'manusia hidup bukan dari roti saja…'

SAMUEL VS SAUL

 

Ada perbedaan mencolok antara kepemimpinan Samuel atas Israel dan kepemimpinan Saul atas Israel.

Ada saat menyembah, ada saat berperang.

Terkadang saat sedang menyembah, serangan datang pada saat yang sama, sehingga seolah-olah kita diperhadapkan pada dua pilihan. Pilihan yang pertama menghentikan penyembahan pada saat itu juga lalu segera beralih pada peperangan yang ada di hadapan mata, ataukah… terus menyembah, dan biarkan Tuhan yang berperang ganti kita.

 

I Samuel 7:10

 

Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu, majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. tetapi pada hari itu TUHAN mengguntur dengan bunyi hebat ke atas orang filistin dan mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel. Keluarlah orang-orang Israael dari Mizma, pengejar orang Filistin itu dan memukul mereka kalah sampai hilir Bet-Kar…..dst

Ayat tersebut tidak berkata “Setelah Samuel mempersembahkan…” atau ‘Sebelum Samuel mempersembahkan”

tetapi dipakai kata S-E-D-A-N-G Samuel…

Ada tabrakan waktu di sini, sedang ashik-ashiknya menyembah Tuhan, membangun mezbah, eh musuh datang. Samuel tidak bergeming, dia tetap datang pada Tuhan, dan Tuhan pun langsung bertindak pakai Suara-Nya sendiri. Tuhan bukan mengirimkan guntur, tetapi DIA SENDIRI YANG MENGGUNTUR. Waaaauuu

 

Beda lagi dengan Saul.

I Samuel 13: 5-14

 

13:5 Adapun orang Filistin telah berkumpul i  untuk berperang melawan orang Israel. Dengan tiga ribu kereta, enam ribu orang pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki sebanyak pasir j  di tepi laut mereka bergerak maju dan berkemah di Mikhmas, k  di sebelah timur Bet-Awen. l  13:6 Ketika dilihat orang-orang Israel, bahwa mereka terjepit–sebab rakyat memang terdesak–maka larilah rakyat bersembunyi m  di gua, keluk batu, bukit batu, liang batu dan perigi; n  13:7 malah ada orang Ibrani yang menyeberangi arungan sungai Yordan menuju tanah Gad o  dan Gilead, sedang Saul masih di Gilgal dan seluruh rakyat mengikutinya dengan gemetar. p 13:8 Ia menunggu tujuh q  hari lamanya sampai waktu yang ditentukan Samuel. Tetapi ketika Samuel tidak datang ke Gilgal, mulailah rakyat itu berserak-serak meninggalkan dia. 13:9 Sebab itu Saul berkata: “Bawalah kepadaku korban bakaran dan korban keselamatan itu.” Lalu ia mempersembahkan r  korban bakaran. 13:10 Baru saja ia habis mempersembahkan korban bakaran, maka tampaklah Samuel s  datang. Saul pergi menyongsongnya untuk memberi salamt  kepadanya. 13:11 Tetapi kata Samuel: “Apa yang telah kauperbuat?” Jawab Saul: “Karena aku melihat rakyat itu berserak-serak meninggalkan aku dan engkau tidak datang pada waktu yang telah ditentukan, padahal orang Filistin telah berkumpul di Mikhmas, u  13:12 maka pikirku: Sebentar lagi orang Filistin akan menyerang aku di Gilgal, v  padahal aku belum memohonkan belas kasihan w  TUHAN; sebab itu aku memberanikan diri, lalu mempersembahkan korban bakaran.”13:13 Kata Samuel kepada Saul: “Perbuatanmu itu bodoh. x  Engkau tidak mengikuti y  perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu 1 ; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. z  13:14 Tetapi sekarang kerajaanmu a  tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya 2  b  dan TUHAN telah menunjuk c  dia menjadi raja d  atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti e  apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu.”

 

Saul hanya menjadikan penyembahan sebagai sebuah prasyarat sebuah peperangan, untuk menjamin sebuah kemenangan, menjadikan Tuhan sebagai alat kemenangan, sehingga karena Samuel belum datang, dia nekat melakukan apa yang bukan menjadi wewenangnya.

Itulah bedanya dengan Samuel. Samuel menjadikan sebuah ibadah adalah sebuah kekhususan yang tidak dapat digantikan dengan apa pun juga termasuk kekawatiran, peperangan, kedatangan musuh, dll. Jadi saat Tuhan merasa mendapat gangguan maka Tuhan pun tak segan-segan memusnahkan gangguan itu dengan cara-Nya.

Itulah bedanya dengan Saul. Justru Saul menganggap ibadah sebagai gangguan dalam peperangannya melawan musuh. Karna ibadah bagi Saul hanyalah sebagai prasyarat perang, maka Saul sesegera mungkin melaksanakan ibadah itu, walaupun secara sembarangan. Tidak perlu menunggu sampai Samuel datang. Hati Saul bukan berpaut pada Tuhan, Sang Pemberi Kemenangan  dalam peperangan, melainkan hati Saul galau saat rakyat terserak meninggalkan dia. Bukankah sumber kemenangan bukan pada rakyat, tetapi pada TUHAN?

Bukankah Tuhan dapat memberi kemenangan hanya dengan sedikit orang atau pun dengan banyak orang??

 

Hasrat untuk menyembah Tuhan harus menduduki porsi utama, sedangkan sisa-sisa lainnya itu cuma kecil di hadapan-Nya.

 

Amin.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: