:13-15
    2:13 Isai memperanakkan Eliab, anak sulungnya, dan Abinadab, anak yang kedua, Simea, anak yang ketiga,
    2:14 Netaneel, anak yang keempat, Radai, anak yang kelima,
    2:15 Ozem, anak yang keenam, dan Daud, anak yang ketujuh;

    Isai (Ibraniישי- YISYAY), adalah cucu Boas dan ayah Daud. Ia tinggal di Betlehem dan biasa disebut “orang Betlehem itu” dan sekali “orang dari Efrata, dari Betlehem-Yehuda. Putranya delapan orang, tetapi yang ditulis hanya tujuh orang. Yang kedelapan (tetapi dalam urutan ke tujuh karena lebih tua dari Daud) tidak disebut karena menurut Midrasy, berasal dari lain ibu (bandingkan 1 Tawarikh 27:18 yang mencatat nama saudara Daud yang lain). Masih ada dua anak perempuan yang biasanya tidak dimasukkan dalam jumlah keturunan (bandingkan dengan Dinah, putri Yakub yang tidak disebut dalam 12 suku Israel).

    * 1 Tawarikh 27:18
    LAI TB, untuk suku Yehuda ialah Elihu, salah seorang saudara Daud; untuk suku Isakhar ialah Omri bin Mikhael;
    KJV, Of Judah, Elihu, one of the brethren of David: of Issachar, Omri the son of Michael:
    Hebrew,
    לִיהוּדָה אֱלִיהוּ מֵאֲחֵי דָוִיד לְיִשָׂשכָר עָמְרִי בֶּן־מִיכָאֵל׃ ס
    Translit, “LÏHÛDÂH ‘ELÏHÛ MÊ’AKHÊY DÂVÏD LEYISÂSKHÂR ‘ÂMRÏ BEN-MÏKHÂ’ÊL”

    Urut-urutan nama ke-8 putra Isai adalah sebagai berikut:

    1. אליאב – ‘ELÏ’ÂV, Eliab
    2. אבינדב – ‘AVÏNÂDÂV, Abinadab
    3. שמעא – SYIME’Â’, Simea
    4. נתנאל – NETANE’ÊL, Netaneel
    5. רדי – RADAY, Radai
    6. אצם – ‘OTSEM, Ozem
    7. אליהו – ‘ELÏHÛ, Elihu (1 Tawarikh 27:18, Midrasy)
    8. דוד – DÂVÏD, Daud

 

 

YANG BELUM DIMASUKKAN NYANYIAN PENGAJARAN DAUD

MAZMUR 60- SAAT MAPAN DAN NYAMAN- MEREBUT YERUSALEM

MAZMUR 32 BATSYEBA

MAZMUR 55 ABSALOM DAN AHITOFEL

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Comments on: "RAJAKU, TUANKU, PEMBURUKU, AYAHKU, PAHLAWANKU – edit juli 2015" (2)

  1. sangat memberikati ulasan FT ini. Terimakasih sudah membagikan. Tuhan Yesus memberkati.

    • Baik, ikuti terus babak demi babak sampai tulisan ini membuktikan janji Daud tergenapi bahwa dia memelihara keturunan SAUL. Dan pada saat Saul meninggal, Daud menyebutnya pahlawan. Ini keren banget…rajin-rajin buka terus ya babak demi babak, akan saya tulis secara kontinue. GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: