'manusia hidup bukan dari roti saja…'

KELUARGAKU ADALAH RUMAHKU

Keluargaku adalah Rumahku

Disusun dengan anugrah Tuhan oleh; Grace Sumilat. S.MG

 

Sebuah rumah pasti ada atapnya, ada dindingnya, ada pintunya, ada jendelanya, dan juga ruang demi ruang.

 

Atap memberi perteduhan dari hujan dan panas, topan dan badai. Mari kita ciptakan  keluarga yang memberi rasa aman dan nyaman. Perkataan-perkataan yang membangun. Doa dan harapan yang menjadi payung bagi seluruh isi rumah. Gandengan tangan satu sama lain yang begitu kokoh saat mana ada masalah seberat apa pun. Ayah dan ibu yang mengayomi anak-anak, memeluk mereka erat-erat.

 

Pondasi yang tidak terlihat sangat penting untuk membuat rumah tetap berdiri teguh. Semakin tinggi bangunan itu, maka pondasinya pun harus semakin menghujam ke dalam tanah. Apa yang jadi pondasinya? Melakukan Firman Tuhan. Suami dan ayah yang melakukan Firman, isteri dan ibu yang melakukan Firman, anak-anak yang melakukan Firman. Ketika semua anggota keluarga melakukan Firman Tuhan, pastinya pondasi rumah itu menjadi kokoh dan kuat.

 

Dinding-dindingnya adalah batas antar ruang. Batas adalah disiplin yang harus dibangun tinggi. Harus ada batasan-batasan dalam keluarga. Batas-batas kesopanan, kepantasan, hak dan tanggung jawab, dan masih banyak lagi.

 

Tempat tidurnya adalah impian-impian yang dibangun untuk menata masa depan. Doa dan harapan yang dilayangkan ke surga untuk masa depan keluarga. Tentunya masa depan yang memuliakan nama-Nya. Untuk membuat impian jadi nyata maka setelah bermimpi kemudian  bangun, bangkit dan berjuang.

 

Kebun di halaman adalah semua benih yang ditanamkan, dirawat dengan pupuk, disiram dengan cinta, sampai membuahkan karakter-karakter emas. Benih-benih cinta kasih, benih-benih kejujuran, keterbukaan, pengampunan, penerimaan, dan semua benih unggul lainnya. Memang tidak langsung terlihat seketika buah-buahnya, tetapi tanpa kita sadari, waktu berlalu begitu cepat dan membuat semua benih itu kini menghasilkan panenan. Mungkin panenan itu pada anak kita, atau bahkan pada cucu kita. Sebagaimana benih iman dari Luis ditanamkan pada Eunike dan sampailah pada Timotius.

 

Pintu-pintunya adalah keterbukaan, kemauan untuk dikoreksi, ditegur, diarahkan. Biarkan Tuan Rumah, yaitu TUHAN, Sang Pemilik keluarga itu, yang bebas keluar masuk ke pintu ruang mana pun. Ijinkan Dia menyelidiki tiap ruang, siapa di sana, apa yang dilakukan, bahkan apa yang dipikirkan dan tersembunyi di dalam hati setiap anggota keluarga.

 

Dapurnya adalah dapur penuh bumbu-bumbu cinta kasih. Canda tawa yang lepas, tidak ada sindiran yang menyakitkan hati. Ketika sebuah masakan kurang asing, gampang saja, tinggal tambahkan garam. Ketika anggota keluarga melakukan kesalahan, gampang saja, berikan ruang yang lebar untuk memberinya maaf dan kesempatan. Tambahkan dia garam.

 

Kamar mandinya adalah tempat untuk membersihkan semua debu di kaki, atau keringat yang menempel. Ketika kita selalu melepaskan pengampunan, pada saat itu kita seperti baru saja keluar dari kamar mandi dalam keadaan bersih.

 

Tidak ada keluarga yang sempurna, karena keluarga adalah kumpulan orang-orang yang tidak sempurna yang sudah diikat dalam janji nikah dan kemudian melahirkan generasi-generasi ilahi.

 

Yang ada adalah, keluarga-keluarga yang terus mau dibentuk semakin lama semakin serupa dengan Kristus. Amin. Kami mau.

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: